Saham Sentul City Jadi "Bulan-Bulanan"

Imbas Tersandung Hukum

Kamis, 02/10/2014

NERACA

Jakarta – Ditahannya Direktur Utama PT Sentul City Tbk (BKSL) Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung mengempaskan laju perdagangan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Diawal perdagangan Rabu (1/10), saham Sentul City langsung dibuka anjlok 12,7%.

Bahkan sahamnya terus bergerak di zona merah, berlainan arah dengan saham-saham perusahaan properti lain. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, saham Sentul City masih jatuh 7 poin (6,93%) ke level Rp 94 per lembar dari posisi kemarin di Rp 101 per lembar.Sahamnya cukup aktif diperdagangkan.

Tercatat 2.833.202 lot sahamnya ditransaksikan 2.888 kali dengan nilai Rp 26,3 miliar sampai siang hari ini. Harga rata-rata saham BKSL ditransasikan di Rp 92,9 per lembar.Pelemahan saham BKSL ini terjadi saat saham-saham properti lain menguat, seperti PT Adhi Karya tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), dan lain-lain.

Menurut analis PT Samuel Sekuritas Muhammad Al Fatih, kasus yang telah menimpa Dirut PT Sentul City Tbk akan terus berdampak pada kinerja saham perseroan di pasar bursa,“Kasus tersebut kan bermula pada Mei 2014, saat sedang pemeriksaan saja saham sentul city telah mengalami penurunan sampai 82. Kemudian ada perbaikan hingga mencapai 136. Tentunya akan berdampak negatif dari pergerakan saham Sentul City,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia menyatakan, hal yang mendasari efek negatif tersebut karena pihak manajemen Sentul City terkena kasus hukum dan pengelolaan dari perusahaan akan semakin dipertanyakan. “Artinya manajemen dari Sentul City tidak benar. Hal itu akan beresiko terhadap investor dan membuktikan bahwa para investor sangat memperhatikan jika emiten terlibat dalam suatu kasus. Mau tidak mau ya investor memang harus memperhatikan," tuturnya.

Untuk mengantisipasi harga saham Sentul City yang akan berefek negatif, Fatih menyarankan agar pihak menejemen Sentul City bisa mengambil tindakan cepat atas kejadian tersebut. “Harus mengambil tindakan cepat. Harus diganti dan penggantinya juga yang memang orang benar dan bersih,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah kasus ini akan berdampak panjang, Fatih menilai hal itu tergantung terhadap kinerja dari perusahaan. “Laporan keuangannya akan seperti apa dan penjualan juga seperti apa. Apakah kedua faktor tersebut menurun, maka tentu dampaknya akan cukup lama,”tandasnya.

Sementara analis dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe pernah bilang, harga saham PT Sentul City Tbk akan bergejolak dan terkoreksi seiring kasus yang menimpa perseroan. Gejolak ini, kata Kiswoyo, memang membuktikan bahwa para investor sangat memperhatikan jika emiten terlibat dalam suatu kasus. "Mau tidak mau ya investor memang harus memperhatikan," tuturnya.

Imbas dari kasus dugaan suap tersebut, tidak hanya merontokkan saham perseroan tetapi juga performance kinerja keuangan. Tengok saja pada kuartal pertama, pendapatan neto perseroan turun sebesar 48,48% menjadi Rp123,83 miliar, dibandingkan dengan pendapatan neto tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar Rp240,38 miliar.

Asal tahu saja, penahanan Dirut Sentul City oleh KPK dilakukan menyusul ditetapkannya Cahyadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengajuan rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare (Ha) di Kabupaten Bogor oleh PT Bukit Jonggol Asri. (bari)