Pemerintah Antisipasi Turunnya Perdagangan Dunia - Terkait Prediksi WTO

NERACA

Jakarta – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memprediksi bahwa perdagangan dunia akan mengalami penurunan dari awalnya diprediksi sebesar 4,7% menjadi 3,1%. Hal tersebut langsung diantisipasi oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Perdagangan. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan akan mengantisipasi pelemahan tersebut. “Rilis WTO tentu menjadi perhatian serius, tapi sudah menjadi sesuatu yang kami hitung dan antisipasi,” kata Wamendag di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Ia mengatakan Indonesia memiliki beberapa negara tujuan ekspor yang memiliki pertumbuhan angka impor, seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan yang bertumbuh sebesar 2,5%. Selain negara-negara Asia Timur tersebut, katanya, angka impor beberapa negara ASEAN juga tumbuh, seperti Filipina sebesar 5% dan Singapura sekitar 3,5%. Sedangkan untuk Eropa, Inggris bertumbuh sebesar 5%, dan Jerman 6,5%. “Permintaan mereka untuk produk indonesia masih akan tumbuh ditambah lagi beberapa negara yang prospektif seperti Meksiko, Taiwan dan Iran masih memberikan pertumbuhan yang positif bagi produk indonesia,” katanya.

Ia berjanji Kemendag akan bekerja keras menghadapi masalah tersebut serta lebih giat mempromosikan produk-produk berkualitas ke negara-negara dengan angka impor bertumbuh itu. “Meskipun kami waspada, bukan berati kami sinis dan khawatir. Kami akan bekerja lebih keras berusaha sungguh-sungguh untuk mempromosikan produk ke negara tersebut,” katanya.

Mengutip lama Reuters pada Rabu (24/9), WTO memangkas proyeksi pertumbuhan perdagangan global menjadi 3,1% tahun ini. angka tersebut turun drastis dari proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia pada April sebesar 4,7%. WTO mengungkapkan, tahun ini hingga akhir 2015, berbagai isu seperti konflik regional dan Ebola telah menyebar.

Dalam pernyataannya, WTO menyebutkan adanya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang lebih rendah dari prediksi dan permintaan impor yang berkurang pada dua kuartal pertama tahun ini. Perdagangan global diprediksi tumbuh 4% pada 2015. Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi 5,3% sebelumnya dan masih jauh leih rendah dari angka pertumbuhan perdagangan global dalam 20 tahun terakhir sebesar 5,2%.

Sementara itu, berbagai risiko yang akan menghambat perdagangan dunia diantaranya ketegangan geopolitik, konflik regional dan krisis kesehatan dalam bentuk Ebola. Para Ekonom WTO awalnya melihat berbagai kondisi yang dapat mengembalikan penguatan perdagangan global setelah terperosok selama dua tahun. Faktanya, laju pertumbuhan perdagangan dunia justru stagnan di awal 2014 menyusul turunnya permintaan impor di negara-negara berkembang.

Buruknya cuaca di Amerika Serikat dan kenaikan pajak penjualan Jepang juga memberatkan transaksi perdagangan dunia. Selain itu, kemungkinan memburuknya ketegangan di Ukraina, parahnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya kepanikan menghadapi wabah Ebola di Afrika Barat membuat prediksi WTO meredup. Sementara itu, sejumlah impor ke beberapa negara di Amerika diprediksi turun 0,7% tahun ini. WTO melihat beberapa negara di wilayah tersebut dihantam konflik sipil, lemahnya harga komoditas dan berkurangnya ekspor dari negara-negara Asia.

Benturan antar-anggota WTO sering kali terjadi karena ketidakpuasan dan menjadikan badan internasional ini tempat untuk mengajukan gugatan. Sebagai negara anggota WTO, Indonesia pun tak luput dari gugatan yang diajukan negara lain. Pada April lalu, Rusia memberikan notifikasi kepada WTO yang menyatakan syarat kadar peroksida minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dari Indonesia harus 0,9 persen saat sampai di Rusia. Negara itu mencekal CPO asal Indonesia.

Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi menilai pencekalan Rusia adalah salah satu strategi untuk mendapatkan sumber CPO lain yang jaraknya lebih dekat. “Rusia melakukan itu untuk menghindari pembayaran yang mahal jika mendatangkannya dari Indonesia,” tuturnya.

Related posts