2015, KKP Ajukan 2,7 Juta KL - BBM Subsidi untuk Nelayan

NERACA

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan tahun 2015 nanti kuota subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional sudah dipatok sebsar 46 juta kilo liter (KL). dan sampai dengan saat ini kami dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah melakukan pertemuan dengan PT. Pertamina dan BPH Migas dan mengajukan BBM subsidi untuk nelayan pada 2015 sebesar 2,7 juta KL. “Tahun 2014 ini nelayan mendapat jatah 1,8 juta KL, tahun depan sudah kami ajukan sebesar 2,7 juta KL,” katanya kepada Wartawan, di Jakarta Senin (29/9).

Menurutnya kenaikan dari penambahannya ini nanti disesuaikan dengan permintaan daerahnya masing-masing. Namun demikian nantinya kenaikan penyaluran tiap daerahnya bisa naik sekitar 20 persen. “Dari Pertamina dan BPH Migas sudah menjanjikan untuk distribusinya naik 20 persen per daerahnya. Tapi tidak menutup kemungkinan daerah yang memang potensial dan produktif bisa lebih mendapatkan alokasi subsidi BBM nya,” imbuhnya.

Mengingat 70 persen cost melaut habis untuk BBM, jika tidak mendapatkan supporting BBM maka nelayan terancam tidak bisa melaut apalagi nelayan-nelayan kecil . “Tidak ada BBM nelayan terancam tidak bisa melaut, makanya kami perjuangkan agar para nelayan tidak terkendala dalam mendapatkan BBM,” ujarnya.

Selain itu juga, dirinya meminta BPH Migas agar penyaluran BBM bersubsidi untuk sektor kelautan dan perikanan dialokasikan secara khusus yang dipisahkan transportasi laut, dengan nomenklatur khusus BBM bersubsidi untuk nelayan.

"Pemda provinsi/Kab/Kota harus mempertajam penerima tepat sasaran melalui identifikasi nelayan berdasarkan kapal dan trip penangkapan," tegasnya.

Sedangkan untuk menghemat penggunaan BBM, KKP telah mendorong pengalihmuatan (transhipment) hasil tangkapan ke kapal lain sesuai dengan Permen KP 26/2014 tentang Usaha Penangkapan Ikan.

Sedangkan Dirjen Perikanan Tangkap (KKP) Gelwynn Jusuf menambahkan BBM untuk nelayan ibaratnya nafas mereka. Jika tidak ada BBM mereka tidak melaut dan tidak bisa mendapatkan ikan mereka tidak bisa makan. “Jika BBM langka nelayanlah yang paling menderita,” katanya.

Belum lagi, sambung Gelwynn, bicara nelayan masalahnya sangat kompleks beragam isu dan persoalan yang terkait dengan kehidupan nelayan kini selalu menjadi topik bahasan hangat di setiap kesempatan dan di berbagai media. Masih banyak masalah yang menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh antara pemerintah, pelaku usaha dan para pemangku kepentingan lainnya. “Masalah-masalah seperti masih lemahnya akses nelayan terhadap sumber-sumber pembiayaan, penerapan teknologi dan penetrasi pasar sepertinya masih akan menjadi fokus perhatian bagi kepemimpinan bangsa yang baru nanti,” katanya.

Permasalahan lain, tambah Gellwyn, Indonesia masih menghadapi persoalan dengan sisi tradisional dan budaya yang kadangkala menghambat nelayan untuk maju. Misalnya adat istiadat yang kurang terbuka terhadap hal-hal baru, manajemen keuangan dan lain-lain. Ditambah lagi dengan risiko kerja yang tinggi di laut, ketergantungan dengan faktor alam, ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) sebagai komponen utama usaha, juga berkontribusi menjadi penghambat. “Serta masih sering terjadinya konflik antar kelompok nelayan yang mengakibatkan rentannya profesi nelayan oleh tekanan eksternal,” tandasnya. [agus]

Related posts