Bulog Menerapkan Sistem Modern

Jaga Kualitas Raskin

Rabu, 01/10/2014

NERACA

Jakarta - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Divisi Regional DKI Jakarta - Banten mengaku telah menerapkan sistem penyimpanan beras bagi keluarga miskin (raskin) secara modern agar kualitas komoditas utama pangan tersebut tetap terjaga ketika disalurkan.

Kepala Divisi Regional Bulog DKI Jakarta - Banten, Achmad Ma'mun menuturkan, sistem penyimpanan tersebut mengacu seperti yang diterapkan di Thailand dan Vietnam, yakni dengan teknik CO2 stek, di mana tumpukan ribuan karung raskin dikemas di dalam plastik yang diberi gas fumigant (berantas hama dengan pestisida). Dengan cara seperti ini, beras raskin yang nantinya akan disebar ke masyarakat bebas kutu dan mikro organisme lainnya.

“Kami sudah laksanakan ini (teknik CO2 stek) sejak awal tahun 2014. Dengan metode dan cara tersebut biaya pemeliharaan semakin rendah, karena biasanya penyimpanan dilakukan dengan teknik penyemprotan (spraying) dan fumigasi. Sementara kalau memakai sistem yang baru ini maka setiap 15 hari sekali di cek. Sedangkan plastik akan dibuka setiap 7-10 hari sekali,” jelasnya, di Jakarta, Selasa (30/9).

Pada kesempatan tersebut, Ma’mun mengemukakan bahwa Bulog menjamin beras raskin yang tidak layak konsumsi di wilayah DKI Jakarta dan Banten bisa langsung ditukarkan ke gudang Bulog yang berada di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan demikian, lanjut dia, masyarakat penerima manfaat program beras raskin tetap menerima beras yang sesuai dengan standard.

"Kalau sudah mengalami perubahan kualitas dan keluhan dari masyarakat akibat beras raskinnya buruk, kami akan mengganti langsung," ungkap Ma’mun, mempertegas. Menurut dia, beras raskin yang tidak sesuai dengan standard ini nantinya akan kembali diolah dengan sebuah mesin khusus yang berada di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta - Banten.

Sementara itu, Achmad Ma’mun juga mengaku bila Bulog Divisi Regional DKI Jakarta - Banten mampu melakukan pengadaan beras dari dalam negeri selama 2014 di mana hingga September ini pengadaannya mencapai 51,5 juta ton. Volume pengadaan sebanyak itu terdiri atas beras sebanyak 49,9 juta ton, dan gabah 1,6 juta ton.

"Kami menargetkan pengadaan beras dari dalam negeri untuk tahun ini sebanyak 90 juta ton," kata Ma'mun. Dia mengatakan pencapaian terbesar pengadaan beras dalam negeri tersebut, yakni Subdivre Lebak, Banten sebanyak 19,2 juta ton dari target 35 juta ton, kemudian Subdivre Tangerang, Banten 17,2 juta ton dari target 29 juta ton.

Selanjutnya Subdivre Serang, Banten 12,3 juta ton dari target 19 juta ton, sedangkan Divre DKI Jakarta dari target pengadaan sebanyak tujuh juta ton hanya terealisasi satu juta ton. Menurut Ma’mun, jika dibandingkan realisasi pengadaan beras pada 2013, untuk tahun ini mengalami penurunan sebesar 76 juta ton.

Mengenai ketersediaan beras di gudang Bulog DKI Jakarta, Ma'mun mengatakan, untuk saat ini sebanyak 74.006 ton. Selain itu, terdapat beras komersil eks.Vietnam sebanyak 15.249 ton dan dalam perjalanan eks.pemasukan beras luar negeri 21.700 ton. "Jadi stok operasional PSO (public service obligation/subsidi dari pemerintah) yang dikuasai sebesar 95.706 ton. Adapun rata-rata penyaluran beras per bulan sebanyak 11.289 ton. Jadi stok beras tersebut cukup untuk sekitar 8,5 bulan penyaluran,” tandasnya. [ardi]