Produk Keuangan Syariah Terus Mendunia

NERACA

Produk keuangan syariah terus berkembang dan semakin diminati perekonomian dunia, bahkan negara-negara di Eropa, kata ekonom University Collage of Bahrain, Sultan Emir Hidayat.

"Negara-negara di Eropa yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam telah mengakui bahwa sistem keuangan syariah memiliki prospek baik ke depan," katanya.

Pada diskusi "Perkembangan dan Masa Depan Perbankan Islam", ia mengatakan kondisi itu menyebabkan penggunaan sistem keuangan syariah saat ini mengalami peningkatan.

"Saat ini perkembangan sistem keuangan syariah semakin diakui dunia. Bahkan revolusi pertumbuhan perekonomian tentang syariah Islam dari 1960 hingga saat ini semakin meningkat tajam," katanya.

Menurut dia, Indonesia seharusnya bisa mengembangkan sistem keuangan syariah karena hampir 80 persen penduduk Indonesia beragama Islam sehingga menjadi peluang untuk mengembangkan sistem keuangan syariah.

Namun, Indonesia memiliki beberapa kendala untuk meningkatkan sistem keuangan syariah yakni kurangnya dukungan dari pemerintah untuk menyelenggarakannya, masih adanya regulasi dari pemerintah yang kurang kuat.

Selain itu minimnya undang-undang yang berkaitan dengan regulasi keuangan syariat Islam dan kurangnya kerja sama dengan institusi keuangan syariat Islam di dunia sehingga tidak ada pengawasan secara langsung oleh lembaga tersebut.

"Kendala lainnya adalah masih banyak produk yang melakukan kerja sama dengan perbankan konvensional sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi produk-produk yang bekerja sama dengan perbankan syariah," katanya.

Ia mengatakan untuk mengantisipasi kendala tersebut Indonesia perlu meningkatkan "awareness" dan "preference" tentang sistem keuangan syariah dan perbankan syariat Islam.

Berdasarkan penelitian, "awareness" dan "preference" berpengaruh untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kepada masyarakat tentang sistem keuangan syariah dan perbankan syariat.

"Selain itu kunci kesuksesan industri bisnis keuangan syariah adalah kolaborasi yang baik untuk mendapatkan solusi bersama terhadap kewenangan pemerintah serta regulasi yang telah ditetapkan pemerintah," katanya.

BERITA TERKAIT

Perbankan Berlomba Tawarkan Layanan dan Produk Digital

      NERACA   Jakarta - Laporan Maverick Banking Media Performance Report Q1-2018 menyebutkan bahwa industri perbankan semakin beradaptasi…

Shell Rilis Dua Produk Bahan Baku Industri Manufaktur

Shell Lubricants Indonesia meluncurkan dua produk unggulannya, yaitu Shell Flavex 595B, Shell Risella X dan berbagai produk portfolio dalam kategori…

BNI Syariah Perluas Layanan Migran di Hongkong

      NERACA   Jakarta - PT BNI Syariah memperkuat layanan di Hongkong, yang telah dimulai sejak tahun 2009…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…