Atur Migrasi Gas Subsidi Perlu Penegakan Hukum - Konsumen Dihimbau Tetap Pakai Elpiji 12 Kg

NERACA

Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengimbau masyarakat yang terbiasa menggunakan elpiji ukuran 12 kilogram untuk tidak beralih ke ukuran tiga kg atau yang disubsidi oleh pemerintah. "Sebaiknya masyarakat tidak berpindah ke elpiji tiga kilogram kalau biasanya memakai 12 kg karena itu mengambil hak orang lain," kata Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Rabu (24/9).

Menurut dia, selain imbauan tersebut, hal yang jauh lebih penting terkait masalah migrasi elpiji adalah peraturan pemerintah dalam membatasi distribusi pada masyarakat menengah ke bawah. “Yang penting harus ada hukum yang mengatur orang-orang yang tidak berhak tidak dapat mengambil yang tiga kilogram atau yang disubsidi itu,” katanya.

Ia mengatakan imbauan pada masyarakat akan lebih efektif jika didampingi peraturan dan tindakan hukum yang jelas dalam melarang penggunaan elpiji bersubsidi oleh masyarakat yang mampu itu. Sebelumnya, Pertamina mengatakan telah mengatasi perpindahan pengguna elpiji nonsubsidi tabung 12kg ke 3kg bersubsidi setelah haraga elpiji 12kg naik pada 10 September 2014, serta memperkirakan potensi migrasi hanya dua persen atau 18 ribu ton.

Salah satu konsumen pengguna gas elpiji 12 kg merasa terpukul dengan kenaikan harga tersebut. Pemilik warung nasi di wilayah Warung Jambu kota Bogor, Tuti bahkan mengaku akan beralih menggunakan gas ukuran 3 kg. Ia mengaku dengan menggunakan elpiji 3 kg, maka omzetnya bisa terselamatkan, karena tidak harus menaikkan harga makanan yang mereka jual. “Saya terpaksa beralih menggunakan elpiji ukuran 3 kg untuk masak. Sebenarnya cukup boros jika dibandingkan memakai elpiji 12 kg. Tapi mau bagaimana lagi, harga elpiji 12 kg mahal sekali,” katanya.

Tuti menjelaskan, langkah tersebut dia tempuh karena takut kehilangan pelangan. Harga elpiji yang cukup mahal menurut dia tidak bisa menutupi biaya produksi wartegnya. Namun, jika dia menaikkan harga jualannya, maka risikonya, para pelanggan wartegnya akan lari. Maka itu, Tuti berharap pemerintah bisa menekan kembali harga elpiji 12 kg tersebut.

Namun, pengamat Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai prediksi Pertamina soal migrasi elpiji dari 12 kg ke 3 kg yang diperkirakan hanya dua persen cenderung manipulatif.

Menurut dia kenaikan harga elpiji 12 kg memberatkan masyarakat dan UKM sehingga membuat mereka berganti ke gas 3 kg karena pertimbangan ongkos produksi. Suroto juga memantau hingga kini para pedagang kecil sudah mulai banyak yang migrasi dan keputusan ini juga merepotkan mereka karena di beberapa tempat persediaan gas 3 kg mulai sulit didapat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Niaga dan Pemasaran PT.Pertamina (Persero) Hanung Budya. Ia mengatakan kenaikan harga gas elpiji telah mengakibatkan 2% konsumen gas elpiji 12 kg migrasi ke gas elpiji 3 kg (gas melon). Namun, dia mengatakan, kondisi ini diyakini tidak akan memberatkan Pertamina karena kuota elpiji 3 kg masih cukup.

“Kami sudah lakukan antisipasi. Memang ada migrasi 2% saja dan itu kami sudah hitung tidak akan melampaui kuota 2014 yang sebesar 5,013 juta metrik ton. Kita juga pantau melalui program Simolek dari agen ke pangkalan,” ucap dia.

Lebih lanjut Hanung mengatakan, perusahaan minyak dan gas (migas) negara tersebut mengusulkan untuk proyek gas subsidi 3 kg sebanyak 5,766 juta metrik ton. Jumlah itu naik 15% dari kuota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014. “Peningkatan 15% karena keberhasilan konversi minyak tanah ke gas. Meningkatnya industri mikro serta adanya peningkatan daya beli masyarakat dan pertambahan penduduk,” tutupnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, dampak kenaikan elpiji 12 kg tidak terlalu besar terhadap inflasi. “Ada yang langsung dan tidak langsung. Tapi tidak terlalu besar. Apalagi bulan ini kenaikannya di tanggal 10 sehingga pengaruhnya terhadap 20 hari ke depan tidak terlalu besar," ujarnya beberapa waktu lalu.

BERITA TERKAIT

Polemik Pemilih Tetap, Kemendagri Tidak Bisa Intervensi

  Oleh : Ahmad Bustomi, Pemerhati Sosial Politik dan Ekonomi Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh dikritik oleh…

Disperindag Lebak Imbau Pangkalan Salurkan Gas Bersubsidi Tepat Sasaran

Disperindag Lebak Imbau Pangkalan Salurkan Gas Bersubsidi Tepat Sasaran NERACA Lebak - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak mengimbau…

Sektor Riil - Kinerja Sektor Manufaktur ‘Tancap Gas’ pada Triwulan I-2019

NERACA Jakarta – Sektor industri manufaktur sepanjang triwulan I tahun 2019 menunjukkan kinerja positif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Prompt…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…