Semen Indonesia Naikkan Harga Jual Semen - Dampak Kenaikan Tarif Listrik

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah yang menaikan tarif dasar listrik sebanyak dua kali, mulai membebani biaya produksi PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Oleh karena itu, perseroan tahun ini berencana menaikkan harga jual semen.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto mengatakan, tahun ini perseroan bakal menaikkan harga semen sebagai imbas kenaikan dari tarif listrik dan disusul akan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),”Kalau ada tekanan cost, ya inginnya kita ada kenaikan harga. Tapi kita semua tahu, persaingan masih agak berat. Jadi, apakah keinginan kita menaikkan itu akan bisa atau tidak tergantung pasar,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, keputusan perseroan untuk menaikkan harga jual semen masih perlu dikaji dan dipikirkan matang. Pasalnya, persaingan di industri pasar semen di Indonesia masih terbilang berat. Oleh karena itu, ditengah ketatnya persaingan industri semen saat ini, perseroan dituntut untuk meningkatkan efisiensi.

Dia menambahkan, alasan pentingnya meningkatkan efisiensi agar dampak kenaikan cost tidak terlalu besar dan bisa ditekan. Lanjut Dwi, tahun ini rata-rata akan ada kenaikan cost sekitar 8%-10%,”Kalau cost dengan kenaikannya yang lain, tahun ini industri itu rata-rata ada kenaikannya di cost sekitar 8%-10 %. Nah, Semen Indonesia di bawah itu," tuturnya.

Menurutnya, Semen Indonesia beruntung karena ada usaha-usaha untuk mengefisiensi,”Tapi untuk kenaikan harga jual, tidak serta merta bisa mengikuti itu. Karena di lapangan ada persaingan. Mungkin kalau di lapangan naik 3%-4% saya kira wajar. Tapi kembali lagi, belum tentu bisa terjadi, karena persaingan makin ketat,”tandasnya.

Kata Dwi, sejauh ini perseroan belum merasakan dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Alasannya, dalam kegiatan operasionalnya, perseroan tidak terlalu banyak bergantung pada bahan baku impor,”Kalau dioperasional rutin, itu kan porsi impor, kita Alhamdulillah porsi impor itu enggak sampai 10% efeknya. Jadi bisa dihitung pengaruhnya kalau rupiah Rp11.000-an sampai Rp11.500-an/USD, berarti dihitung saja 10% nya,”ujarnya.

Dwi mengungkapkan, imbas dari rupiah yang sedikit berdampak itu diinvestasi. Namun, hingga saat ini, pihaknya masih melakukan kalkulasi penghitungan atas imbas rupiah tersebut. Sebagai informasi, ekspansi bisnis Semen Indonesia dari tahun ke tahun makin agresif. Sukses mengakuisisi perusahaan semen asal Vietnam Thang Long Cement, perseroan akan merambah Mnyanmar dan Bangladesh.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto pernah bilang, untuk akuisisi pabrik semen di Bangladesh, perseroan bakal membangun pabrik. Rencananya, semen produksi pabrik Myanmar akan digunakan untuk membangun pabrik di negara yang beribukota di Dhaka itu. Hal ini lantaran Bangladesh tidak mempunyai bahan baku untuk produksi semen.

Perseroan menargetkan, produksi semen tahun 2017 mencapai 40 juta ton dalam setahun. Saat ini, produksi Semen Indonesia baru 32 juta ton setahun. Itu berarti perusahaan itu harus mengerek produksi hingga 25%. "Pembangunan dua pabrik di Rembang dan Padang, diharapkan bisa menambah kapasitas sekitar enam ton dan sisanya ditambah dari peningkatan kapasitas pabrik yang sudah ada," kata Agung.(bani)

Related posts