OJK Surati 2.600 Perusahaan Jasa Keuangan

Tingkatkan Literasi Keuangan

Rabu, 01/10/2014

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berusaha meningkatkan pengetahuan mengenai literasi keuangan, salah satunya dengan mewajibkan perusahaan jasa keuangan memberi pendidikan kepada masyarakat, minimal satu tahun sekali,”Kami harapkan pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai sistem keuangan dapat meningkat dengan pendidikan-pendidikan tersebut," kata Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Sri Rahayu Widodo di Jakarta, Selasa (30/9).

Literasi keuangan adalah kemampuan untuk memahami pengetahuan serta keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan untuk mencapai kesejahteraan. Untuk itu, dia mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada 2.600 perusahaan jasa keuangan yang berada di bawahnya, dan mereka berkewajiban melakukan pendidikan mengenai literasi keuangan kepada masyarakat.

Hingga saat ini, dia mengatakan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK, lebih dari 75% masyarakat Indonesia belum memenuhi standar literasi keuangan.

Meskipun demikian, dia optimistis kemampuan literasi keuangan masyarakat indonesia akan terus naik kedepannya melalui beberapa program yang dia terapkan,”Kami juga melakukan kerja sama dengan Kemendikbud dengan melakukan pengkayaan mata pelajaran ekonomi untuk kelas 10, serta memberikan pelatihan untuk guru-guru," katanya.

Selain itu, dia menambahkan pihaknya juga terus aktif memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat untuk memahami literasi keuangan. Sementara ekonom BNI, Ryan Kiryanto menambahkan, rendahnya literasi keuangan di Indonesia menjadi pekerjaan rumah bagi OJK untuk meningkatkan daya saing industri keuangan dalam negeri.

Menurut Ryan, indikator rendahnya literasi keuangan di Indonesia dapat dilihat dalam dua aspek. Pertama, dilihat dari rasio loan kepada GDP yang hanya sekitar 33%. Kedua, funding terhadap GDP baru sekitar 35%. Kedua angka ini perlu ditingkatkan di masa-masa mendatang,”Tapi, ini indikasi Indonesia benar-benar punya potensi untuk tumbuh dan berkembang. Tapi, karena tingkat kesadaran rendah maka ini jadi PR berat OJK untuk lakukan edukasi kepada masyarakat”, ungkapnya.

Menjadi Tantangan

Ryan berpendapat, beratnya PR OJK dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan. Artinya, tingkat pemahaman masyarakat akan industri jasa keuangan berbeda-beda, sehingga perlu dilakukan usaha keras agar tingkat literasi keuangan naik.“OJK tidak bisa berjalan sendiri. Harus bergandengan tangan dengan industri. Dengan dukungan teknologi dan perangkat media yang masif bisa membantu pemahaman masyarakat untuk berinteraksi dengan industri jasa keuangan”, pungkasnya.

Menyadari masih rendahnya daya saing industri keuangan dalam negeri, tidak bisa lepas dari rendahnya literasi keuangan di Indonesia, memicu PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) perusahaan asuransi di Indonesia untuk terus mengedukasi literasi keuangan kepada masyarakat sejak dini. Pentingnya, meningkatkan kecerdasan finansial sejak dini dikarenakan anak-anak saat ini tumbuh di dunia yang semakin kompleks, yang pada akhirnya mereka perlu untuk mengambil alih masa depan finansial mereka sendiri.

Bagi Penasihat International Association of Registered Finansial Counsultan Indonesia Chapter, Godo Tjahjono menuturkan bahwa kecerdasan dan keterampilan finansial adalah modal yang sangat penting untuk survive dalam ketidakpastian. Oleh karena itu, banyak pelaku jasa keuangan di Indonesia yang menciptakan program untuk membuat generasi muda ‘melek’ dunia keuangan. Salah satunya adalah PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life).

Sebagai perusahaan jasa keuangan, Sun Life memahami bahwa seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial. (bani)