Dalam Lima Tahun, Ekspor Batik Naik Tajam

Kamis, 02/10/2014

NERACA

Jakarta – Sejak ditetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) pada 2009 lalu, ekspor batik kian melejit. Pada 2008, nilai ekspor batik nasional hanya mencapai US$ 32 juta. Sementara pada 2013 lalu, ekspor batik nasional telah mencapai US$300 juta. “Periode 2008 hingga 2013, ekspor batik Indonesia meningkat,” ujar Dirjen Industri Argo Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto di Jakarta, Selasa (30/9).

Penggah mengatakan bahwa sasaran ekspor batik Indonesia diantaranya adalah Amerika Serikat, Jerman dan Korea Selatan. Ia juga menegaskan pihaknya bersama dengan instansi terkait bakal terus berupaya meningkatkan pembinaan dan pengembangan batik nasional. Caranya melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan, bantuan tenaga ahli desain, fasilitas akses permodalan dan bantuan peralatan.

Dia melihat bahwa batik mempunyai potensi untuk mewujudkan peningkatan perekonomian nasional. “Industri batik merupakan salah satu sektor yang mempunyai kedudukan, potensi dan peran strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional,” ucapnya.

Selain itu, pemerintah juga turut memberikan perlindungan bagi hasil kerajinan batik. Perlindungan hukum tersebut dituangkan dalam Undang-Undang No. 19/2002 tentang hak cipta yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penggunaan atau pemanfaatan budaya tradisional Indonesia khususnya seni batik tradisional yang dilakukan oleh pihak asing tidak bertanggung jawab.

“Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia dan identitas bangsa. Hal yang paling mendasar dalam upaya melestarikan seni batik, batik kontemporer dan batik tradisional dengan memberikan penghargaan berupa perlindungan bagi para pembatik atas hasil karya intelektualnya,” tambah Panggah.

Peningkatan penggunaan produk batik juga harus dilakukan oleh pejabat negara ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. “Kami mengimbau agar pejabat negara memakai produk batik jika melakukan kunjungan kerja ke lau negeri. Upaya tersebut harus dilakukan demi mempromosikan produk dari Indonesia,” kata Sesditjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Busharmaidi.

Perlu di SNI

Humas Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur Ririn Asih Pindari menyatakan dengan semakin tumbuhnya produk batik di Indonesia menjadi penting penerapan SNI untuk produk batik. Dalam penerapan SNI tersebut, terdapat berbagai kategori batik diantaranya batik budaya, batik industry dan batik kreatif. Semakin tumbuhnya industri batik di Indonesia dengan secara nasional, pertumbuhan industri batik berbanding dengan tumbuhnya industri kreatif fashion, yaitu sekitar 7 hingga 8%.

Hal ini menjadikan kewajiban bagi para perajin batik yang tergabung dalam asosiasi perajin batik Jawa Timur untuk terus mendorong anggotanya dalam mengurus SNI atau Standar Nasional Indonesia. Penggolongan SNI untuk batik ini digolongkan dari berbagai kategori seperti batik budaya yang merupakan batik dengan menggunakan media kain dan dengan proses menggunakan canting dan cat, perintangnya malam.

Kedua adalah batik industri dengan ciri khas menggunakan mesin printing yang menggunakan banyak tenaga kerja dan mesin printing. Sedangkan ketiga adalah batik kreatif yang dikatakan membatik di segala media. Dalam produk batik ini, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri seperti untuk daerah Jawa Timur lebih pada penggunaan warna batik yang alami dan desain ikon Jawa Timur. “Ikon Jatim itukan bungan Lutos dan ayam Bekisar, dan tapi juga bisa tergantung dari kekhasan masing-masing daerah,” ujarnya.

Dengan telah menyeluruhnya SNI, pihaknya yakin batik Indonesia mampu bersaing dengan produk berbasis kain yang lain, seperti tekstil. Sebab sudah ada standar kualitas batik yang jelas bahkan untuk ekspor akan semakin menyebar keberbagai negara.

Selama ini permintaan ekspor batik keluar negeri masih terkendala tidak ada kualitas baku yang menjadi pedoman, minimnya SDM serta faktor pembiayaan. Pihaknya berharap badan yang memberi sertifikat SNI tidak hanya terpusat di Jakarta tetapi menyebar di berbagai daerah, terutama di sentra-sentra batik sehingga semakin banyak produk batik yang sesuai standar.