Makroekonomi Indonesia 2014

Rabu, 01/10/2014

Oleh: Abdul Manap Pulungan

Peneliti Indef

Pergerakan indikator makroekonomi Indonesia pasca pemilihan umum cenderung membaik, meski terjadi beberapa tekanan pada sejumlah asumsi. Pertumbuhan ekonomi masih jauh dari target akhir dalam APBN-P 2014 sebesar 5,5%. Hampir seluruh sektor melemah. Hanya konsumsi swasta dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang bergerak positif. Konsumsi pemerintah menurun tajam, dan tidak berbeda dengan kinerja ekspor bersih. Dengan situasi yang begitu, realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 hanya pada level 5,12%.

Inflasi cenderung membaik pada level 3,99% per Agustus 2014. Inflasi harga bergejolak (volatile food) pada angka 1,06%, sedangkan inflasi harga diatur pemerintah 5,49%, inflasi inti 4,47%. Potensi lonjakan inflasi mungkin terjadi, jika penaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dilaksanakan oleh presiden terpilih. Jika skenario demikian berlaku, maka inflasi diperkirakan jauh dari target dalam APBN-P 2014 sebesar 5,3%.

Nilai tukar dalam beberapa hari terakhir cenderung depreasi mendekati angka Rp12.000 per dolar AS. Sentimen domestik yang memengaruhinya dihubungkan dengan penantian pelaku pasar terhadap struktur kabinet baru. Hal lain yang terkait dengan itu adalah peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang, baik utang pemerintah dan swasta, serta pemenuhan kebutuhan impor minyak.

Utang pemerintah dan bank sentral hingga Juli 2014 mencapai US$134,15 miliar sedangkan utang swasta US$156,41 miliar. Sebanyak US$43,89 miliar atau 17,2% dari total utang merupakan utang jangka pendek. Struktur utang jangka pendek pada bulan yang sama adalah pemerintah US$994 juta (1,99%); bank sentral US$5,08 miliar (10,17%); dan swasta US$43,89 miliar (87,84%).

Potensi depresiasi rupiah masih dibayang-bayangi oleh kinerja transaksi berjalan. Sampai triwulan II-2014, defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$9,11 miliar. Dari transaksi barang, defisit terutama muncul dari migas mencapai US$10,67 miliar. Neraca jasa-jasa defisit US$2,92 miliar, dan neraca pendapatan primer defisit US$7,25 miliar; neraca pendapatan sekunder surplus US$1,53 miliar.

Sementara dari sisi global, sentimen yang muncul lebih didominasi oleh rencana kenaikan Fed Rate serta gejolak politik di beberapa negara, seperti semakin memanas hubungan antara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Rusia. Penambahan sanksi oleh Jerman kepada Rusia semakin memunculkan kekhawatiran dunia.

Dalam berbagai fora disebutkan beberapa hal yang berpengaruh besar terhadap pemenuhan target makroekonomi Indonesia sepanjang 2014. Pertama, perlambatan ekonomi China sebagai dampak dari kebijakan pemerintah China untuk mengelola situasi ekonomi yang lebih baik (rebalancing). China memperketat dan bahkan memperlambat pertumbuhan kredit terutama pada sektor yang berpotensi bubble seperti real estate. Pengaruh terhadap ekonomi nasional dapat digambarkan potensi penurunan ekspor. Ekspor Indonesia ke China dalam beberapa tahun terakhir menembus 11% dari total ekspor.

Ancaman capital outflow sebagai dampak lanjutan dari rencana The Fed menaikkan suku bunga kebijakannya. Ini akan menekan Rupiah serta menyebabkan lonjakan inflasi. Jika penaikan the Fed rate benar-benar dilaksanakan, maka potensi pelarian dana secara tiba-tiba (sudden reversal) sangat besar. Pencairan dana dalam bentuk mata uang asing (dolar AS) menjadi mata uang rupiah, menyebabkan jumlah rupiah meningkat dan menurunkan nilainya. Ini tidak baik untuk kondisi makroekonomi secara keseluruhan*