Reksa Dana Premier ETF Janjikan Keuntungan - Lebih Tinggi Dari IHSG

NERACA

Jakarta – Menjawab kebutuhan pelaku pasar akan alternatif produk investasi di pasar modal yang lebih likuid dan memberikan imbal hasil yang menjanjikan, PT Indo Premier Investment Management (IPIM) merilis produk investasi reksa dana premier "exchange traded fund" (ETF). Dimana produk ini diyakini mampu memberikan keuntungan lebih tinggi dari kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI),”Instrumen investasi berupa ETF yang dikeluarkan IPIM berdenominasi rupiah. ETF sudah memberikan keuntungan 10 persen di atas IHSG,”kata Direktur IPIM Diah Sofiyanti di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, untuk produk reksa dana premier ETF SRI-Kehati dengan kode perdagangan XISR itu, saat ini sudah terdapat 125,3 juta unit yang diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp36,98 miliar. Hal ini, lanjutnya, menunjukan minat investor terhadap reksa dana ETF SRI-Kehati sangat tinggi.

ETF secara sederhana dapat diartikan sebagai reksa dana yang diperdagangkan di Bursa. ETF merupakan kontrak investasi kolektif, yakni unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa layaknya saham. Sebagaimana halnya reksa dana konvensional, dalam ETF terdapat pula Manajer Investasi, Bank Kustodian.

Sementara SRI-Kehati merupakan salah satu indeks yang ada di BEI terdiri dari 25 saham yang konstituennya dipilih dari sektor-sektor yang termasuk dalam kategori Sustainable and Responsible Investment (SRI).

Diah Sofiyanti menambahkan, prospek XISR bisa lebih baik dibandingkan produk reksa dana ETF yang telah lebih dulu diluncurkan. Pasalnya, XISR memiliki komposisi saham yang terdaftar di dalam indeks SRI-Kehati yang telah terseleksi melalui beberapa tahap pengkategorian emiten.

Dirinya menjelaskan, tahap awal yakni seleksi negatif yang merupalan tahapan awal seleksi dilakukan kepada perusahaan yang tidak melakukan aktivitasnya dalam hal pestisida, tenaga nuklir, senjata, tembakau, alkohol, pornografi, perjudian, dan genetically modified organism (GMO).

Tahap berikutnya, lanjut dia, dilihat dari aspek keuangan perusahaan, salah satu syaratnya yakni perusahaan memiliki kapitalisasi pasar (market capitalization) serta aset di atas Rp1 triliun berdasarkan laporan keuangan teraudit tahun terakhir.

Lalu, Perusahaan memiliki rasio "free float" (jumlah saham beredar di atas 10 persen berdasarkan saham aktif di bursa dengan kepemilikan publik. Dan, perusahaan memiliki price earning ratio (PER) yang positif dalam enam bulan terakhir.

Diah Sofiyanti mengatakan bahwa dari lima produk ETF yang dimiliki IPIM saat ini tercatat dana kelolaan (AUM)nya sudah mencapai senilai Rp1 triliun. "Kalau untuk XISR sendiri diharapkan bisa mencapai Rp100 miliar hingga akhir tahun atau 10 persen dari total AUM saat ini," ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Ragukan Data Pemerintah, Pengusaha Lebih Suka Cari Data Sendiri

    NERACA   Jakarta – Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmaja menilai pengusaha lebih suka mencari data sendiri ketimbang…

IHSG Masih Tren Melanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir sesi perdagangan, Rabu (12/12) berbalik melesat naik atau menguat ke…

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…