Aset dan Utang Global Meningkat - Laporan Allianz Global

NERACA

Jakarta - Allianz kembali meluncurkan edisi kelima “Global Wealth Report”, yang menyoroti situasi aset dan utang rumah tangga pribadi di lebih dari 50 negara di dunia. Berdasarkan penemuan yang dilaporkan, secara global, aset keuangan bruto bertumbuh 9,9% pada 2013 atau merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2003 atau 10 tahun silam.

Angka ini menyebabkan total aset keuangan secara global mencatatkan rekor baru, yaitu 118 triliun euro. Di kawasan Asia, kecuali Jepang, tingkat pertumbuhan juga melamban namun tetap di tingkat yang baik, yaitu 16,8% meskipun angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju seperti Amerika Utara, yaitu 11,7%, Jepang 6,1% atau Eropa Barat 5,2%.

Terkait pengembangan jangka panjang, kawasan Asia tetap berada di bawah kawasan Eropa Timur, atau di peringkat dua di antara kawasan lainnya di seluruh dunia, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13,6% per tahun sejak 2000 silam.

“Apabila dilihat dari pertumbuhan aset tanpa menghitung tingkat inflasi, posisi antar kawasan akan sedikit berbeda. Asia, kecuali Jepang, saat ini berada di atas Amerika Latin (5,5%) dengan pertumbuhan sedikit di bawah 10% per tahun dan juga di atas Eropa Timur dengan meraih pertumbuhan 6% per tahun sejak tahun 2000,” kata Michael Heise, Chief Economist Allianz, seperti dikutip di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, pada 2013 aset keuangan bruto pada rumah tangga di Indonesia meningkat 16,3% atau kurang lebih sejalan dengan rata-rata kawasan, yaitu 16,8%. Tabungan deposito masih menjadi instrumen yang paling diminati, dengan total portofolio sebesar 50% dari total aset.

Sebaliknya, asuransi jiwa dan dana pensiun turun hingga kurang dari 20%. Sejak 2007, aset keuangan bruto meningkat tiga kali lipat. Selebihnya, dari aspek jangka panjang, pertumbuhan aset di Indonesia akan terus spektakuler, di mana pertumbuhan aset sebesar 16,4% per tahun sejak akhir 2000, yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi ketiga di kawasan setelah China dan India.

Bukan hanya aset yang mengalami pertumbuhan di tahun lalu, utang, termasuk Kredit Pemilikan Rumah, turut meningkat. Dengan angka 3,6% pertumbuhan utang merupakan yang tercepat pasca terjadinya krisis ekonomi 2008. Di kawasan Asia, kecuali Jepang, utang personal meningkat 15,8% di 2013 atau lebih dari 4.300 miliar euro. “Hal ini menunjukkan bahwa, tidak seperti pertumbuhan aset, pertumbuhan utang mengalami peningkatan yang pesat,” terang Heise.

Di Indonesia, kewajiban rumah tangga meningkat 15%, di bawah rata-rata pertumbuhan tahun sebelumnya tetapi masih lebih cepat dibandingkan angka PDB. Sebagai hasil dari merajalelanya angka kredit di masa lalu, rasio utang di kawasan (rasio utang terhadap aktivitas perekonomian umum) meningkat di bawah 40% pada akhir 2013.

“Di beberapa negara lain di kawasan seperti Malaysia atau Korea Selatan, rasio utang sudah lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat dengan angka lebih dari 80%,” kata dia. Adapun Indonesia dengan angka 17% atau kedua terendah di kawasan setelah India. Ini berarti secara global aset keuangan bersih sudah dikurangi kewajiban, menunjukkan pertumbuhan mencapai dua digit yaitu 12,4% pada 2013. [ardi]

BERITA TERKAIT

Manfaat Laporan BPK?

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) baru-baru ini mengumumkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) sepanjang semester I-2017. Dari pemeriksaan itu ditemukan 1.137 ketidakpatuhan…

Minat Investasi di Pasar Modal Meningkat - Investor di Kalsel Tumbuh

NERACA Banjarmasin – Besarnya tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham dengan menggandeng beberapa perusahaan…

IMF Soroti Reformasi Struktural dan Kesenjangan

NERACA Jakarta-Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan, tiga prioritas utama yang harus dilakukan untuk memperkuat pemulihan ekonomi global yang saat ini…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III…

Bangun Infrastruktur SID Butuh Rp650 miliar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan biaya untuk investasi pembangunan infrastruktur Sistem Informasi Debitur atau…

BNI Dukung Peremajaan Kelapa Sawit

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mendukung program pemerintah dalam percepatan peremajaan…