Industrialisasi Ikan Hias di Tulungagung Efektif Serap Tenaga Kerja

Perikanan Budidaya

Rabu, 01/10/2014

NERACA

Tulungagung – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyebutkan, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam ikan hias yang cukup besar. Pemanfaatan potensi ikan hias ini harus digarap serius untuk menjadikan Indonesia sebagai eksportir ikan hias paling utama di ASEAN bahkan di dunia.

“Infrastruktur pengembangan produksi ikan hias harus terus ditingkatkan. Khususnya yang terkait dengan distribusi, transportasi dan juga logistik. Untuk dapat berbicara di era Pasar Bebas ASEAN, kita harus melakukan sinergi seluruh kekuatan dan stake holder yang terkait dengan ikan hias sehingga mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu sampai hilir. Dengan begitu kita akan mampu bersaing dengan negara lain,” kata Slamet Soebjakto saat mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan Kunjungan Kerja di Sentra Ikan Hias Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (30/9).

Menurut Slamet, Kabupaten Tulungagung mempunyai potensi sumber daya perikanan berupa perairan laut, payau, perairan umum dan budidaya ikan air tawar. Kegiatan usaha perikanan dalam memanfaatkan potensi tersebut meliputi cabang-cabang usaha tangkap laut dan perairan umum, budidaya udang di tambak dan budidaya ikan konsumsi maupun ikan hias air tawar di kolam pasangan, kolam tanah yang berupa pekarangan, tegalan, dan sawah.

“Perkembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Tulungagung dikelompokkan pada dua usaha yaitu budidaya ikan hias dan konsumsi. Ikan hias dikhususkan pada ikan mas koki (kaliko, tosa, rasket, mutiara, lion head (kepala singa), mata kantong (mata bola), mas lowo, tekim, spenser, rensil dan 40 jenis ikan hias lainnya), sedangkan ikan konsumsi yang berorientasi pasar adalah dominasi ikan lele, gurami, patin, tombro, nila hitam, dan tawes,” jelasnya.

Pembudidaya ikan hias di Kabupaten Tulungagung sebanyak 2.256 RTP (Rumah Tangga Pembudidaya) dengan jumlah pembudidaya 3.396 orang yang terpusat di Kecamatan Sumbergempol, Kedungwaru, Boyolangu, Tulungagung. Sedangkan Pembudidaya ikan konsumsi sebanyak 10.370 RTP dengan jumlah pembudidaya 12.220 orang, yang tersebar di 12 Kecamatan potensi perikanan, yaitu Ngunut, Rejotangan, Sumbergempol, Boyolangu, Kedungwaru, Ngantru, Tulungagung, Pakel, Kalidawir, Karangrejo, Gondang, dan Kauman. Sedangkan untuk potensi budidaya ikan di air deras berada pada wilayah Kecamatan Pagerwojo dan Sendang.

Budidaya Ikan Mas Koki

Ikan hias hasil budidaya dari Kabupaten Tulungagung menguasai hampir 90% di Indonesia dan malah sebagian sudah diekspor ke negeri tetangga, salah satunya dijadikan sebagai maskot yaitu ikan Mas Koki, strain tosa, dan produk unggulan Kabupaten Tulungagung untuk dikembangkan dengan memenuhi permintaan pasar. Pemasaran ikan hias dan konsumsi dari Kabupaten Tulungagung, meliputi Jakarta, Bali/Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Tegal, Semarang, Surabaya/Juanda, Purwokerto, sebagian Sumatra, Sulawesi, dan untuk ekspor ikan hias telah menjalin hubungan dengan eksportir dari Bali, Surabaya dan Jakarta.

Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang membudidayakan ikan Mas koki salah satunya adalah Kelompok Tirta Kencana Agung, yang diketuai oleh Heri Susanto. Kelompok yang berdiri tahun 2010 tersebut memiliki 27 orang anggota, dan kini sudah memiliki lahan budidaya seluas 6.987 m2.

Berbagai prestasi telah diraih oleh Kelompok Tirta Kencana Agung, diantaranya Juara Kelompok Pembudidaya Ikan Hias baik di tingkat Provinsi Jawa Timur maupun di tingkat Nasional. Jenis ikan Mas koki yang budidayakan diantaranya Tosa, Oranda, Ranchu, Open, dan Ryukin.

Heri menjelaskan, ada tiga segmen pasar yang membeli hasil budidaya ikan Mas koki di kelompoknya, yaitu kelas pasar lokal, kelas penghobi, dan kelas kontes. Untuk kelas pasar lokal ikan Mas koki ukuran 4 inci harganya Rp. 2.000 per ekor, kelas penghobi harganya Antara Rp. 200.000 – Rp. 500.000 per ekor, sedangkan untuk kelas kontes harga bisa melambung menjadi Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 per ekor.

