Impor Migas, Neraca Perdagangan Agustus Defisit US$318 Juta

Kamis, 02/10/2014

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2014 mengalami defisit sebesar US$318,1 juta. Hal itu disebabkan tekanan dari sisi importasi migas yang mengalami kenaikan. Sementara pada Juli 2014 neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 0,13 miliar Tingginya defisit pada sektor migas senilai US$ 801 juta menjadi pemicu defisit perdagangan Indonesia.

“Ini defisit ke-4 sejak awal tahun. Pada Januari neraca perdagangan Indonesia defisit 0,45%, April sebesar 1,97%, Juni 0,29%, dan sekarang 0,31%. Jika dilihat dari sisi non-migas, hanya terjadi satu kali defisit namun defisit dari sektor migas memang lebih tinggi,” kata Kepala BPS, Suryamin, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/10).

Suryamin menjelaskan, kinerja ekspor pada Agustus 2014 mencapai US$14,48 miliar, sementara impor menyentuh US$14,79 miliar sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan sebesar US$318,1 juta. Sementara dari sisi volume, neraca perdagangan Agustus 2014 mengalami surplus sebesar 31,8 juta ton, di mana ekspor mencapai 43,47 juta ton, sedangkan impor sebanyak 11,67 juta ton.

Dilihat dari sisi neraca peradagangan migas, mengalami defisit sebesar US$801,1 juta, sementara neraca perdagangan minyak mentah mengalami defisit sebesar US$314,5 juta, hasil minyak defisit cukup besar senilai US$1,8 miliar, kendati neraca gas mengalami surplus sebesar US$1,3 miliar. “Tingginya defisit pada sektor migas menjadi pemicu defisit perdagangan Indonesia, meski neraca perdagangan non-migas mengalami surplus sebesar US$483 juta,” kata Suryamin.

Jika dilihat dari sisi volume perdagangan, pada Agustus 2014 neraca volume perdagangan mengalami surplus sebesar 31,80 juta ton, yang disorong oleh surplus neraca sektor non-migas sebesar 31,98 juta ton meski sektor migas mengalami defisit 0,18 juta ton. Secara akumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2014 mengalami defisit sebesar US$1,4 miliar, yang disebabkan oleh defisit neraca migas Januari-Agustus 2014 yang mencapai US$8,58 miliar.

Terus Berlanjut

Menurut pengamat ekonomi Iman Sugema, defisit neraca perdagangan akan terus berlanjut mengingat kondisi pemerintahan yang akan segera lengser kurang fokus meningkatkan ekspor sehingga bukanlah menjadi prioritas. “Saya rasa akan terus mengalami defisit. Karena impor BBM semakin meningkat dan tidak ada tindak lanjut atau aksi yang dilakukan oleh pemerintah,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa cara pemerintah dengan membatasi pembelian BBM bersubsidi di tol dan pada jam tertentu belum memberikan efek positif bagi konsumsi BBM. Karena, masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna BBM bersubsidi. “Seharusnya cara yang tepat untuk mengatasi defisit nereca perdagangan adalah dengan pengendalian subsidi. Selama masih dikendalikan oleh para mafia-mafia, maka selama itu pula impor akan tetap dilakukan,” katanya.

Menaikkan harga, menurut dia, belum cukup untuk membuat defisit neraca perdagangan semakin mengetat. Meskipun harga dinaikkan tetapi masih banyak yang menggunakan BBM bersubsidi maka hal itulah menjadi percuma. “Misalnya PLN masih mengandalkan BBM untuk menggerakkan pembakitnya. Padahal masih banyak energi alternatif lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti gas dan batubara yang Indonesia memiliki kekayaan akan kedua energi tersebut,” jelasnya.

Pengamat ekonomi FEUI Eugenia Mardanugraha mengatakan, secara kumulatif, defisit neraca perdagangan semester I-2014 membesar menjadi US$1,16 miliar maka nilai tukar rupiah akan ikut melemah, bahkan bisa mencapai Rp12.000 per US$. Nilai impor masih tinggi yang menyebabkan permintaan atas dolar AS akan meningkat membuat nilai tukar rupiah melemah.

“Meski ekspor mengalami peningkatan ekspor, namun nilai impor juga mengalami peningkatan yang cukup tinggi sehingga mencatatkan defisit neraca perdagangan. Nilai impor harus segera ditekan oleh pemerintah sehingga tidak mengalami peningkatan yang tinggi,” kata dia.

Menurut dia, dalam menanggulangi atau mengurangi defisit neraca perdagangan maka produksi dalam negeri harus ditingkatkan sehingga nilai impor bisa berkurang. Kemudian pemerintah harus bisa menyadarkan kepada masyarakat yang kerap menyukai barang atau produk impor untuk tidak mengkonsumsi produk impor yang berlebihan.

Eugenia mengharapkan kepada pemerintahan baru dan pemimpin yang mempunyai sosok kesederhanaan maka akan bisa mengajak masyarakat untuk berkehidupan sederhana serta tidak tergantung kepada produk impor. Memang dalam sisi konsumen atau masyarakat Indonesia sangat menyukai barang-barang impor, namun pola berpikir itu harus diubah.

Dia pun menjelaskan kebijakan impor BBM besar-besaran untuk mengamankan pasokan BBM, misalkan pada saat lebaran merupakan kebijakan yang tidak bijak. Hal ini membuat defisit neraca perdagangan terus membengkak akibat tingginya impor migas, terutama minyak.

“Saya setuju terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi untuk mengurangi defisit neraca perdagangan, namun tergantung naiknya berapa harga BBM bersubsidi tersebut atau apakah masyarakat akan beralih kepada angkutan umum dan mengurangi penggunaan mobil mewah sehingga impor minyak dapat ditekan,” ungkap Eugenia.