Basis Literasi Keuangan

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Keyakinan pasar modal Indonesia berpotensi tumbuh lebih besar dari pasar modal negara lain di kawasan, menjadi modal dasar bagi pelaku pasar dan termasuk otoritas pasar modal untuk memacu daya saing lebih besar lagi. Maka tak ayal menghadapi persaingan pasar bebas masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) 2015, otoritas pasar modal memiliki keyakinan untuk bisa terus tumbuh dengan berbagai alasan, seperti likuiditas yang besar, nilai harga saham yang tinggi dan produk investasi.

Ironisnya, keyakinan industri pasar modal untuk menguasai kawasan belum menghitung tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih rendah yaitu 28%, lebih rendah dibanding Malaysia yang mencapai 66%, Singapura 98% dan bahkan Thailand mencapai 73%. Selain itu, data OJK menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap produk-produk industri keuangan juga masih rendah atau sekitar 43%.

Berdasarkan kelompok pekerjaannya, masyarakat yang melek akan keuangan masih didominasi oleh pekerja formal sebesar 45,62%, sedangkan pekerja nonformal sebesar 40,7%. Sementara di tingkatan pelajar dan ibu rumah tangga jumlahnya masih rendah atau masing-masing 8,64% dan 2,18%. Masih rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat dalam negeri, menjadi alasan banyak investor dalam negeri mudah tertipu dengan imbalan keuntungan di luar kewajaran dan minimnya akses masyarakat terhadap industri keuangan.

Contoh kasus Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada yang menggelapkan dana nasabahnya sebesar Rp 3,1 triliun menjadi bukti literasi keuangan atau melek finansial masyarakat masih rendah. Dari kasus tersebut, menggambarkan banyak masyarakat yang masih tergiur dengan keuntungan besar yang ditawarkan produk-produk industri keuangan. Padahal masyarakat yang menjadi nasabah memiliki pendidikan tinggi. Artinya, orang-orang yang jadi korban investasi bodong, bukan orang yang tidak berpendidikan, tetapi banyak orang berpendidikan bisa jadi korban bila belum terjamah soal edukasi literasi keuangan.

Oleh sebab itu, pentingnya meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat dimaksudkan salah satunya untuk melindungi dari penipuan dan disamping perencanaan keuangan yang matang guna mandiri dalam finansial. Bila tingkat literasi keuangan masih rendah, bagaimana pasar modal dalam negeri mampu meningkatkan daya saing. Pasalnya, kunci untuk memenangi persaingan pasar bebas nanti adalah tingkat sumber daya manusia-nya, dan termasuk investor. Bila hal ini tidak dihiraukan, pasar modal Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi investor asing ketimbang investor lokal.

Bagaimanapun juga, guna memacu pertumbuhan pasar modal menghadapi persaingan tidak bisa lepas dari memperkuat investor lokal. Hal ini dimaksudkan agar likuiditas di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mudah rapuh terhadap guncangan sentimen global dan sebaliknya makin solid karena pertimbangan negara sendiri.

Persoalan klasik kurangnya sosialisasi dan edukasi soal literasi keuangan menjadi pekerjaan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang belum selesai. Maka guna mensukseskan meningkatkan literasi keuangan tidak bisa lepas dan sinergi dengan perusahaan swasta baik perbankan dan non bank untuk menjangkau masyarakat lebih luas lagi, termasuk industri pasar modal. Maka dengan basis investor lokal yang solid dan kuat, bukan mustahil pasar modal dalam negeri bisa menjadi market leader di Asia serta mampu meningkatkan peran lebih besar terhadap ekonomi dalam negeri.

BERITA TERKAIT

Asuransi Simas Sambangi Siswa Bukittinggi - Edukasi Literasi Keuangan

NERACA Jakarta - Asuransi Sinar Mas (Simas) melanjutkan literasi keuangan untuk mendukung kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka meningkatkan…

Sequis Mencatat Kinerja Keuangan Positif di Kuartal III/2017

  NERACA   Jakarta - Director & Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Sequis Life Edisjah menjelaskan, Sequis Life kembali…

Istri Nelayan Diberdayakan Lewat Edukasi Keuangan - Tingkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga

Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung perluasan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, HSBC bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…