Kalah Menang dalam Berdemokrasi - Oleh: Addin Jauharuddin, Anggota Majelis Pembina & Mantan Ketua Umum PB PMII

Kerja bangsa memang tak akan pernah ada habisnya. Kerja bangsa, kata para bijak bestari, akan seumur dengan eksistensi sebuah bangsa. Dalam perspektif inilah, kurang lebihnya, kita merasakan denyut dinamis bangsa ini. Kerja bangsa seolah tak pernah selesai.Ya, inilah tanda-tanda bangsa yang sehat. Bangsa yang merasakan tantangan, dan kegairahan untuk mewariskan yang terbaik untuk generasi masa depan.

Maka jika tempo hari kita usai dengan sukses menggelar hajat demokrasi bangsa, baik dalam pesta pemilihan anggota legislatif, maupun pemilihan Presiden, maka kini kerja bangsa harus terfokus pada bagaimana pesta-pesta lalu yang menghasilkan anggota legislatif dan presiden Indonesia, bisa menghasilkan daya optimal untuk bangsa ini. Anggota legislatif harus berjuang mengoptimalkan dirinya, menghasilkan produk-produk yang kondusif untuk bangsa ini. Pun dengan presiden dan seluruh jajaran eksekutifnya, harus berjuang optimal. Sebagai negara berkembang, masih terlalu banyak urusan bangsa ini yang belum baik, belum tertata atau bahkan belum ada tatanannya. Ini semua menanti kerja serius. Pasca pemilu legislatif dan Pemilu Presiden, memang harus dipahami sebagai pasca pesta juga. Fase ini merupakan periode, transisi. Transisi antara, “bersih-bersih” pasca pesta dengan jedah persiapan untuk sang pemenang untuk menunaikan amanah bangsa yang terhampar di depan. Dengan perspektif ini, maka sang pemenang yang tadinya bergelimang ide di saat kampanye, sudah harus “turun gunung” untuk membangun kerja baru dalam rangka berhadapan dengan gempitanya hidup nyata.

Kerja bangsa memang tak akan pernah ada habisnya. Maka bangsa yang cemerlang adalah bangsa yang terpanggil untuk berkontribusi positif pada setiap kerjanya. Kontribusi positif itu bukan bermakna hanya pada keterlibatan aksi dukung mendukung, atau sebaliknya tampil menjadi kaum kritisi semata. Bukan! Karena tak semua anak bangsa harus berada dalam dua kutub ektrim itu. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah keikhlasan kita semua untuk turut serta menciptakan iklim kondusif yang efektif bagi dinamika semua anak bangsa.

Dalam berdemokrasi, memilih dia, tidak memilih dia, atau bahkan tidak ikut memilih, bukanlah wilayah permanen atau progresif. Dia bukan wilayah permanen, sebab andai kata pilihannya kalah, seseorang yang matang watak demokratisnya, tak lantas menunjukkan sikap antipati terhadap sang pemenang. Kalah dan menang dalam sistem demokrasi hanya sebuah pilihan yang bersifat momentif. Hanya ada di waktu pengumuman hasil Pemilihan.Selesai pemilu selesai penghitungan suara. Selesai pula format dukungan itu. Dalam pileg, rakyat tak perlu memusuhi anggota dewan terpilih yang bukan berasal dari partai pilihannya. Mereka semua harus didudukan dan diletakkan sebagai wakil rakyat, yang harus didukung optimalitas kerjanya sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang. Pun dalam pemilihan Presiden, siapapun yang menang dalam pilpres adalah Presiden bangsa ini. Meski itu bukan pilihan kita.Tapi begitu yang bersangkutan memperoleh suara terbnyak, beliau tetap harus dihormati sebagai presiden Indonesia, Presiden kita. Yang dalam kapasitas sebagai presiden, martabatnya setara dengan martabat bangsa ini.

