Coretan Merah di PR Matematika Pangkas Kreativitas Anak

NERACA

Beberapa waktu lalu jagad media sosial Facebook sempat dihebohkan dengan beredar Pekerjaan Rumah (PR) murid kelas dua SD bernama Habibi. Soal perkalian menjadi perdebatan karena ada perbedaan konsep dalam menjawab.

Dari 10 soal, hanya dua soal yang benar. Tidak terima dengan penilaian guru, Erfas (kakak Habibi) yang membantu menyelesaikan PR mengunggahnya di media sosial itu. Salah satu soalnya, 4+4+4+4+4+4= 4x6= 24 namun guru menganggap salah, versi yang benar adalah 4+4+4+4+4+4= 6x4= 24. Meski hasilnya sama, namun proses berbeda sehingga disalahkan.

Setelah soal diunggah 18 September lalu, beragam tanggapan, baik pro maupun kontra bermunculan. Sadar hal itu menjadi perdebatan cukup alot, Erfas pun mengajak teman-temannya untuk tidak merasa paling benar.

"Jadi alangkah baiknya kita saling berpikir terbuka, saling menghargai pendapat masing-masing," ujar Erfas dalam akun miliknya

Permasalahan perbedaan tempat antara 4 dan 6 di soal siswa kelas 2 SD bukan hal yang urgen. Menjadi serius ketika guru memberikan pemahaman kontekstual terhadap konsep matematika anak SD.

Pemerhati perempuan dan anak Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan seharusnya guru jangan terlalu kaku dalam mengajarkan matematika pada tingkatan Sekolah Dasar (SD).

"Jadi memang anak perlu dikasih tahu prosesnya bukan hanya hasil, karena jika anak hanya diajari hasilnya anak akan berfikir instan," ujar Giwo, di Jakarta belum lama ini

Meskipun begitu, guru juga tidak boleh membakukan pilihan satu proses. Sebaiknya guru membuka ruang beragam cara, agar anak memiliki kemampuan berpikir dengan baik.

"Karena tidak menutup kemungkinan anak memilki cara lain yang mungkin lebih kreatif," jelas dia.

Pembakuan satu proses dari guru, sambung dia, akan "memangkas" kreatifitas anak. Prinsipnya, jika hasilnya sama, siswa perlu diberikan keleluasaan untuk memilih proses yang dikehendaki.

"Dengan demikian, logika akan berkembang dengan baik," tambah Mantan Ketua KPAI itu.

Ketua Umum Kowani, Dewi Motik Pramono, mengatakan anak SD belum cocok untuk diajarkan konsep.

"Matematika itu mudah dan realita. Jadi, anak itu jangan ditakuti-takuti jika ingin bisa menguasai matematika," kata Dewi.

Sedangkan menurut pakar pendidikan Arif Rahman, pemberian nilai setiap guru kepada muridnya memang berbeda-beda. Dia mencontohkan, dalam kasus ini bisa saja guru matematika yang lain membenarkan jawaban yang dibuat oleh Habibi.

"Untuk menyelesaikan masalah seharusnya, orangtua murid, guru yang bersangkutan, dan pihak sekolah duduk bareng membahas hal ini," jelas Arif yang merupakan guru besar UNJ tersebut.

Tak berhenti disitu, Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Ibnu Hamad, turut berkomentar mengenai PR Matematika tersebut.

Dia mengatakan, guru merupakan salah satu tolok ukur pendidikan. Oleh sebab itu, guru diberikan pelatihan agar menyampaikan ilmu secara baik.

"Sampai saat ini kami sudah melatih 1,3 juta guru. Kami latih mereka agar siap. Kenapa? Karena kami sadar peran mereka," jelas Ibnu.

BERITA TERKAIT

Telkomsel Bantu 5000 Anak Yatim Piatu di 4 Kota - Berbagi Kasih dan Sukacita Sambut Natal

Berbagi kebahagian dan kecerian dalam rangka menyambut hari raya Natal 2017, Telkomsel menggelar rangkaian kegiatan kepedulian sosial dengan tema “Saatnya…

Metrodata Merger Dua Anak Usaha - Tingkatkan Daya Saing

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi dan menekan efisiensi, dua entitas bisnis PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL),…

AKR Corporindo Raup Dana US$ 90 Juta - Divestasi Anak Usaha di China

NERACA Jakarta – Tekan efisiensi untuk menunjuang ekspansi proyek baru, perusahaan kimia PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) bersiap menarik investasinya…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Sekolah Umum Tempat Tumbuhkan Radikalisme?

    Kementerian Agama menyebut radikalisme di dunia pendidikan justru tumbuh di sekolah umum dengan salah satu pemicunya waktu ajar…

15 Kepala Daerah Terima Penghargaan Kihajar

  15 Kepala Daerah di Indonesia menerima penghargaan Anugerah Kita Harus Belajar (Kihajar) 2017. Para kepala daerah ini terdiri dari…

237 SMK Terima Sertifikasi LSP-P1

      Sebanyak 237 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menerima Sertifikat Lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak 1 (LSP-P1) dari Badan…