Dari 1 juta ekor ikan Mas Koki yang dipanen oleh Kelompok Tirta Kencana Agung pada tahun 2013 lalu, menurut Heri, 1 persen hasilnya untuk kelas kontes, 20% untuk kelas penghobi, dan sisanya untuk pasar lokal. Di Tahun 2014 ini Heri menargetkan kelompoknya mampu memanen Ikan Mas koki sebanyak 1,5 juta ekor. Omzet ikan hias dari Kelompok Tirta Kencana Agung per tahun mencapai Rp. 1,5 miliar per tahun dengan keuntungan bersih mencapai Rp. 585 juta.

Pengembangan Ikan Hias

Slamet mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan guna menjadikan Indonesia sebagai pengekspor ikan hias terbesar di dunia. “Langkah pertama adalah penguatan produksi dengan cara menyediakan induk-induk unggul ikan hias. Induk unggul dapat di produksi melalui penerapan teknologi sehingga ikan tahan terhadap serangan penyakit dan ikan menjadi lebih menarik. Karena keunggulan yang ditawarkan oleh ikan hias adalah keindahan dan keunikannya. Tugas dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) salah satunya adalah menghasilkan induk unggul ikan hias ini,” kata Slamet.

Slamet menambahkan usaha berikutnya adalah meningkatkan permodalan. “Permodalan sangat dibutuhkan untuk memajukan dan membesarkan suatu usaha budidaya. Peran perbankan diperlukan untuk memberikan suntikan modal kepada para pembudidaya ikan hias. Kita akan terus mendorong perbankan untuk menyentuh pembudidaya ikan hias, karena usaha ini juga memiliki prospek yang cukup bagus,” ungkap Slamet.

Langkah ketiga adalah hillirisasi industri ikan hias. “Kita juga harus perhatikan aspek pemasaran dari produk ikan hias. Tanpa memperhatikan pasar ikan hias, maka produksi yang sudah meningkat dengan kualitas yang bagus akan terhambat karena terkendala dengan pasar dan pemasaran. Jika sektor hulu hingga hillirinya bisa dikuasasi otomatis untuk mencapai target menjadi pengekspor ikan hias terbesar dunia bukan suatu hal yang mustahi,” papar Slamet.

DJPB melalui UPT telah melaksanakan kegiatan budidaya ikan hias antara lain : BBPBAT Sukabumi (koi, maskoki, arwana, cupang, manfish, sumatra, balasark dan coridoras), BBPBL Lampung (kuda laut dan clown fish), BBAT Jambi (arwana, botia, belida, benih jelawat dan benih kapiat), BBAP Situbondo (benih kerapu tikus), BBL Ambon (angel piyama, banggai cardinal, blue devil, mandarin fish dan clown fish), BBAT Mandiangin (koi, komet, arwana dan belida) dan BBAT Tatelu, Sulawesi Utara (siklid, komet, maskoki, dan koi).

Slamet mengatakan bahwa untuk mendukung pengembangan dan penerapan teknologi budidaya ikan hias yang sesuai dengan standar, saat ini telah terbit Standard Nasional Indonesia (SNI) produksi dan pakan ikan hias sebanyak 10 judul (ikan hias coridoras, koi, koki, cupang, discus, black ghost, angle fish, clown fish, arwana super red dan pakan koi). “Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui DJPB mendukung percepatan pencapaian target produksi ikan hias antara lain melalui pengembangan ikan hias berbasis kelompok dan kawasan yaitu kawasan MINAPOLITAN. Bahkan sejak tahun 2011 telah ditetapkan 1 (satu) kawasan minapolitan ikan hias yaitu di Kabupaten Blitar, Jawa Timur dengan komoditas unggulannya ikan koi,” tukas Slamet.

Slamet menambahkan bahwa penyusunan pengembangan industrialisasi ikan hias dapat dilakukan melalui penerapan Roadmap yang terkait dengan aspek regulasi yang tepat, penyediaan sarana (benih/induk, pakan terdaftar, obat, dll), prasarana/perlengkapan yang advance, aplikasi teknoilogi yang adaptif melalui jejaring pemuliaan ikan hias (selective breeding, vaksinasi, maskulinasi, dll), penerapan SNI dan CBIB-IH, domestikasi/budidaya ikan hias alam/endemik, dll. “Sedangkan untuk di tingkat hilir perlu adanya roadmap strategi penguasaan pasar ikan hias dunia antara lain terkait dengan regulasi yang tepat, pameran/promosi domestik/international, penerapan SNI/Cara Penanganan yang Baik, Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB), kemudahan transportasi lokal/ekpor, dll,” pungkas Slamet.