Brefing Kepada Jokowi dan Gerakan Teror - Oleh : Toas H, Pemerhati masalah strategis Indonesia

Setiap bulan ICPVTR (International Centre for Political Violence and Terrorism Research) yang ada di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) secara periodik mengeluarkan produk analisis yang disebut dengan CTTA terutama isinya terkait perkembangan gerakan teror dan ancamannya di beberapa belahan dunia. Produk ini sangat perlu dan penting untukdiketahui poleh para analis lembaga intelijen di Indonesia yang mempunyai tugas yang berkaitandengan masalah ini.Produk yang besangkutan dengan CCTA dapat dimanfaatkan untuk mengikutianalisa atas berkembangya gerakan-gerakan radikal/terror yang menggunakan basis agama Islam sebagai dasar kegiatannya di berbagai kawasan duia untuk bahan bagi kita mengamati perkembangan gerakan semacam itu di Indonesia.

Gerakan radikal/kekerasan yang berbasis agama Islam yang menonjol sejak masa-masa Orde Baru pada umumnya digerakkan oleh delapan bekas tokoh inti DI/TII yang pimpin oleh Kartosuwiryo seperti Dodo Moh Dada yang dikemudian dibunuh sendiri oleh tokoh DI/TII lainnya karena rivalitas. Gerakan ex tokoh inti DII/TII Kartosuwiryo yang membagi Indonesia menjadi sepuluh Komandemen Gerakan Membangun NII meskipun hanya cita-cita yang tidakpernah berhasil tetapi telah mengilhami lahirnya tokoh-tokoh seperti Warman di Lampung dan tokoh-tokoh agama yang ekstrim seperti AK Jaelani, dan lain-lain yang menggerakan kekacauan di Tanjung Priok pada tahun 1984 dan mengacau kampanye Golkar diLapangan Banteng pada tahun 1970-an dan berakibat menjadikekacauan disebagian kota Jakarta disekitar daerah Senen.

Saat ini lembaga intelijen dibawah kepemimpinan Mayjen Ali Murtopo berhasil membongkar gerakan yang bercita-cita mendirikan NII tersebut di Jawa Timur. Gerakan yang masih berada pada tahap menyebarluaskan semangat jihad, tetapi belum berhasil meletuskan sesuatu aksi tersebut cukup menghebohkan dengan peranan tokoh yang bernama Haji Ismail Pranoto atau yang terkenal dengan nama HISPRAN yang berhasil ditangkap dan diadili. Ide untuk mendirikan NII versi NII Kartosuwiryo juga muncul di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh dan di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar.

Meskipun semasa Orde Baru semua gerakan bersenjata yang bertujuan mendirikan NII dapat dipadamkan, namun ternyata sisa-sisa generasiKartosuwiryo telah berhasil meninggalkan cita-cita mendirikan NII ataumebubarkan NKRI yang berdasar Pancasila untuk diganti dengan NII yangberdasar Islam dikalangan generasi – generasi baru dikalanganmasyarakat Islam. Tokoh-tokoh HISPRAN di Jawa Timur, AK Jaelani yangbergerak diberbagai daerah, kelompok Warman di Lampung dan lain-lain. Jokowi Perlu Dibriefing Oleh Intelijen Terkait Teror dan Sumber Ancaman.Tahun terus bejalan semangat jihad sebgai ekspresi ekstrimitas dan radikalisme telah mendorong sekelompok orang bergabung dengan gerakan Islam di Afganistan melawan Rusia. Mereka-mereka inilah yang setelah kembali dari Afganistan tealh meledakkan bom di sebuah kafe di Denpasar yang terkenal dengan nama Peristiwa Bom Bali 2002.Peristiwa bom Bali meskipun semua pelakunya tertangkap, namun telahmenghilhami tumbuhnya ektrimitas berbagai generasi dikalangan Islamberkembang menjadi sikap-siap radikal yang diekspresikan denganmelakukan sabotase melalui penggunaan bom/bahan peledak. Persitiwa bom Bali kemudian jelas telah diilhami peristiwa peledakan Gedung Kembar di New York pada tahun 2001 dengan lahirnya Al Qaeda.

Munculnya tokoh semisal Abubakar Baasyir yang mungkin mempunyai hubungan-hubugan dengan gerakan radikal di luar negeri telah megindkasikan mulai adanya pegaruh-pengaruh internasonal terhadapgerakan ekstrim agama di Indonesia.Juga adanya aktivis darikalangan masyarakat Islam Indonesia yang terlibat aksi-aksi radikalisme di Philippina Selatan dan Thailand serta tertangkapnya Umar Farouk buronan CIA di Indonesia menunjukkan masalah ektrimisme dan radikalisme di Indonesia semakin kompleks.

Aktivitas riset kepustakaan dan interview dengan sejumlah tokoh dari berbagai aliran perlu dilakukan untuk membukukan sejarah ekstrimisme agama dan radikalisme di Indonesia dengan cukup akurat.Dengan ditambah dengan informasi tentang pengaruh gerakan ekstrim danradikal yang berkembang di luar negeri dewasa ini, maka mudah-mudahankita yang tetap menganut NKRI Pancasila, akan dapat menghadapi terustumbuhnya ektrimitasdan radikalisme di Indonesia. Perkembangan diluar negeri perlu kita ketahui untuk menunjukan salah kaprah gerakan-gerakan yang dalih menegakkan Syariah Islam radikaltenyata hanya mengakibatkan penderitaan. Kalau Pemerintah gagal membawa NKRI kearah yang lebih baik, maka sinisme danketidak percayaan kepada Pancasila akan mudah dibangkitkan, sertaberkembangnya kampanye mereka bahwa satu-satunya ideologi yang masihhidup hanya Syariah Islam ciptaan Tuhan merupakan satu-satunyapilihan, karena komunisme dan liberalisme telah gagal mensejahterakan umat manusia.

Seperti dewasa ini, misalnya untuk masukan bagi kabinet yad, lembaga intelijen di Indonesia rasanya sangat perlu segera menyiapkan laporan kepada Presiden terpilih Jokowi mengenai perkembangan gerakan-gerakan ekstrim dan radikal serta revolusioner di Indonesia, termasuk sumber-sumber ancaman terhadap NKRI yang berdasar Pancasila. Briefing khusus kepada Presiden Jokowi sangat perlu, namun mengingatsensitifnya masalah ini, tentu perlu briefing bersifat terbatas,dimana Presiden Jokowi disarankan hanya didampingi pejabat-pejabat yang sangat berkepentingan. Kalaupun ada gagasanuntuk dibriefkan kepada Kabinet, maka Kabinet harus merupakan Sidang Kabinet Terbatas.***

Related posts