Subsidi BBM Ibarat Menggarami Air Laut

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo mengungkapkanpemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini seperti menggarami lautan. Pasalnya, mereka yang menerima subsidi sebenarnya adalah masyarakat yang mampu. Selain itu, subsidi yang telah diberikan selama ini tidak menghasilkan apapun.

Padahal subsidi untukBBMsaat ini sudah telalu besar. Ia pun memberikan perumpamaan, seandainya masyarakat Indonesia puasa mengkonsumsi BBM subsisi satu hari saja maka dana subsidi tersebut sudah bisa digunakan untuk membangun bandara.

"Subsidi kita Rp 300 triliun bisa bikin 300 bandara.Bandara semarang butuh Rp 1,2 triliun. Jadi satu hari puasa beres," kata Susilo, di, Jakarta, Rabu (1/10).

Ia mengakui subsidi BBM sudah terlalu membebani pemerintah saat ini, karena itu subsidi tersebut harus dikurangi dengan cara menaikan harga. "Pemerintah yang baru dan lama sepakat subsidi BBM harus dikurangi subsidi BBM itukill us," tuturnya.

Menurutnya, dengan kenaikan hargaBBM, pemerintah bisa mengalihkan subsidi ke sektor lain seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Tidak seperti saat ini subsidi BBM habis dibakar di jalan dan tidak ada hasil.

"BBM harus dikurangi supaya pemerintah bisa bangun infrastruktur kesehatan, jalan kereta api, infrastruktur perhubungan, sehingga gerkan masyarakat lebih baik, Kalau sekarang dibakar, ibaratnya kaya garamin laut seberapa saja garamnya dipake laut tetap asin," paparnya.

Sebelumnya, menurut anggota Tim Transisi Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pemerintah baru dipastikan akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp3.000 per liter. Kenaikan tersebut, akan dilakukan pada November 2014 mendatang.langkah menaikkan harga BBM subsidi dilakukan lantaran upaya menekan angka defisit pada neraca keuangan Indonesia.

"Sudah diputuskan (harga BBM) menjadi Rp3.000 per liter. Diharapkan bulan November atau setelah pelantikan sudah naik. Dengan begitu kekhawatirancashflow deficitdihindarkan," ungkapnya.

Adapun hasil dari kenaikan harga subsidi tersebut nantinya akan dialihkan untuk anggaran yang lebih penting seperti infrastruktur, kesehatan dan pendidikan.Selain itu, kenaikan harga BBM juga memang sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Pasalnya, ruang gerak fiskal pada pemerintahan baru hanya diberikan sedikit atau minim anggarannya."Saya kira tidak mungkin kalau tidak naik. Karena ketika menjabat adacarry overyang memang harus dibayar untuk tahun depan. Otomatis kenaikan ini memang perlu dilakukan," tuturnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Ternyata, LCGC Tidak Cocok Memakai BBM Jenis Ini

Ternyata, LCGC Tidak Cocok Memakai BBM Jenis Ini NERACA Jakarta - Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat kelas menengah dimanjakan kehadiran…

Advance : Air Kemasan Botol Belum Tentu Aman

    NERACA   Jakarta – Masyarakat lebih memilih air kemasan botolan yang siap untuk diminum lantaran murah dan mudah.…

Saluran Air Mampet Akibat Sampah Pasar

Sudah lama saluran air yang sering mampet di tempat kami di RT 10 RW 07, Cakung Barat, Jakarta Timur, yang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pangkas Pajak UMKM, Jokowi Inginkan UMKM Tumbuh

    NERACA   Surabaya - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap dengan penurunan pajak penghasilan (PPh) final untuk Usaha Mikro,…

LRT Palembang Beroperasi Juli 2018

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perhubungan memastikan kereta ringan (light rail transit/LRT) di Provinsi Sumatera Selatan akan…

PemprovJabar Percepat Pembebasan Lahan Tol Bocimi

      NERACA   Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan akan ikut mempercepat proses pembebasan lahan di seksi…