Indonesia Belum Punya Jenis Ikan Unggulan Dunia

NERACA

Malang - Jika beberapa negara punya keunggulan minimal satu produk perikanan, seperti Norwegia yang unggul dalam hal ikan salmon, Thailand unggul dalam udang, China unggul ikan mas, Vietnam unggul ikan patin dan Jepang unggul soal sidat namun Indonesia belum ada jenis ikan yang unggul, padahal potensi perikanan Indonesia cukup besar. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Agung Sudaryono saat memberikan Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Malang, Jawa Timur, akhir pekan kemarin.

Agung mengungkapkan seharusnya Indonesia mempunyai keunggulan dalam produksi perikanan. Karena Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki cukup melimpah, serta memiliki pantai yang cukup panjang. "Thailand itu panjang pantainya cuman sedikit. Kira-kira panjang pantainya hanya se Jawa Timur. Akan tetapi produksi udangnya bisa mencapai dua kali lipat dari produksi udang Indonesia yang hanya 250 ribu ton," ucapnya.

Ia mengatakan saat ini yang menjadi pemimpin di sektor perikanan dunia adalah Tiongkok. Agung merasa aneh dengan kondisi yang ada, pasalnya Tiongkok memiliki 4 musim satu diantaranya adalah musim dingin. "Kalau musim dingin, ikan-ikan akan sulit untuk dipelihara. Sementara Indonesia yang hanya ada 2 musim yaitu musim panas dan hujan, akan tetapi kenapa produksi perikanan Indonesia masih jauh dibandingkan dengan Tiongkok," gusarnya.

Agung yang juga sebagai Dosen di Universitas Dipenogoro mengatakan ada 1,1 juta hektar lahan tambak yang produktif. Sayangnya, pemanfaatan lahan tersebut baru setengahnya. Padahal, jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan maka akan memberikan hasil yang maksimal. Tak hanya itu, Indonesia yang kaya akan potensi perikanannya tidak diimbangi dengan pakan. "Dalam usaha budidaya ikan, 60-70% pengeluaran produksi itu untuk pakan. Akan tetapi industri pakannya kekurangan bahan baku lantara impor. Harusnya potensi itu bisa dimanfaatkan dengan investasi pabrik pakan," tuturnya.

Untuk mengatasi hal itu semua, Agung mempunyai saran kepada pemerintah mendatang agar pemanfaatan potensi tersebut bisa direalisasikan bukan hanya Indonesia kaya akan potensi saja. Pertama, kata Agung, pemerintah harus mempunyai keberpihakan terhadap sektor perikanan baik itu budidaya atau ikan tangkap. “Hal itu bisa dilihat dari regulasi-regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selama regulasi tersebut baik dan bermanfaat maka dilanjutkan,” katanya.

Kedua, dari sisi penilitian. Menurut dia, penelitian soal perikanan di Indonesia masih terpecah-pecah sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Ia mencontohkan seperti di Thailand yang melakukan penelitian dengan cara “keroyokan”. “Misalnya di Thailand itu ada lembaga riset yang khusus menangani hortikultura. Lembaga tersebut setiap hari hanya menangani soal hortikultura saja, bagaimana pemanfaatannya, rekayasa teknologinya sampai pengembangannya. Sementara Indonesia kan masih terpecah-pecah, kurang fokus dan jarang diakomodir,” ucapnya.

Dan terakhir, kata Agung, kedisiplinan dari pemerintah dan masyarakat. “Sumber daya masyarakat di Indonesia cukup banyak ditambah dengan sumber daya alamnya. Akan tetapi kenapa Vietnam lebih maju, itu karena pemerintahnya disiplin dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan juga lebih pro terhadap masyarakat. Dan tentunya soal infrastruktur yang harus dibenahi,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) MohammadAbduh Nurhidajat mengungkapkan bahwa potensi perikanan Indonesia yang besar ini harus dimanfaatkan dengan baik. Namun begitu, ia mengaku diperlukan sinergi kebijakan bagi para pelaku usaha dan juga pemerintah. “Kita perlu bersinergi antara pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat. Ini perlu dilakukan agar nantinya tidak terjadi pergesaran pemanfaatan,” jelasnya.

Ia pun mengibaratkan Indonesia seperti gajah yang sedang berjalan. “Kalau di ibaratkan di sektor perikanan. Indonesia itu ibarat gajah yang sedang berjalan. Dahulu, saat potensi-potensi perikanan ini belum tersentuh, itu seperti gajah yang sedang tertidur. Namun sekarang gajah itu telah bangun dan sedang berjalan. Dan mendatang, gajah itu harus berlari,” pungkasnya.

Sekedar informasi, saat ini nilai potensi dan kekayaan sumber daya alam yang terdapat pada sektor kelautan dan perikanan diproyeksikan mencapai US$ 171 miliar per tahun. Secara rinci nilai potensi tersebut meliputi perikanan US$ 32 miliar, wilayah pesisir US$ 56 miliar, bioteknologi US$ 40 miliar, wisata bahari US$ 2 miliar, minyak bumi US$ 21 miliar dan transportasi laut US$ 20 miliar. Akan tetapi sejauh ini, pemanfaatan potensi tersebut masih minim.

Related posts