Tambah Modal, BII Terbitkan Rights Issue - Jaga Kecukupan Modal di Level 14%

NERACA

Jakarta – Ketatnya likuiditas perbankan saat ini, memaksa perbankan nasional untuk berlomba-lomba mencari tambahan modal guna mendanai ekspansi bisnis kedepannya. Banyak cara dilakukan perbankan untuk mendanai ekspansi usahanya, seperti suntikan modal dari induk usaha, penerbitan obligasi atau rights issue. Langkah inilah yang akan dilakukan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) yang akan menerbitkan saham baru atau rights issue senilai Rp 1,5 triliun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Perseroan dalam aksi korporasi penerbitan rights issue akan menggunakan laporan keuangan kuartal ketiga tahun ini dan pembukuan September 2014. Dijelaskan, dengan penerbitan rights issue, nantinya rasio kecukupan modal (CAR) perseroan akan di jaga di level 14% hingga akhir tahun.

Saat ini, posisi CAR perseroan berada di 13,8%. Maka untuk memuluskan aksi korporasi tersebut, perseroan akan mengajukan izin ke OJK pada Oktober mendatang. Sepanjang semester pertama tahun ini, laba Bank International Indonesia (BII) mencatatkan penurunan laba bersih 50% menjadi Rp 344,97 miliar dari priode yang sama tahun lalu mencapai Rp 690,07 miliar.

Presiden Direktur BII, Taswin Zakaria pernah bilang, penurunan laba bersih disebabkan marjin bunga bersih (NIM) yang tergerus oleh biaya dana yang naik signifikan hingga 50%. "Nah, kenaikan biaya dana itu tidak serta merta bisa dikompensasikan dengan kenaikan suku bunga kredit,”ujarnya.

Selain itu, pada semester pertama tahun ini, pendapatan bunga bersih BII mencapai Rp 2,95 triliun. Angka itu naik 4,98% dari posisi akhir Juni tahun lalu yang mencapai Rp 2,81 triliun. Sayang, pertumbuhan pendapatan bunga yang tipis itu tak bisa berbuat banyak mengingat beban operasional bersih BII justru meningkat jadi Rp 2,44 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,85 triliun.

Hingga Juni, BII menyalurkan kredit Rp 97,6 triliun atau tumbuh 3,28% secara year to date dari akhir tahun lalu yang mencapai Rp 94,5 triliun. Sementara secara year on year dibandingkan Juni tahun lalu, kredit BII tumbuh 24,65% dari posisi Rp 78,3 triliun. BII menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 105,9 triliun atau turun 1,21% dari akhir tahun lalu Rp 107,2 triliun. Namun secara year on year DPK BII naik 16,24% dari posisi Rp 91,1 triliun di akhir Juni 2013. (bani)

BERITA TERKAIT

Wakil Ketua MPR RI - Bangsa Indonesia Agar Komit Jaga Pancasila-NKRI

Ahmad Basarah Wakil Ketua MPR RI Bangsa Indonesia Agar Komit Jaga Pancasila-NKRI Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah…

Pasar Modal di 2019 Lebih Menggairahkan - Tekanan Sudah Mereda

NERACA Jakarta – Bila sebagian pelaku pasar menilai tahun politik di 2019 mendatang, menjadi  kondisi yang cukup mengkhawatirkan di industri…

Hotel Mandarine Bakal Gelar Rights Issue

Perkuat modal dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) berniat menerbitkan saham dengan hak memesan efek…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…