Investor Bursa di Sulut, 30%nya Mahasiswa

Rabu, 01/10/2014

NERACA

Manado –PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, saat ini investor pasar modal di Sulawesi Utara (Sulut) 30%nya adalah mahasiswa,”Saat ini jumlah investor di Sulut dari kalangan mahasiswa sekitar 30%, dari total investor yang ada di daerah ini," kata Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia perwakilan Manado Fonny The, di Manando, kemarin.

Fonny mengatakan hal ini memang sangat menggembirakan, untuk itu pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum agar semakin banyak yang berinvestasi di pasar modal,”Sejauh ini Sosialisasi tetap berjalan baik, untuk mahasiswa maupun dengan masyarakat umum, agar semakin dikenal,”ujarnya.

Apalagi telah dicanangkan Gerakan Nasional Cinta Pasar Modal (Genta PM). Oleh karena itu sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat mengerti dan memahami pasar modal. Hal ini penting agar masyarakat bisa berinvestasi.Saat ini total investor di Sulut sampai dengan 31 Agustus 2014 berjumlah 2.026. Sedangkan untuk target investor dari mahasiswa saat ini sebanyak 700 orang."Kami yakin bisa tercapai target tersebut," ungkapnya.

Sedangkan untuk antusias mahasiswa saat ini cukup baik, karena cuma melalui pasar modal mereka bisa memulai investasi sejak dini, hanya dengan minimal Rp 100.000 sudah bisa berinvestasi saham. Jadi, hal ini merupakan peluang bagi mahasiswa untuk berinvestasi. Sosialisasi yang dilakukan juga agar masyarakat bisa mengetahui tentang manfaat, potensi keuntungan, potensi resiko, dan cara-cara meminimalisir resiko yang bisa mereka peroleh ketika masyarakat berinvestasi di pasar modal.

Apalagi per 6 Januari 2014,sesuai surat keputusan BEI dengan no KEP-00071/BEI/11-2013. 1 lot saham yang sebelumnya 500 lembar menjadi 100 lembar. Menurut dia, dengan keuntungan tersebut masyarakat tentu saja adalah membuat masyarakat dapat berinvestasi di pasar modal khususnya saham dengan harga yang sangat terjangkau.

Sebagai informasi, saat ini BEI tengah gencar-gencarnya membidik investor potensial pasar modal dari kalangan akademisi, mahasiswa ataupun pelajar. Namun hambatannya, ada regulasi pasar modal yang mewajibkan investor muda harus mencantumkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi pernah bilang, adanya aturan pencantuman nomor KTP tersebut sebenarnya untuk menghadang pencucian uang yang masuk pasar saham. "Jadi yang kendala itu kelengkapan KTP. Kadang-kadang itu KTP sudah ada tapi ditanya sumber dana dari mana,”ujarnya

Nah, untuk menghilangkan kendala tersebut, BEI mengaku telah melaporkan permasalahan tersebut ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Harapannya, akan ada jalan keluar sehingga para investor muda lebih mudah masuk ke pasar modal.

Frederica menambahkan, sejumlah insentif akan diberikan oleh BEI kepada para investor muda. Salah satunya dengan memberikan pembebasan biaya sebesar Rp 30 ribu untuk mereka yang melakukan online trading. Kebijakan itu diberikan agar para investor dari kaum akademisi itu mendapat keringan. Pasalnya, mereka masih terbatas kemampuan finansialnya karena ditopang dari penghasilan orang tua,”Program terbaru dari akademisi dibebaskan biaya per bulan sebesar Rp 30 ribu saat online trading," kata Frederica. (ant/bani)