Mitigasi Kebijakan The Fed

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Sepertinya pengakhiran stimulus moneter non-konvensional di Amerika Serikat atau yang kita kenal sebagai quantitative-easing III memasuki cepat atau lambat akan dilakukan. Beberapa pernyataan baik dari Janet Yellen maupun pejabat The Fed menguatkan indikasi akan hal ini. Kondisi ini ditambah dengan adanya perbaikan sejumlah indikator makro ekonomi di AS baik di sektor ketenagakerjaan, pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran dan inflasi. Apabila kebijakan ini di akhiri dan disertai dengan instrumen dinaikkannya suku bunga acuan di AS, maka perlu segera adanya langkah-langkah mitigasi.

Bank sentral di banyak negara sebagai respon dinaikkannya sukubunga di AS melalui penyesuaian suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada perekonomian, investasi, penciptaan lapangan kerja serta sektor riil secara keseluruhan. Dapat dipastikan dengan meningkatnya suku bunga acuan maka pertumbuhan ekonomi akan melambat.

Naiknya suku bunga acuan membuat masyarakat melakukan penundaan konsumsi dan cenderung menempatkan dananya di sektor perbankan. Dari sisi perbankan, pilihannya adalah mengurangi net interest margin (NIM) atau menyesuiakan suku bunga pinjaman. Ketika opsi terakhir yang diambil maka risiko baru akan muncul yaitu meningkatnya kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Dampak dari penghentian QE III terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi perlu kita hitung secara cermat. Terlebih lagi perekonomian Indonesia masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang tidak menjadi lebih sederhana. Faktor eksternal lain seperti pelemahan harga komoditas dunia, instabilitas politik dan keamanan sejumlah kawasan, serta melemahnya ekonomi besar dunia seperti Tiongkok dan Eropa juga akan menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu juga, rencana pemerintah baru untuk menyesuaikan harga BBM bersubsidi, di satu sisi akan dapat menyehatkan fiskal, namun di sisi lain akan menurunkan daya beli masyarakat akibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Sementara itu dari sisi dunia usaha akan berhadapan dengan menurunnya daya beli masyarakat, biaya modal yang meningkat dan tuntutan naiknya upah buruh akibat meningkatnya harga keperluan hidup. Apabila hal ini terjadi maka perekonomian nasional akan menghadapi dua tekanan sekaligus yaitu dari sisi permintaan (demand-side) dan penawaran (supply-side).

Simulasi yang baik dan komprehensif perlu dilakukan agar segala kemungkinan dapat diprediksi secara tepat. Bauran kebijakan baik di sektor moneter, fiskal dan sektor riil perlu segera dirumuskan bersama baik oleh BI, pemerintah, LPS dan OJK. Koordinasi yang baik seperti yang kita tunjukkan di masa lalu sangatlah diperlukan agar antisipasi dan mitigasi dalam mempersiapkan diri mengurangi efek negatif penghentian stimulus moneter di AS dapat kita lakukan secara tepat dan akurat. Masing-masing pilihan kebijakan yang akan ditempuh pasti akan berpengaruh terhadap sektor lain. Inilah yang perlu untuk segera dikomunikasikan dan dikoordinasikan oleh otoritas pengambil kebijakan di dalam negeri.

Related posts