Waspadai Ancaman Kenaikan Suku Bunga

Dana Asing Bisa Keluar

Kamis, 02/10/2014

NERACA

Jakarta - Indonesia memang memiliki kondisi perekonomian yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sayangnya, kondisi perekonomiannya masih rapuh dan tidak cukup kuat untuk menahan arus dana asing yang keluar.Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo mengungkapkan, dana asing bisa saja keluar jika bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed, menaikkan suku bunga acuannya. Dia menilai, paling tidak ada empat sumber kerentanan dalam perekonomian Indonesia.

"Pertama yakni transaksi berjalan Indonesia yang saat ini masih mengalami defisit," katanya di Jakarta, Rabu (1/10).Selain itu, dia menyoroti masalah utang yang dinilai sudah cukup tinggi. Utang eksternal pun sudah mencapai 31% dari Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB).

Sementara yang ketiga, adalah nasalah inflasi yang masih rentan melonjak. Dia menambahkan, memang saat ini inflasi masih stabil di level empat persen. "Tapi dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi akan melonjak tinggi," tambahnya.

Sedangkan masalah yang terakhir, yakni dari fiskal Indonesia yang masih belum stabil. Dia menjelaskan, saat ini primary balance Indonesia memang masih negatif."Untuk APBN memang menggunakan penerimaan negara, tapi karena lebih kecil, jadi pakai utang. Jadi untuk bayar bunga, sudah pakai penarikan pokok," papar Agus Marto.

Ungkapan senda juga pernah diungkapkan oleh Menteri Keuangan Chatib Basri menurutnya pemerintah baru harus mengantisipasi beberapa risiko terhadap fiskal yang harus diantisipasi di sepanjang 2015. Yang pertama adalah mengenai kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat atau the Fed, yang diprediksi akan menaikan hingga 100 basis poin (bps).

Dirinya menyebut salah satu risiko terhadap fiskal yang harus diantisipasi sepanjang tahun 2015 nanti yakni rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, yang dikabarkan akan menaikan suku bunganya hingga 100 basis poin.

"Ini risiko penting yang harus siap dihadapi di tahun 2015 dan harus dijaga dalam APBN 2015," kata Chatib. Dia juga menjelaskan, jikalau benar The Fed menaikkan suku bunga dengan begitu negara berkembang seperti Indonesia akan terpengaruh dan akan membuat sektor banking lemah.

Antisipasi yang harus dilakukan, imbuh Chatib, adalah kebijakan moneter. Karena apabila moneter terlalu ketat perbankan semakin lemah.Selain suku bunga, lanjut Chatib, risiko yang perlu diantisipasi pada 2015 adalah mengenai melemahnya pertumbuhan ekonomi China yang otomatis akan mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia yang juga menjadi mitra dagang.

"Kalau pertumbuhan ekonomi China melambat, harga komoditas turun, dan bisa muncul di defisit neraca perdagangan dan penerimaan pajak," tukasnya. Di mata pengamat ekonomi Universitas Padjajaran, Ina Primiana, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8% dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 merupakan angka yang cukup realistis.

Namun akan ada ancaman besar di tahun depan yaitu mengenai berencana menaikan suku bunga yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserved (The Fed) pada akhir tahun 2015. Menurut Ina, selama ini banyak investor dalam menjalankan usahanya dari pinjaman luar negeri.

Untuk itu perlu ada kebijakan dengan memberikan suku bunga rendah sehingga dana tidak keluar dari Tanah Air. "Harus ada sinergi kebijakan BI dan Kementerian Keuangan dan Kementeria Perindustrian. Sektor mana yang didukung suku bunga rendah," pungkasnya. [agus]