Anak Tidak Perlu ‘Steril’ Dari Nilai Negatif Kehidupan Pada TV

NERACA

Seiring dengan kemajuan teknologi, hampir setiap keluarga memiliki media televisi sebagai salah satu media yang paling mudah diakses. Sayangnya, secara kualitas tayangan yang ditampilkan sangat minim. Saat ini banyak tayangan televisi terutama sinetron maupun iklan yang dinilai tidak mendidik bagi anak-anak.

Secara tidak langsung, hal itu berdampak pada perilaku atau karakter anak. Jika sejak kecil sudah terbiasa nonton tayangan, di televisi tentang kekerasan, jangan salahkan mereka kalau kemudian jadi terbiasa. Dan yang memprihatinkan kalau kemudian itu menjadi sesuatu yang biasa. Terkait tayangan yang dinilai berdampak negatif bagi anak, beberapa kali Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menegur beberapa stasiun televisi.

Menanggapi tontonan yang dianggap negatif, Psikolog Tika Bisono mengatakan anak tidak perlu "steril" atau dijauhkan dari nilai negatif kehidupan pada tontonan televisi. Dalam talkshow "Learning Through Children Lens" di Kota Kasablanka Dia mengatakan, anak perlu mempelajari baik nilai yang positif maupun negatif.

"Tontonan yang baik itu mengandung semua unsur kehidupan, bukan semuanya baik atau positif tetapi juga yang buruk atau negatif karena negatif pun anak-anak perlu belajar," kata Tika Bisono di Jakarta belum lama ini

Menurut Tika, orang tua tidak perlu takut jika anak mengenal nilai negatif kehidupan seperti putus asa, kecewa, menangis, sedih lewat apa yang ditonton di acara televisi. Mengenal nilai negatif kehidupan akan membantu memperkokoh kepribadian anak menjadi tangguh dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk.

"Anak harus memahami nilai yang baik dan buruk agar terlatih untuk berhadapan dengan yang keras yang jelek, karena kehidupan tidak selamanya mulus, baik semua, ada juga sedih, mengalah, paling tidak anak kenal dulu," jelas dia.

Orang tua, lanjut Tika, berperan menjelaskan penyebab tokoh yang ditonton menangis atau berteriak. Jika mereka dilarang menonton, justru anak akan mencari tahu, dan akhirnya belajar sendiri tanpa pemahaman yang benar

Selain itu, Psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut juga mengingatkan orang tua harus selektif memilih tontonan yang sesuai dengan umur anak. Dia mengingatkan, balita belum bisa memilah mana yang baik dan buruk.

"Jangan biarkan anak tonton televisi sendirian, menonton semua channel, bahaya kalau tonton film atau tayangan khusus dewasa," kata dia.

BERITA TERKAIT

Pertimbangkan Kondisi Pasar - Anak Usaha BUMN IPO di Paruh Kedua

NERACA Jakarat – Sejak pembukaan perdagangan di tahun 2019, baru tiga perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi…

Diversifikasi Ke Pasar On-Road Truck - Kobexindo Pasarkan Foton Truck dari Beijing

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan penjualan, PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) melalui anak perusahan PT Kobexindo Foton Indonesia resmi menjadi…

FMM Bangsa Indonesia Ingin Pemilu 2019 Bebas dari Kecurangan

FMM Bangsa Indonesia Ingin Pemilu 2019 Bebas dari Kecurangan NERACA Jakarta - Sejumlah tokoh yang tergabung dalam Forum Musyawarah Majelis…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Pentingnya Peran Peneliti untuk Mitigasi Bencana

  Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sri Sunarti Purwaningsih menilai pentingnya peran peneliti dan…

Perlukah Fatwa Haram untuk Games PUBG?

      Games Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) semakin banyak menjadi perbincangan. Selain di kalangan anak muda yang gemar…

Pendidikan Swasta Perlu Diperkuat

    Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rhenald Kasali melihat laporan bank Dunia tentang indeks Modal Insani 2018 menguatkan…