Stanchart Tidak Khawatir Pembatasan Kartu Kredit - Luncurkan Produk Khusus Travelers

NERACA

Jakarta - Standard Chartered Bank Indonesia mengaku tidak khawatir dan siap mendukung kebijakan pembatasan kartu kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, di mana setiap nasabah maksimal hanya memiliki dua kartu kredit dengan penghasilan maksimal Rp10 juta.

Rasa keyakinan tersebut muncul lantaran kantor cabang bank asal Inggris ini lebih banyak mengakuisisi nasabah kelas menengah ke atas. “(Nasabah kartu kredit) Lebih banyak di atas Rp10 juta. Ya, sekitar 80%,” terang Head of Credit Card Product Stanchart, Peter Widjaja, usai peluncuran Kartu Kredit Standard Chartered WorldMiles di Jakarta, Jumat (26/9), pekan lalu.

Sedikit informasi, bank sentral telah mengeluarkan aturan terkait “Alat Pembayaran Menggunakan Kartu,” di mana membatasi nasabah kartu kredit berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan hanya boleh memiliki empat buah kartu kredit dari dua penerbit per 1 Januari 2014.

Perbankan, baik BUMN maupun swasta nasional dan asing, yang menerbitkan kartu kredit ini pun diminta mendata ulang dan basis pemegang kartu kredit para nasabahnya. Hal ini dilakukan BI untuk menjaga risiko gagal bayar (default) dari para nasabah kartu kredit.

Kendati tidak mau merinci berapa jumlah pemegang kartu kreditnya, Peter mengaku tetap membidik masyarakat berpenghasilan di bawah Rp10 juta sebagai calon nasabah kartu kredit Stanchart.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan serta fasilitas para traveler, baik bertujuan berlibur maupun bisnis, Stanchart meluncurkan produk Kartu Kredit Standard Chartered WordMiles. Hal ini juga menjawab atas bertumbuhnya tren traveling di Indonesia.

Dengan diluncurkannya kartu kredit tersebut, Peter mengemukakan bahwa pihaknya menargetkan peningkatan pengguna kartu kredit hingga 50% pada 2015 mendatang. "Karena travelers di Indonesia sangat besar dan banyak yang bisa mengambil manfaat dari kartu kredit ini untuk bertransaksi di mana pun," paparnya.

Menyasar eksmod

Berdasarkan data dari Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (INACA), penumpang domestik Indonesia meningkat dua kali lipat pada 2013 menjadi 74,2 juta jiwa. Diperkirakan akan mencapai 100 juta jiwa pada 2015 dan menjadi 180 juta jiwa pada 2018 mendatang.

Senada dengan data tersebut, dia menambahkan, pihaknya juga melihat peningkatan tren nasabah yang menggunakan kartu kreditnya untuk "air miles" dan juga "rewards" yang berhubungan dengan perjalanan.

Untuk segmen pasar (market share) produk baru ini, dia menjelaskan, WorldMiles menyasar profesional dan eksekutif muda, berusia 30-45 tahun, berpenghasilan di atas Rp10 Juta per bulan serta pengguna kartu kredit kurang lebih Rp5 Juta per bulan. "Dan tentu sering melakukan transaksi perjalanan atau travel menggunakan e-commerce," tambah Peter.

Dengan kartu kredit ini pula, nasabah akan mendapatkan "miles" untuk setiap transaksi minimal senilai Rp7.500 yang bisa ditukarkan voucher hotel hingga tiket pesawat secara gratis. Kartu kredit WorldMiles yang diluncurkan di Indonesia ini adalah peluncuran yang kedua di dunia, setelah sebelumnya telah diluncurkan di Malaysia. [ardi]

Related posts