RI Jadi Tuan Rumah Asian Pasific Aquaculture 2016 - Agar Dunia Lebih Melirik Industri Perikanan Budidaya Indonesia

NERACA

Jakarta – Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar produk perikanan dunia dan perkembangan usaha budidaya perikanan di Indonesia yang cukup pesat, semakin menarik minat investor dari luar negeri. Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk lebih mengenalkan industri perikanan budidaya Indonesia kepada dunia adalah melalui seminar dan pameran bertaraf internasional seperti Asian Pacific Aquaculture: Conference and Exhibition 2016 (APA 2016).

“Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan seminar dan pameran perikanan budidaya bertaraf internasional yang akan memberikan keuntungan yang besar bagi perkembangan industri perikanan budidaya di tanah air, karena akan mampu mengundang investor dan memperkenalkan teknologi perikanan budidaya terbaru,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, setelah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dengan World Aquaculture Society (WAS) terkait pelaksanaa APA 2016, di Jakarta, Rabu (24/9).

Slamet menambahkan, Indonesia saat ini menempati peringkat empat sebagai produsen perikanan budidaya secara global. Dengan sumberdaya alam yang dimiliki, peluang untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya masih sangat terbuka lebar. “Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar di dunia, kemudian industri udang Indonesia saat ini kembali menjadi promadona karena produk udang hasil budidaya dari Indonesia merupakan produk yang bebas penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) sehingga sangat diminati oleh pasar global. Disamping itu komoditas ikan dari perairan tawar juga sangat dibutuhkan oleh konsumen dalam negeri untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi, seperti lele, nila, gurame dan mas. Peningkatan produksi masing-masing komoditas per tahun juga cukup menggembirakan. Secara total, dalam lima tahun terakhir produksi perikanan budidaya telah meningkat cukup pesat dari 6,28 juta ton di tahun 2010 menjadi 13,7 juta ton di tahun 2013 (data sementara). Lebih dari dua kali lipat,” tambah Slamet.

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014, pendapatan Rumah Tangga Usaha Perikanan Budidaya menempati peringkat tiga besar pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian secara umum. “Dari Usaha ikan hias diperoleh pendapatan rata-rata Rp. 50 juta per tahun, kemudian pembudidaya perairan umum sebesar Rp. 34 juta per tahun dan pembudidaya air payau sebesar Rp. 29 juta per tahun. Ini cukup tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari usaha pertanian yang sebesar Rp. 10 juta per tahun dan peternakan sebesar Rp. 15 juta per tahun,” ungkap Slamet.

Dis amping itu, tambah Slamet, BPS juga menyebutkan bahwa ikan hasil budidaya merupakan sumber protein yang relative murah di banding sumber protein lainnya. “Harga per gram protein ikan budidaya adalah Rp. 120 – 200,- lebih murah dibandingkan telur dan ayam broiler,” kata Slamet.

Potensi dan peluang serta kelebihan perikanan budidaya di banding sector pertanian lainnya telah mendorong dunia internasional untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk melaksanakan seminar dan pameran bertaraf internasional seperti APA 2016 yang akan dilaksanakan di Surabaya. “Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di regional asia pasifik dan perikanan budidaya memiliki peran dalam menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga kita yakin dengan melaksanakan kegiatan APA 2016 di Indonesia, ini akan memberikan keuntungan baik bagi investor asing maupun pasar domestic di Indonesia,” ungkap Farshad, Executive Director of World Aquaculture Society.

Melalui pelaksanan kegiatan APA 2016, Indonesia akan mendapatkan beberapa keuntungan seperti menarik investor dan memperkenalkan peluang-peluang investasi di bidang perikanan budidaya. “Disamping itu, dari peserta asing yang akan hadir di acara ini, akan mengenalkan teknologi terbaru dan sekaligus ajang tukar menukar informasi terkait akuakultur dan yang lebih menarik lagi adalah mendorong Indonesia untuk lebih berperan di sector akuakultur global,” pungkas Slamet.

Related posts