Perlu Dicegah Dampak Kesenjangan Proyek MP3EI

Bappenas Bentuk Tim Internal

Kamis, 25/08/2011

NERACA

Jakarta---Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) mengaku sedang membentuk tim internal guna meminilisir dampak kesenjangan pembangunan proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). “Tentu dari MP3EI juga memperhatikan aspek kesenjangan,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana kepada wartawan di Jakarta,24/8

Menurut Armida, yang paling penting dari proyek MP3EI ini adalah bagaimana program MP3EI justru menimbulkan efek positif bagi kehidupan masyarakat, misalnya tersedianya lapangan kerja. Sehingga mengurangi kemiskinan. “Jadi bagaimana dari proyek-proyek yang ada itu bisa menciptakan multi player project. Adakan pro growth pro job dan pro poor, nah itu tugas Bapennas,” imbuhnya

Armida menambahkan tim internal yang dibentuk Bappenas ini memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai penghubung antara proyek MP3EI dengan program Rencana Kerja Pemerintah (RKP). ”Tapi di internal Bappenas juga ada tim khusus, tim conectiviti, tim yang akan mensinergikan program MP3EI dengan program-program RKP,” terangnya

Sementara fungsi kedua, tim internal ini diharapkan bisa menjadi tim yang bisa menghubungkan antara program MP3EI dengan masyarakat. Armida mengutarakan, dengan adanya tim khusus ini diharapkan program-program MP3EI bukan sekedar program yang bisa dinikmati golongan tertentu.

Ditempat terpisah, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan, MP3EI yang dimaksudkan untuk mempercepat ketertinggalan pembangunan Indonesia timur, hanyalah proyek mimpi belaka. Padahal MP3EI ini dinilai hanyalah kompensasi atas gagalnya pemerintah memenuhi target pembangunan jangka pendek

Lebih jauh kata mantan Komisioner KPPU ini memberi contoh, pembangunan wilayah Indonesia timur untuk koridor Bali NTT misalnya, justru tidak mendukung dengan apa yang dibutuhkan daerah-daerah tersebut. "Lihat saja, berdalih dengan pertimbangan segala macam, justru proyek infrastruktur pelabuhan tidak masuk dalam MP3EI, padahal sangat penting bagi pembangunan kawasan itu," ujarnya

Bahkan dalam amanatnya, proyek pembangunan jangka panjang itu, tidak ada yang diarahkan untuk perbaikan sarana transportasi laut di wilayah timur yang sangat memiliki arti strategis dalam menggerakkan perekonomian. Karena itu, ia mengkritik jika MP3EI, sebenarnya hanya merupakan kompensasi dari kegagalan target pemerintah dalam jangka pendek.

Faisal menyebutkan, target pemerintah jangka pandek seperti mengatasi pengangguran, kemiskinan, kerusakan lingkungan, yang gagal diwujudkan pemerintahan SBY saat ini. Terlebih dengan konsep yang ditawarkan itu, lebih bersifat jangka panjang hingga 15 sampai 30 tahun ke depan, sehingga tidak menjawab kebutuhan saat ini.

Yang diminta rakyat, bagaimana SBY melakukan apa-apa untuk membantu memulihkan keadaan sekarang. Jadi, tidak perlu lagi berbicara jangka panjang sampai 30 tahun lagi, sebaliknya ke hal yang riil saat ini. "Dia hanya menghindar masalah dengan janji-janji misalnya, Indonesia akan menjadi negara lima besar di dunia 25 tahun lagi. Buat apa sih, berantas saja korupsi beresi Partai Demokrat supaya lebih bersih, itu jauh lebih penting ketimbang bicara jangka panjang, itu hanya mimpi," pungkasnya. **salim