RI Siap Jadi Negara Industri?

Menteri Keuangan Chatib Basri di sebuah media informasi pernah menyatakan pergantian haluan pondasi ekonomi negara dari sektor pertanian ke industri. Dengan jumlah angkatan kerja hampir 100 juta orang, berbeloknya haluan ke industri dianggap sebagai jalan terbaik menggapai predikat negara G-7 pada tahun 2030. Karena negara maju di Asia seperti Jepang, Korea Selatan atau Tiongkok sudah mengambil langkah ini, dua dekade lebih awal dari negara kita. Lalu pertanyaanya, apakah kita sudah siap dengan segala risiko dengan pergantian haluan tersebut?

Indonesia yang berpenduduk 230 juta saat ini, memiliki beban penduduk non-produktif sekitar 120 juta orang, tentunya dengan jumlah angkatan kerja 110 juta orang itu tentu berimbas dengan kewajiban negara menyediakan stok pangan yang besar.

Stok pangan yang besar berhubungan langsung dengan lahan, karena lahan di perlukan untuk proses penanaman sehingga menghasilkan pangan. Jika negara berhaluan ke sektor industri. Lahan apa yang akan digunakan untuk area menanam pangan? Dan siapa yang menanam jika semua menjadi buruh industri? Jikapun berhaluan industri, tanpa lahan untuk memperoleh bahan baku, akhirnya bahan baku pangan tetap saja harus di impor terus menerus ?

Pertanyaan tentu terkait setelah melihat apa yang selama ini terjadi di lapangan. Contoh ketika harga bawang tidak stabil, pemerintah di paksa impor. Kebutuhan sapi nasional sebesar 2-3 juta ton per tahun hanya mampu disediakan negara 1 juta ton, selebihnya impor. Belum lagi persoalan impor beras Vietnam dan lain-lain.

Permasalahan ini muncul karena pemerintah melupakan sektor pertanian. Coba kita lihat pertumbuhan ekonomi negara-negara importir pangan ke Indonesia seperti Vietnam atau Thailand, yang tidak sebagus pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, mampu berproduksi pangan secara mandiri.

Sementara pertumbuhan ekonomi dan besarnyamiddle class kita yang mencapi 100 juta orang membuat negara kita menjadi sasaran investasi-investasi asing, yang pada akhirnya berimplikasi dengan tingginya pertumbuhan industri. Tapi bijakkah negara kita jika mendorong semua penduduk negeri ini terlibat langsung dengan sektor industri?

Pasalnya, menurut data BPS, seperenam penduduk negeri ini tergantung dari konsumsi produk industri, namun mereka memilih bekerja sebagai buruh ketimbang menggarap tanah di asal daerahnya. Ini lantaran pemerintah sendiri gagal menyediakan sarana untuk proses pertanian seperti pupuk dan irigasi.

Patut diingat, bahwa bila negara benar-benar beralih ke sektor industri semakin besar juga ketergantungan pangan pada impor. Tahun 2013 perekonomian Indonesia tidak berjalan dengan baik, meski di klaim tumbuh sekitar 5% tapi neraca perdangan defisit sekitar $4 Milliar, neraca perdagangan dalam tujuh bulan selalu merugi. Defisit tersebut di dominasi sektor migas yang paling menyedot anggaran negara sekaligus memperparah defisit neraca perdangan.

Ironis, negara yang pernah swasembada pangan di era 1980 an kini di permainkan oleh tengkulak pangan karena kelangkaan barang. Sektor migas tidak akan menjadi penentu tunggal defisitnya neraca perdagangan, jika tanpa “ditemani” oleh impor pangan yang besar. Waspadalah!

BERITA TERKAIT

Hasil Assessment dan Kajian - 10 Pemda Siap Terbitkan Obligasi Daerah

NERACA Jakarta –Besarnya minat pemerintah daerah menerbitkan obligasi diakui langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini dikarenakan, instrumen obligasi…

Dunia Usaha - Making Indonesia 4.0 Disebut Pemicu Ekspor Industri Manufaktur

NERACA Jakarta – Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Oleh karena itu, pemerintah semakin menggenjot…

Penguatan Industri Hulu Jadi Salah Satu Prioritas Utama

NERACA Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah strategis perekonomian 2020-2024 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor manufaktur. Ada…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Zaman Digital di Depan Mata

  Memasuki era ekonomi digital adalah suatu keniscayaan zaman. Suka tidak suka, mau tidak mau, kondisi dunia memang sedang mengarah…

Esensi Pembangunan Perkotaan

Di tengah hiruk pikuk arus urbanisasi dari daerah ke kota, urgensi pembangunan perkotaan dan esensi tata ruang menjadi mediator untuk…

Tarif Pesawat vs Disiplin Penumpang

Meningkatnya harga tiket pesawat low cost carrier (LCC) belakangan ini cukup membuat masyarakat terkejut. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir industri…