September Sumbang Inflasi 0,27%

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik merilis laju inflasi pada September 2014 sebesar 0,27%, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,47%. Adapun laju inflasi secarayear on year(yoy) atau untuk periode September 2013 hingga September 2014 tercatat 4,53%. Sedangkan laju inflasi secara tahun kalender (year to date/ytd) tercatat 3,71%.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, inflasi September lebih kecil jika dibandingkan enam bulan terakhir merupakan level terendah ketiga. "Kecuali pada bulan September 2011 mencapai 0,27% alias sama. Tahun 2009 sekitar 1,05%, kemudian angka inflasi September 2010 sekitar 0,44% dan September 2012 sekitar 0,01% dan tahun 2013 justru mengalami deflasi sebesar 0,35%," katanya, di Jakarta, Rabu (1/10).

Komponen inti pada September 2014 mengalami inflasi sebesar 0,46%, tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Agustus 2014 terhadap Agustus 2013) sebesar 4,04%. Dari 82 kota, lanjut Suryamin, tercatat 64 kota kota mengalami inflasi dan 18 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 1,29% dan terendah terjadi di Gorolontalo 0,03%. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tual 0,89%.

Menurut dia, penyumbang terbesar dari realisasi inflasi ini mulai dari kenaikan harga bahan pangan hingga biaya pendidikan. Setidaknya ada empat pengeluaran yang berkontribusi adanya inflasi. Pertama, kelompok perumahan, air listrik gas dan bahan bakar sebesar 0,77 persen. Kedua, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,68 persen. Ketiga, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,51 persen. Lalu kelompok kesehatan 0,29 persen.

"Akibat kenaikan harga elpiji dan tarif listrik mengerek inflasi di sektor perumahan, listrik, gas dan bahan bakar. Dan dampaknya juga kena ke makanan jadi, rokok, minuman, tembakau. Sedangkan di kelompok pendidikan, karena biaya pendidikan naik di tahun ajaran baru," ucapnya.

Sementara kelompok bahan makanan, kata Suryamin, terjadi deflasi 0,17 persen seperti bawang merah, ikan, daging dan jengkol yang mencatatkan peningkatan produksi atau suplai sehingga harga jualnya menjadi lebih stabil.

Deflasi juga terjadi di kelompok sandang dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing 0,17 persen dan 0,24 persen. Deflasi di kelompok sandang karena harga emas perhiasan mengalami penurunan.

berikut item yang menimbulkan inflasi yaitu Cabai merah dengan kontribusi inflasi 0,09 persen dan perubahan harga 26,7 persen karena pasokan berkurang di sentra produksi. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Semarang 93 persen dan Sumenep 90 persen. Bahan bakar rumah tangga, andil inflasi 0,08 persen dengan perubahan harga 5,04 persen karena Pertamina menaikkan harga elpiji 12 Kg. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Sampit 12 persen dan 11 persen di Pare-pare.

Kemudian Tarif listrikdengan andil inflasi 0,05 persen dan perubahan harga 1,71 persen karena Menteri ESDM menaikkan tarif listrik. Kenaikan listrik pra bayar di 81 kota IHK mulai dari 0,5 persen-5,53 persen. Beras menyumbang inflasi 0,02 persen dan perubahan harga 0,38 persen. Musim paceklik di 51 kota membuat kota Padang dengan kenaikan harga tertinggi 5 persen dan Bukit Tinggi 4 persen

Dan pendidikan dengan andilinflasi0,02 persen atau perubahan harga 1,65 persen. Karena ajaran baru, sehingga biaya pendidikan naik. Di Singaraja kenaikannya mencapai 16 persen dan Balikpapan 15 persen. [agus]

Related posts