Menanti Data Inflasi, IHSG Cenderung Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali balik arah ke zona hijau setelah pada awal perdagangan di buka melemah. Perburuan aksi beli investor dalam negeri, mampu menyelamatkan indeks BEI.

Kata analis Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, sebagian invetor di dalam negeri melakukan aksi beli memanfaatkan beberapa harga saham yang telah terkoreksi di perdagangan akhir pekan lalu, sehingga indeks BEI berada di area positif,”Penguatan indeks BEI masih terbatas menyusul pelaku pasar saham yang cenderung mengambil posisi "wait and see" menjelang pengumuman data-data makro ekonomi Indonesia yang sedianya akan dirilis pada awal Oktober 2014 oleh Badan Pusat Statistik (BPS),”ujarnya di Jakarta, Senin (29/9).

Dirinya berharap, data-data makro ekonomi Indonesia dapat mengimbangi sentimen eksternal yang cenderung negatif. Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan, faktor teknikal mendorong indeks BEI kembali berada di area positif setelah bergerak bervariasi pada awal pekan ini, “Bagi investor jangka pendek perlu meningkatkan kewaspadaan, sedangkan untuk investor jangka panjang dapat terus melakukan akumulasi pembelian di saat terjadi koreksi,”ungkapnya.

Menurut dia, saham-saham sektor perbankan masih cukup menarik untuk diakumulasi, IHSG BEI secara umum juga masih berada dalam jalur tren penguatan untuk jangka panjang. Oleh karena itu, dirinya memperkirakan indeks BEI Selasa akan bergerak menguat.

Indeks BEI Senin awal pekan, ditutup menguat tipis 9,44 poin atau 0,18% ke posisi 5.142,01. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 4,33 poin (0,50%) ke posisi 874,85. Saham-saham yang diburu investor adalah infrastruktur, aneka industri, keuangan, barang konsumsi, dan manufaktur. Sementara saham yang banyak dilepas adalah dari sektor perdagangan, industri dasar, konstruksi, pertambangan, dan agrikultur.

Tercatat transaksi perdagangan saham di BEI sebanyak 239.546 kali dengan volume mencapai 3,41 miliar lembar saham senilai Rp4,01 triliun. Tercatat, efek yang mengalami penguatan sebanyak 127 saham, turun sebanyak 194 saham, dan tidak bergerak nilainya atau stagnan 86 saham.

Saham-saham yang menguat signifikan dan masuk jajaran top gainers antara lain Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 5.000 menjadi Rp 405.000, Matahari Department Store (LPPF) naik Rp 1.025 menjadi Rp 17.025, dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 750 menjadi Rp 25.900. Sementara saham-saham yang terkoreksi dan menjadi top losers di antaranya Merck (MERK) turun Rp 3.000 menjadi Rp 170.000, Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) turun Rp 725 menjadi Rp 3.575, dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK) turun Rp 525 menjadi Rp 6.000.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng ditutup melemah 449,20 poin (1,90%) ke 23.229,21, indeks Nikkei naik 80,78 poin (0,50%) ke 16.310,64 dan Straits Times melemah 2,49 poin (0,08%) ke posisi 3.289,72. Perdagangan sesi pertama, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 0,58 poin atau 0,01% menjadi di posisi 5.133,15. Sementara Indeks LQ45 juga menghijau dengan ditutup 872,37. Menguat 1,85 poin (0,21%).

Sejak pembukaan hingga jelang penutupan sesi pertama, indeks bergerak di teritori negatif. Namun pada saat-saat terakhir, aksi beli investor memanfaatkan koreksi yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu mampu mendongkrak IHSG. Saham-saham yang menjadi buruan investor adalah keuangan, aneka industri, dan infrastruktur. Ketiga sektor ini mampu menguat, sementara tujuh sektor lainnya masih di zona merah.

Terjadi 142.036 kali frekuensi perdagangan yang melibatkan 3,49 miliar unit saham senilai Rp 2,35 triliun. Sebanyak 95 saham menguat, 175 melemah, dan 70 stagnan. Saham-saham yang melemah cukup dalam dan menjadi top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 3.000 menjadi Rp 170.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 325 menjadi Rp 566.625, dan Indocement (INTP) turun Rp 325 menjadi Rp 21.850.

Sementara saham-saham yang menguat signifikan dan masuk jajaran top gainers di antaranya Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 5.000 menjadi Rp 405.000, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 625 menjadi Rp 25.775, dan Matahari Department Store (LPPF) naik Rp 525 menjadi Rp 16.525.

Indeks bursa saham regional masih bergerak mixed cenderung melemah. Investor masih melihat potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) sebagai faktor risiko. Bahkan Indeks Hang Seng melemah hampir 2%.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah sebesar 9,73 poin atau 0,19% menjadi 5.122,82. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,44 poin (0,28%) ke level 868,08,”Bursa saham Indonesia masih dalam bayangan tekanan, meski relatif mulai terbatas," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Menurut dia, beberapa alasan yang menjadi kendala bagi pergerakan IHSG salah satunya yakni potensi mata uang dolar AS yang diperkirakan masih mengungguli mayoritas mata uang dunia, ditunjang oleh kuatnya data makro ekonomi dan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS."Data ekonomi AS yang positif semakin mendukung ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga the Fed yang akan terlaksana lebih cepat dari perkiraan," katanya.

Sentimen dari dalam negeri, lanjut dia, pilkada yang dilakukan melalui DPRD diperkirakan mulai berkurang pengaruhnya. Menurut kajian analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengungkapkan, pelaku pasar saat ini sedang mengantisipasi rilis data inflasi September 2014 yang sedianya akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Oktober 2014.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar juga sedang menanti pengumuman nama-nama menteri yang masuk ke dalam kabinet Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 414,61 poin (1,75%) ke 23.263,80, indeks Nikkei naik 99,30 poin (0,61%) ke 16.329,16 dan Straits Times melemah 3,73 poin (0,09%) ke posisi 3.288,48. (bani)

Related posts