Fluktuasi Rupiah dan Kondisi Global

Melemahnya nilai tukar rupiah yang hingga akhir pekan lalu menembus batas psikologis Rp12.000 per US$, sebelum mengalami sedikit penguatan pada Jumat (19/9) menjadi Rp11.985, merupakan imbas dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang meneruskan penghentian stimulus moneter, dan respon bank sentral Eropa (European Central Bank) bersama Jepang dan Tiongkok dalam mempertahanan perekonomian di negara masing-masing.

Seperti halnya nilai tukar mata uang di hampir mayoritasemerging-market, kurs rupiah berada dalam dua tekanan global yang saling berlawanan arah. Di satu sisi, The Fed yang terus berjuang untuk mengurangi likuiditas global melalui pengurangan hingga tercapainya program penghentian stimulus moneter (quantitative easing-QE III). Sementara di sisi lain, bank sentral Eropa bersama Jepang dan Tiongkok justru mempertahankan dan bahkan menambah likuiditas untuk menggairahkan perekonomian di kawasan tersebut.Selain aspek dalam negeri, dua tekanan yang berlawanan arah dipastikan akan menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan baik dalam jangka pendek dan menengah terhadap nilai tukar rupiah.

Ini tercermin pada sesi transaksi minggu ke-3 September yang ditutup dengan terdepresiasinya nilai tukar sejumlah mata uang negara-negara Asia. Depresiasi nilai tukar mata uang di Asia ini merupakan respon dari hasil keputusan rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) terkait dengan tahapan pengakhiran QE-III dan berakhirnya era suku bunga murah. Pemangkasan pembelian obligasi yang menyisakan US$25 miliar ini direncanakan dilakukan pada bulan ini sebesar US$10 miliar dan pada Oktober US$ 15 miliar sekaligus mengakhiri kebijakan QE.

Hal yang sedikit melegakan terkait dengan rencana kenaikan sukubunga The Fed, adalah pernyataan Yanet Yellen yang akan tetap mempertahankan sukubunga rendah untuk beberapa waktu setelah QE berakhir. Dalam rilis hasil rapatnya, The Fed juga menyampaikan kenaikan proyeksi sukubunga menjadi 1,375% di akhir 2015 dari proyeksi sebelumnya 1,125%. Dan pada tahun 2017 suku bunga ini ditargetkan menjadi 3,75% dengan sejumlah asumsi dari proyeksi yang dihasilkan komite FOMC.

Optimisnya perkembangan ekonomi AS juga tercermin dari sejumlah proyeksi yang disampaikan The Fed, yang memproyeksikan pertumbuhan PDB akan meningkat di kisaran 2,6 – 3,0% pada 2015, pada 2016 di kisaran 2,6 – 2,9% dan pada 2017 berada pada kisaran pertumbuhan 2,3 – 2,5%. The Fed juga memproyeksikan kisaran sukubunga pada level 3,75% di akhir 2017 dengan eskpektasi inflasi naik 1,9 – 2,0%.

Menurut Prof Firmanzah Ph.D, guru besar FEUI, sinyal pemulihan ekonomi AS yang tertuang dalam pengumuman hasil rapat komite FOMC itu mendorong sentimen penguatan mata uang US$ terhadap mata uang negara Asia termasuk Rupiah. Setidaknya hampir seluruh mata uang di Asia melemah terhadap US$ pada transaksi minggu ketiga September 2014. Kurs Rupiah pada akhir minggu ketiga Sept. menembus batas psikologisnya di level Rp.12.025 per US$.

Diperkirakan penguatan nilai tukar US$ terhadap sejumlah mata uang negara lain dalam beberapa waktu ke depan akan terus berlangsung seiring dengan positifnya berbagai indikator makro perekonomian AS. Pada kondisi ini, para investor global akan cenderung mengubah orientasi investasinya dari jangka panjang menjadi jangka pendek.

Aksi spekulatif akan cenderung mewarnai aktivitas perdagangan global dalam beberapa waktu ke depan melalui aksi relokasi investasi. Sentimen penguatan mata uang US$ ini telah memicu spekulasi adanya relokasi investasi yang selama ini tersebar di sejumlah negara dengan prospek ekonomi yang positif untuk “pulang balik” ke AS. Relokasi investasi dan aliran arus modal ini diperkirakan akan terus berlangsung sepanjang sinyal positif ekonomi AS tetap menunjukkan angka yang positif hingga akhir tahun ini.

Related posts