Indonesia Mulai Dipadati Tenaga Kerja Asing

NERACA

Jakarta - Pekerja terlatih Indonesia masih kesulitan menembus pasar tenaga kerja di luar negeri lantaran tak memiliki sertifikat standar internasional. Sebaliknya, saat ini, Indonesia mulai dibanjiri oleh 120 ribu pekerja asing bersertifikat internasional.

"Memang di era global saat ini terdapat mata uang baru namanya sertifikat internasional," ucap Sekretaris Jenderal Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Abdul Wahab Bankona usai menghadiri diskusi bertema "The Implementation of Mutual Recognition of Skills in ASEAN", di Jakarta, Rabu (24/9).

Sebenarnya, menurut Abdul, Indonesia dengan jumlah penduduk usia produktif besar, memiliki potensi untuk bersaing di pasar tenaga kerja internasional. Sayang, bonus demografi itu belum bisa dioptimalkan lantaran keterbatasan infrastruktur.

"Lagi-lagi kalau kita bicara tentang level nasional kita masih rendah. Padahal kita punya chance karena populasi kita besar. Katakanlah dari 100 pasar yang ada, kita bisa saja mengambil 50%-75%," terangnya.

Untung, pemerintah sudah memiliki Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sejak berdiri 2006, BNSP telah menerbitkan jutaan sertifikat internasional bagi tenaga kerja Indonesia.

"Karena itu kan masing-masing sektor yang melaksanakan. Ada lembaga sertifikasi sendiri tapi lisensi oleh BNSP," ucapnya.

Abdul menambahkan, upaya sertifikasi pekerja Indonesia juga harus diiringi dengan pemerataan pembangunan infrastruktur. "Umpamanya di bidang tourism, kalau Jabodetabek ini tenaga tourism sudah banyak dan tersedia, tapi begitu kita sampai ke Maluku, Papua dan Ambon, kita lihat bagaimana ketidakprofesionalan pelayanan hotel," tandasnya.

namun begitu, Dia pun mengakui faktor penyebab lemahnya daya saing tenaga kerja lokal dengan asing tersandung oleh kepemilikan sertifikat standard internasional. Selain itu, tak produktifnya tenaga kerja Indonesia disebut imbas dari tidak meratanya pembangunan pada setiap wilayah. Harusnya Indonesia mempunyai peluang besar untuk bersaing di pasar global dalam sektor ketenagakerjaan.

"Lagi-lagi kalau kita bicara tentang level nasional kita masih rendah. Padahal kita punya chance karena populasi kita besar. Katakanlah dari 100 pasar yang ada, kita bisa saja mengambil 50%-75%," ungkapnya.

Masalah ini diperberat dengan fakta bahwa saat ini terdapat sekitar 120 ribu tenaga kerja asing di dalam negeri. Gempuran tenaga kerja asing ke dalam negeri ini semakin menggeser keberadaan tenaga kerja lokal. Pasalnya, para tenaga kerja asing tersebut dinilai lebih mempunyai kemampuan lantaran telah mengantongi sertifikat berstandard internasional.

Namun, dirinya berkilah tingginya serbuan tenaga kerja asing merupakan cerminan ciri negara maju. "Kita harus tahu bahwa semakin maju negara, maka pengembangan sumber daya manusia (SDM) juga makin maju," pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Ekonomi Kreatif Masa Depan Indonesia

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten Deputi Humas Kementerian Sekretariat Negara Gelombang Revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai…

Kemkumham: Jumlah Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia Terus Bertambah

Kemkumham: Jumlah Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia Terus Bertambah NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Hukum dan HAM bidang Penguatan Reformasi…

Indeks Pensiun Indonesia Naik

  NERACA   Jakarta - Indeks Pensiun Global Melbourne Mercer 2018 menunjukkan peningkatan yang signifikan bagi Indonesia sehingga sistem pensiun…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…