Ketika Aliran Gas Bumi Sudah Menjangaku Rusun - Mengoptimalkan Energi Bersih

NERACA

Jakarta-Kebutuhan energi baru terbarukan saat ini menjadi hal yang mendesak untuk menujang kebutuhan hajat hidup orang banyak. Hal ini dirasakan, lantaran keterbatasan energi fosil dan tingginya konsumsi masyarakat atas energi saat ini. Oleh karena itu, guna keberlanjutan hidup dan perekonomian, pemerintah sudah jauh hari mengkampanyekan energi baru dan terbarukan. Saat ini, energi alternatif yang dimungkinkan adalah gas bumi dengan pertimbangan besarnya produksi gas ketimbang tingkat konsumsinya.

Selama ini, produksi gas bumi sekitar 48% di ekspor ke luar negeri mulai dari Singapura hingga China. Sementara pemanfaatan energi tersebut didalam negeri masih minim. Maka atas pertimbangan tersebut, guna memaksimalkan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri sebagai energi yang ramah lingkungan, bersih dan lagi efisien. Pemerintah mendorong PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bersama Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menggerakkan transformasi energi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas bumi.

Meskipun pemerintah telah menggalakkan energi gas bumi, kata Kepala Departemen Komunikasi Korporat PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Rida Ababil, tidak mudah untuk memperluas jaringan penyaluran gas bumi,”Hambatannya, pertama investasi pipa yang mahal, susahnya perizinan, karena untuk pasang pipa tentu perlu izin dari Pemda. Kemudian, alokasi gas untuk PGN yang bisa disalurkan untuk industri dan rumah tangga di Indonesia,”ujarnya.

Namun hal tersebut, menjadi tantangan bagi PGN untuk memberikan akses bagi masyarakat kebawah, khususnya ibu rumah tangga untuk memanfaatkan gas bumi. Bahkan dengan menggunakan gas bumi, diklaim lebih hemat Rp 150 ribu per bulan.

Hal inipun diakui, Direktur Gas Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Djoko Siswanto, gas bumi itu jauh lebih murah dibandingkan menggunakan elpiji,”Biasanya rumah tangga habis dua tabung elpiji ukuran 12 kg per bulan atau sekitar Rp 200.000 lebih, pakai gas bumi hanya Rp 50.000 per bulan bahkan kurang dari itu,”ungkapnya.

Kemudian untuk akselerasi percepatan infrastruktur penyaluran gas bumi, PGN terus banyak perluas jaringan gas bumi ke rumah tangga. Bahkan untuk mengoptimalkannya, PGN menjadikan telah menjadikan DKI Jakarta sebagai role model Kota Gas di Indonesia.

Jangkau Rusun Marunda

Salah satu upaya menjadikan DKI Jakarta sebagai role model kota gas adalah meresmikan penyaluran gas bumi di rumah susun (rusun) Marunda, Jakarta Utara. Dimana PGN bekerjasama dengan Kementerian ESDM dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dijelaskan, pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) ini sendiri merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi dan menekan subsidi BBM serta mendorong penggunaan energi yang lebih bersih.

Melihat begitu besarnya manfaat gas bumi, menjadi asalan bagi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk menerapkan penggunaan gas bumi dalam segala sektor di Jakarta. Walaupun sampai saat ini baru ada sekitar sebelas rusun yang menggunakan, dia menargetkan dalam 2-3 tahun mendatang sudah dapat diterapkan secara keseluruhan,”Kita usahakan 2-3 tahun ini bisa tersambung. Gas bumi ini ada di negara kita jadi enggak perlu impor. Kalau BBM kan impor. LPG sebagian impor sekitar 60%," jelasnya.

Menurutnya, penggunaan gas bumi memang jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan Elpiji. Namun, Jokowi mengungkapkan, biaya terbesar akan dikeluarkan untuk pembangunan pipa utama untuk menyalurkan ke rumah susun, apartemen atau industri,”Infrastruktur hemat, yang mahal itu pipa utamanya. Sekarang dibangun BP Migas. Masuknya nanti yang pertama mungkin bisa PGN, mungkin bisa Pemprov. Dua-duanya bisa sambung nanti lebih cepat," jelasnya.

Sementara Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso menjelaskan, pada tahap awal terdapat sebanyak 500 unit rumah di kluster A yang sudah terpasang pipa gas PGN dan menyusul selanjutnya sebanyak 200 unit rumah disana. Dari jumlah tersebut 280 unitnya telah dialiri gas PGN yang nantinya secara bertahap seluruh rumah akan dapat merasakan manfaat gas bumi PGN.

Dia menambahkan, penyaluran gas bumi ke rusun Marunda ini merupakan bagian dari komitmen PGN untuk mendukung upaya pemerintah mewujudkan konversi ke gas bumi, khususnya program dari Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan ibukota Jakarta sebagai kota berbasis gas bumi,”PGN akan terus mendukung langkah-langkah Kementerian ESDM dan Pemprov DKI Jakarta dalam melakukan konversi BBM ke gas bumi yang terbukti lebih efisien, ramah lingkungan dan aman. Dengan gas bumi kita bersama-sama mewujudkan Indonesia yang makmur dan mewariskan lingkungan yang bersih kepada anak cucu kita nanti,”ujar Hendi.

Kata Hendi, peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga di Jakarta merupakan bagian dari Program PGN Sayang Ibu, yaitu program sejuta sambungan gas bumi bagi rumah tangga di Indonesia. Program yang diinisiasi oleh PGN ini merupakan bukti komitmen dan konsistensi PGN dalam mewujudkan konversi ke gas bumi, khususnya di sektor rumah tangga.

Pengembangan jaringan dan peningkatan pelanggan gas rumah tangga juga dilakukan PGN diantaranya bagi pelanggan rumah tangga untuk rumah tapak di wilayah Klender, Tebet, Rawamangun dan Menteng serta rumah susun yang berada di sejumlah lokasi di Jakarta. (bani)

Related posts