Pasar Murah Cuma “Tontonan” Rakyat Miskin

NERACA

Jakarta - Munculnya pasar murah yang digelar sejumlah lembaga, baik perusahaan swasta maupun BUMN ternyata tidak berdampak pada kehidupan rakyat miskin. Padahal tujuan digelarnya pasar murah untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Ironisnya rakyat miskin cuma jadi penonton.

“Tujuannya kan membantu rakyat miskin sekaligus untuk mengoreksi harga di pasar yang melambung jelang Lebaran. Tapi cara pelaksanaannya salah, jadinya salah sasaran)” kata pengamat kebijakan publik UI Andrinof Chaniago kepada Neraca, Selasa (23/8).

Bahkan dia mengritik keberadaan pasar murah yang digelar di sejumlah kantor pemerintah dan jauh dari pemukiman penduduk miskin. Karena konsumennya jelas orang yang punya uang. “Jangan gelar pasar murah di kantor-kantor atau di mal. Ujung-ujungnya yang beli pegawai kantor. Orang miskin mana bisa ke tempat-tempat itu,” tambahnya.

Dosen FISIP-UI ini menyarankan agar pasar murah harus diubah konsepnya, yakni mendatangi lokasi penduduk miskin. “Gelar pasar murah di kawasan pemukiman yang dominasi rakyat miskin. Perlu kerja sama dengan RT/RW dan karang taruna setempat. Itu lebih efektif kena sasaran,” paparnya.

Namun Direktur Cirus ini mengakui banyak pasar murah yang digelar menggunakan dana dari corporate social responsibility (CSR) perusahaan. Namun sebaiknya pasar murah bukan membagikan barang gratis. “Betul, dana CSR memang untuk dihabiskan. Tapi kalau mereka (rakyat miskin) di kasih gratis itu cara yang tidak mendidik. Menimbulkan kemalasan,”jelasnya.

Menyinggung soal pemberian sembako gratis ketimbang menggelar pasar murah, Andrinof mengatakan pemberian sembako gratis justru berpotensi menimbulkan keributan. “Saya lebih setuju tetap diadakan pasar murah dari pada ngasih gratis. Tinggal perbaiki pola pasar murah, yakni ubah tempatnya dan koordinasi dengan warga setempat,”tandasnya.

Tak berdampaknya pasar murah terhadap rakyat miskin, juga diakui Sofjan Wanandi,.Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Hal ini disebabkan banyak pasar murah yang digelar. Namun tidak bisa menggoyahkan harga komoditas dan bahan pangan di pasar retail. “Pasar murah tak berdampak apa-apa pada ritel,” ujarnya kemarin.

Cari Untung

Menurut Sofyan, kenaikan harga barang di pasar saat ini masih terbilang normal sekitar 5%- 10%. Masalahnya lebaran merupakan momentum setahun sekali. “Namun kalau kenaikan harga barang lebih dari 10% ini tentu kita akan protes keras kepada pemerintah,” tegasnya

Lebih jauh dia mengaku kecewa dengan pihak-pihak yang sekedar menggelar pasar murah demi mencari keuntungan. Apalagi pasar itu digelar secara serampangan dan tak berdasarkan survei. “Jangan sampai pasar murah ini justeru menjauhkan masyarakat miskin. Harusnya sebelum digelar, lakukan riset dahulu,” ungkapnya

Namun Sofyan tak membantah beberapa pasar murah yang digelar perusahaan swasta. Karena terkait langsung dengan program CSR-nya. “Makanya, saya tekankan pasar murah ini bagian dari CSR. Karena itu pedulikan dulu lingkungan sekitar,”imbuhnya.

Selain konsumennya bukan rakyat miskin, menurut Sosiolog FISIP-UI Imam B Prasodjo, pasar murah belum berorientasi sosial, namun tetap profit oriented. Alasannya pasar murah banyak diikuti UMKM. ”Perusahaan-perusahaan yang ikut program pasar murah itu biasanya kan perusahaan kelas menengah. UKM-UKM, jadi ya mereka pasti mengambil untung. Kalau digratiskan kasihan mereka,” ujarnya kemarin.

Keberadaan pasar murah yang menjamur menjelang Idul Fitri ini, menurut dia, harus ditinjau kembali. Karena tidak bertujuan membantu rakyat miskin. Intinya, program pasar murah harus dilihat berdasarkan peserta program tersebut. “Padahal, pasar murah bertujuan mendorong daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang jauh lebih miring,”tuturnya

Imam mengaku tak heran pasar-pasar murah tersebut sengaja diadakan di lokasi yang strategis. Apalagi lokasinya potensial dan banyak berkumpul kalangan menengah ke atas.

Lebih jauh Imam menilai program pasar murah yang diadakan perusahaan-perusahaan berskala besar memang memiliki dampak sedikit kepada kaum miskin, karena hal ini berkaitan langsung dengan CSR. ” Kalau perusahaan besar sekelas Unilever, itu seharusnya mereka yang memberikan langsung ke tempat-tempat yang kumuh. Tempat-tempat orang miskin,” katanya.

Namun sayangnya, menurut Imam Prasodjo, program pasar murah sejauh ini jarang sekali diadakan oleh perusahaan besar. ”Tapi kan perusahaan-perusahaan besar jarang. Kecuali ada produk baru,” ujarnya. iwan/vanya/salim/cahyo

BERITA TERKAIT

Pasar Modal di Bali Diyakini Tumbuh Positif - Dampak Penyederhaan Kebijakan

NERACA Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis kinerja pasar modal dan industri keuangan nonbank di Bali dan Nusa Tenggara…

OJK Kaji Rencana Menaikkan MKBD Tahun Ini - Dukung Pertumbuhan Pasar Modal

NERACA Jakarta – Bergerak dinamisnya pertumbuhan industri pasar modal dan termasuk meningkatnya kapitalisasi di pasar modal, mendorong Otoritas Jasa Keuangan…

China Diprediksi Akan Lewati AS Sebagai Pasar Otomotif Terbesar

China diproyeksikan akan melewati Amerika Serikat (AS) sebagai pasar otomotif terbesar dunia pada 2022, menurut Chief Executive Officer Nissan Motor…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Perlu Libatkan Lembaga Kajian Rumuskan Kebijakan

NERACA Jakarta – Pemerintah dinilai perlu melibatkan dan mempertimbangkan masukan serta rekomendasi yang konstruktif dari sejumlah lembaga kajian terpercaya dalam…

KEBIJAKAN DESENTRALISASI DINILAI BERMASALAH - Jokowi: Ada 42 Ribu Aturan Hambat Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi mengungkapkan, masih ada peraturan di tingkat pusat hingga daerah yang menghambat investasi, bahkan jumlahnya mencapai 42.000 aturan. Sementara…

Indef: Penciptaan Lapangan Kerja Era Jokowi-JK Paling Buruk

  NERACA Jakarta - Indonesia masih mengalami ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Salah satu caranya dalam mengatasi ketimpangan…