Semen Indonesia Perkuat Pasar Kawasan Timur - Bangun Pabrik di Papua

NERACA

Jakarta –Guna memperluas pangsa pasar hingga kawasan timur Indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) pada tahun 2015 mendatang bakal membangun pabrik semen di Papua. Rencananya, pembangunan pabrik tersebut akan menelan dana berkisar antara Rp 1,2 hingga Rp 1,5 triliun,”Kami akan bangun pabrik di Papua. Saat ini kami masih dalam tahap uji kelayakan proyek," kata Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wiharto di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Agung mengatakan sebesar 60% dari kebutuhan pendanaan akan dibiayai melalui dana eksternal perusahaan. Nantinya dari total kebutuhan investasi akan dihimpun perseroan dari sumber eksternal berpotensi untuk mencapai Rp 720 miliar hingga Rp 900 miliar.

Saat ini tercatat rasio antara utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) perseroan masih tergolong kecil atau hanya berada di level 0,38 kali. Angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan DER di paruh pertama tahun 2013 yang berada di level 0,41 kali.

Sebagai catatan, rencananya, pabrik semen yang akan dibangun di wilayah Papua tersebut akan memiliki kapasitas produksi sebesar 600 ribu ton per tahun dengan nilai investasi mencapai US$ 200 hingga US$ 250 untuk setiap tonnya. Sedangkan alasan mengapa perseroan menjadikan Papua sebagai sasaran baru ekspansinya adalah karena Papua tercatat memiliki persentase pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu sebesar 14,84%.

Sebelumnya, perseroan juga berniat ekspansi di regional dengan mengakuisisi pabrik semen di Myanmar dan Bangladesh. Namun rencana tersebut masih dalam kajian. Asal tahu saja, pabrik semen di Bangladesh memiliki kapasitas produksi 600 ribu hingga 1 juta ton per tahun. Hal serupa juga tengah dijajaki akuisisi pabrik semen di Myanmar. Apabila Semen Indonesia dapat mewujudkannya, maka kapasitas produksi menjadi 42 juta ton pada 2017 mendatang.

Semen Indonesia juga telah mengakuisisi Thank Long Cement Company di Vietnam. Sebab, kondisi pasar yang excess supply di Vietnam memberikan ruang terbuka untuk meraih nilai akuisisi TLCC lebih murah dari harga pasar,”Sebab, valuasi TLCC US$120 per ton jika dibandingkan dengan bangun pabrik baru sekitar US$200 per ton, selain valuasi tersebut, pangsa pasar di Vietnam dan jaringan distribusi sudah siap," kata Direktur Keuangan PT Semen Indonesia Tbk, Ahyanizzaman.

Menurut dia, apabila terjadi 'shortage supply' di dalam negeri, maka perseroan dapat memanfaatkan fasilitas atau persediaan semen dari Vietnam. Sementara Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto pernah bilang, pihaknya akan meneruskan rencana akuisisi perusahaan semen di Vietnam.

Menurut Dwi, perseroan akan mengakuisisi semen milik pemerintah Vietnam, Halong Cement,”Vietnam akan ada akusisisi lagi, ngotot masuk ke sana lagi. Semen Indonesia bermain global. Green line detail. Kalau dipotong lagi nggak akan go inernasional,”ujarnya.

Dia menjelaskan, sebelumnya sudah mengakuisisi perusahaan semen Vietnam yakni Thang Long Cement. Untuk nilai investasi mencapai Rp1,5 triliun. Perusahaan ini terletak di Provinsi Quang Ninh. Dirinya menyakini, bisa mengakuisisi perusahaan semen Vietnam untuk kesekian kalinya. Namun juga harus dapat mendatangkan laba.

Selama ini, perseroan terus agresif melakukan ekspansi bisnis dan termasuk pembangunan pabrik semen. Maka untuk mendanai ekspansi bisnis tersebut, rencananya tahun depan perseroan bakal mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 500 juta. (bani)

Related posts