Demokrasi bukan pula sebuah sistem politik yang berwatak progresif yang menyebabkan sebuah dukungan naik derajat menjadi pembelaan dan penyerangan yang serba membabi buta. Seorang demokrat sejati, tak akan bermetamorfose dukungannya menjadi sebuah brutal, tatkala ternyata lawannya yang menang. Dalam berdemokrasi, sesungguhnya tak ada amuk.

Demokrasi sesungguhnya adalah proses politik bernaluri kehidupan yang sarat dengan semangat penyatuan dan integrasi. Dalam kapasitas sebagai oposisi pun, seorang demokrat sejati tak akan pernah mematut-matut perannya untuk membangun perpecahan. Demokrasi tidak pernah memaklumkan dirinya atau mengidentifikasikan dirinya dengan sistem gerakan destruktif atau gerakan yang memuja kehancuran dan kematian.

Demokrasi adalah sebuah gerakan yang bernafaskan biofilia (cinta kehidupan) sebagai energi pertumbuhan, pembangunan dan kesejahteraan.Ini bertentangan dengan sesuatu yang dalam terminologi Erick Fromm dipahami sebagai semangat nekrofilia (cinta kematian). Memandang wujud penghancuran - nekrofilia - sebagai sesuatu yang berwawasan heroik.

Kerancuhan berdemokrasi yang ditandai dengan langkah-langkah beraroma nekrofilia, akan menggeser demokrasi dari maqom kemaslahatannya. Di Indonesia dengan segala permohononan maaf, gejala ini mulai tampak – meskipun dalam skala yang relatif kecil. Dalam hampir setiap event demokrasi digelar, ada saja urusan yang beraroma penghancuran. Kegairahan berdemokrasi yang bablas seperti ini, tak boleh diberi ruang lagi, agar orang banyak tidak kaprah memandang tabiat demokrasi yang hakiki. Bukankah, tak ada kultur keseharian demokrasi yang memuja kekerasan? Bukankah tak seorang pun yang merasa terhibur oleh kekerasan berlabel demokrasi. Sebab semua itu bukan perbuatan yang semestinya dalam berdemokrasi.

Demokrasi sesungguhnya sebuah arena fair play dalam sebuah lingkup bangsa. Menang menghargai dan menghormati yang kalah. Yang kalah bernyali dan berjiwa besar mengakui kemenangan dan secara patriot mendukung yang menang. Kalah menang, dalam berdemokrasi adalah urusan sebentar.Yang panjang dalam demokrasi adalah urusan memakmurkan kemenangan bangsa.Demokrasi sesungguhnya sebuah kerja bangsa yang besar, yang serius dalam membangun konstruksi positif untuk masa depan bangsanya. Maka mari bergandeng tangan, mengokohkan bangsa. (haluankepri.com)

BERITA TERKAIT

Siap Menang Tidak Siap Kalah

Oleh: Budi Setiawanto Perusakan kantor dan kendaraan yang ada di Kementerian Dalam Negeri serta penganiayaan terhadap 15 karyawan kementerian itu…

Saham KIOS Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Dibalik akuisisi PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) terhadap PT Narindo Solusi Komunikasi (Narindo), membuat pergerakan harga…

Kebohongan dalam Dunia Pendidikan

      Skandal kebohongan Dwi Hartanto mengejutkan Indonesia. Namun perilaku menyimpang itu bukan tidak lazim di dunia sains. Tapi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

"Public Chaos", Ujung Interpretasi Media yang Salah

  Oleh : Ricky Rinaldi, Peneliti Madya Lembaga Studi Informasi Strategis (LSIS) Tidak dapat dipungkiri bahwa aktor yang paling berperan…

Strategi "Survival of The Fittest" Bagi Mal

Oleh: Muhammad Razi Rahman Persaingan dalam ekonomi memang untuk para pelaku usaha yang tangguh, terutama bila kondisi perekonomian ternyata menjadi…

Reformasi Dana Insentif Daerah

Oleh: Joko Tri Haryanto, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Dalam APBN, kerangka hubungan pendanaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah diterjemahkan…