Zebra Konversi Saham Rp 30,07 Miliar - Pangkas Utang Ke Infiniti Wahana

NERACA

Jakarta – Ditengah melorotnya kinerja keuangan, PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) tidak mau terbebani dengan utang dan disiasati perseroan dengan melakukan konversi utang menjadi saham melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 200.466.807 saham. Perseroan akan mengonversi utangnya kepada PT Infiniti Wahana (IW).

Direktur Utama PT Zebra Nusantara Tbk, Jeremia Kaban mengatakan, utang perseroan kepada IW sebesar Rp 30,07 miliar. Utang tersebut, lanjut Jeremia, tanpa bunga dan jaminan,”Utang kami yang sebesar Rp 30,07 miliar akan dikonversi menjadi saham," katanya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Jeremia menuturkan utang akan dikonversi ke saham dengan harga transaksi sebesar Rp 150 per saham. Konversi utang menjadi saham ini dilakukan perseroan dalam rangka mempertahankan kelangsungan usaha,”Kami lakukan ini untuk memperbaiki struktur permodalan dengan meningkatkan ekuitas sehingga kami mempunyai kesempatan untuk memperoleh pinjaman untuk mengembangkan usaha," tambahnya.

Menurut Jeremia, perseroan juga tidak mampu untuk melunasi utang dengan saldo defisit modal perseroan akibat kerugian di tahun sebelumnya yang menyebabkan ekuitas perseroan per 30 Juni 2014 negatif,”Selain itu, dengan ekuitas yang negatif maka jika kami melakukan transaksi dengan pihak tidak terafiliasi akan membuat harga transaksi konversi lebih rendah sehingga jumlah saham yang diterbitkan lebih banyak yang akan menimbulkan efek dilusi yang lebih besar kepada pemegang saham yang ada," jelasnya.

Tercatat, perseroan memiliki ekuitas negatif Rp 3,41 miliar dan modal kerja bersih yang juga negatif Rp 28,59 miliar. IW sendiri memiliki saham sebesar 22,33% saham di ZBRA. Dengan demikian, dari kepemilikan saham antara IW terdapat hubungan afiliasi. Sedangkan, kepengurusan antara perseroan dengn IW tidak ada hubungan.

Sebagai informasi, perseroan yang bergerak bisnis operator taksi di Surabaya membukukan kenaikan rugi bersih tahun berjalan sepanjang semester pertama tahun ini sebesar 135,11% menjadi Rp5,29 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp2,25 miliar. Disebutkan, meningkatnya rugi bersih akibat menurunnya penjualan perusahaan sekitar 22,8% menjadi Rp5,52 miliar dari semester I/2013 senilai Rp7,15 miliar.

Turunnya penjualan diikuti berkurangnya beban langsung menjadi Rp5,45 miliar dari Rp6,95 miliar. Sementara beban usaha mengalami kenaikan menjadi Rp3,63 miliar dari Rp3,45 miliar, rugis selisih kurs Rp163,7 juta dari sebelumnya laba Rp13,76 juta.

Selain itu, rugi pelepasan aset sebesar Rp762,96 juta dari sebelumnya laba Rp104,72 juta, beban penurunan nilai piutang bertambah menjadi Rp191,77 juta dari Rp39,57 juta. Sedangkan rugi lain-lain mencapai Rp896,11 juta dari sebelumnya laba Rp1,01 miliar serta beban keuangan tercatat sebesar Rp163,7 juta.

Adapun rugi per saham dasar dan dilusian meningkat menjadi Rp8,06 per lembar dibanding semester I tahun lalu rugi per saham Rp3,43 per lembar. Jumlah aset perusahaan per akhir Juni 2014 tercatat sebesar Rp36,45 miliar, dengan total utang senilai Rp39,76 miliar. Sementara total aset perusahaan akhir tahun lalu sebesar Rp39,65 miliar, dengan total utang Rp37,77 miliar.(bani)

BERITA TERKAIT

Pangkas Beban Utang - Sidomulyo Cari Modal Lewat Rights Issue

NERACA Jakarta -Perusahaan jasa angkutan kimia PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) berencana mencari pendanaan di pasar modal lewat aksi korporasi…

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Bangun Pabrik di Kalimantan - Waskita Beton Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –Danai pengembangan bisnis, yakni membangun pabrik di daerah Kalimantan,PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) melakukan periode penawaran awal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…