Ketika Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Terampil - Menggugah Perempuan Bijak Finansial

NERACA

Jakarta – Pepatah bijak mengatakan, dibalik kesuksesan pria, ada wanita hebat di belakangnya. Hal ini menggambarkan betapa hebatnya peran seorang wanita, khususnya sang istri dalam mengelola rumah tangga, baik itu urusan keuangan ataupun pendidikan bagi sang anak. Ya kemampuan keluarga dalam mengatur keuangan sangat mungkin memiliki ketergantungan besar di pihak perempuan. Hal ini didasarkan survei bahwa 51,1% keluarga, pengelolaan keuangannya diatur oleh istri.

Sementara hasil survey lainnya menunjukkan bahwa 75% keuangan rumah tangga dikelola oleh istri. Disamping itu, wanita juga mengelola 89% rekening keluarga. Begitu besarnya dominasi istri dalam perencanaan keuangan keluarga, hal ini menjadi gambaran jelas bila dewasa ini perempuan memiliki peran yang lebih besar dibanding pria dalam hal pengaturan keuangan keluarga. Pasalnya, jika salah dalam perencanaan keuangan maka sebuah keluarga akan mengalami kendala yang bisa saja meruntuhkan pondasi dari keluarga itu sendiri dan hal inilah yang harus dicermati para perempuan yang memang semestinya melek finansial.

Survei lainnya juga mengungkapkan, hanya 26% perempuan Indonesia memiliki rencana keuangan dan pensiun yang matang. Temuan ini cukup mengkhawatirkan dan membuktikan bahwa perempuan Indonesia ke depannya harus cermat dalam mempersiapkan diri menjelang masa pensiun mereka agar dapat memiliki kemandirian finansial. Untuk memulai kemandirian finansial, dibutuhkan informasi dan pengetahuan memadai yang dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Namun persoalannya, minimnya edukasi dan sosialisasi akan pentingnya melek finansial menjadi masalah klasik dan hambatan bagi perempuan untuk mudah mengakses industri keuangan. Alhasil, imbas minimnya edukasi, banyak ibu rumah tangga sulit mengerem belanja kebutuhan rumah tangga antara kebutuhan dan keinginan. Dampak lainnya lebih luas, banyak juga masyarakat tertipu investasi bodong dengan berbagai macam produk yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal. Persoalan lainnya, merencanakan keuangan bagi sebagian perempuan terkadang menjadi sesuatu yang dianggap problematis dan rumit.

Kenyataan ini didasari pada kenyataan bahwa perempuan cenderung menggunakan pendekatan yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan sehingga terkadang mereka merasa kurang percaya diri untuk memulai investasi. Walau demikian, aspek kehati-hatian ini dapat menghindari perempuan dari keputusan investasi yang salah.

Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta, Tri Endang Sulistyowati mengatakan, kesadaran akan pentingnya memiliki kemandirian finansial dan kesiapan menjelang hari tua melalui investasi merupakan dua hal yang harus dipersiapkan sejak dini oleh semua perempuan Indonesia,”Kesadaran melek finansial ditengah kompleksnya produk investasi saat ini, sudah menjadi kebutuhan. Disamping itu, kemandirian finansial juga untuk melindungi dari kejahatan industri keuangan,”ungkapnya.

Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, pentingnya melek finansial bagi ibu rumah tangga dimaksudkan untuk meningkatkan taraf kehidupan dan ekonomi keluarga lebih baik lagi. Meskipun perempuan dianggap memiliki tingkat pengelolaan keuangan yang lebih baik daripada laki-laki. Maka diharapkan dengan edukasi yang diberikan tepat sasaran dan mudah dipahami, bukan tidak mungkin kaum perempuan memiliki tingkat pengelolaan yang jauh lebih baik lagi.

Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Kata anggota komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Setiono, bila kesadaran perempuan dalam pengelolaan keuangan makin meningkat menjadi sebuah keterampilan yang mumpuni, bukan tidak mungkin akan mendongkrak kehidupan dan ekonomi keluarga,” Pentingnya edukasi melek finansial merupakan investasi panjang untuk membawa masyarakat menjadi lebih baik dan sejahtera,”ujarnya.

Edukasi finansial, lanjutnya, juga tantangan bagi OJK untuk meningkatkan daya saing masyarakat Indonesia ditengah persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pertimbangannya, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah, baru 28% dibanding Malaysia mencapai 66%, Singapura 98% dan bahkan Thailand mencapai angka 73%.

Selain itu, data OJK menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap produk-produk industri keuangan juga masih rendah atau sekitar 43%. Berdasarkan kelompok pekerjaannya, masyarakat yang melek akan keuangan masih didominasi oleh pekerja formal sebesar 45,62%, sedangkan pekerja nonformal sebesar 40,7%. Sementara di tingkatan pelajar dan ibu rumah tangga jumlahnya masih rendah atau masing-masing 8,64% dan 2,18%.

Menjawab kebutuhan masyarakat akan industri keuangan yang mudah diakses, OJK telah mengagendakan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya melek finansial dengan mengajak seluruh pelaku jasa keuangan melalui program literasi keuangan. Bak gayung bersambut, hal ini disambut positif PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) yang telah melakukan program peningkatan kesadaran masyarakat akan industri asuransi dan melek finansial. Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah dengan mendukung CARE for the Nation, sebuah program komunitas yang dirancang untuk membantu generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kemampuan melek finansial.

Menurut Bert Paterson, Presiden Direktur Sun Life, seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial,”Untuk itu pada 2012, sebuah program komunitas (Champion Teens Care for the Nation) didirikan untuk membantu 40.000 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bali untuk memperoleh keterampilan yang bertujuan untuk membangun bisnis mikro mereka sendiri,”jelasnya.

Dia juga menambahkan, dengan memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan menanamkan kepercayaan diri pada generasi muda, hal tersebut akan membantu mereka dalam membuat keputusan keuangan secara matang dan efektif. Ketrampilan-ketrampilan ini akan bermanfaat pula dalam kehidupan mereka sebagai orang dewasa dan juga wirausaha

Sebenarnya, apa yang dilakukan Sun Life ini memiliki dampak yang positif bagi kaum perempuan dan para pengusaha di level UMKM. Pasalnya, besarnya jumlah perempuan dan ‘kebalnya’ sektor UMKM terhadap krisis ekonomi memicu penguatan dasar perekonomian Indonesia berdasarkan sektor riil. (bani)

BERITA TERKAIT

HIPMI Inginkan Jakarta Lebih Baik - Punya Gubernur Baru

    NERACA   Jakarta - Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (BPD Hipmi Jaya) mengharapkan Gubernur…

Mitra Keluarga Baru Serap Dana IPO 37%

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) belum menyerap sepenuhnya dana hasil initial public offering (IPO). Sisa dana tersebut juga masih…

Kemitraan Indonesia-Uni Eropa Didorong Lebih Seimbang

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong perundingan dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

ADHI Baru Serap Obligasi Rp 966,73 Miliar

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) baru menggunakan dana hasil penerbitan obligasi berkelanjutan II Tahap I Tahun 2017 sebesar Rp966,73 miliar…

Lagi, CIMB Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) akan melakukan penawaran obligasi berkelanjutan II tahap III tahun 2017 dengan jumlah pokok Rp2…

Tawarkan Hunian Terjangkau - APLN Rampungkan Tower Pertama PGV

NERACA Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melalui PT Graha Tunas Selaras merampungkan pembangunan tower pertama Podomoro Golf…