70% Bahan Baku Sepatu masih Impor

NERACA

Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan kinerja industri alas kaki skala kecil menengah terancam terganggu akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah karena 60% hingga 70% bahan baku masih impor. “Bagi perusahaan yang tidak memiliki modal kuat, fluktuasi nilai tukar rupiah akan semakin membebani kinerja. Kebutuhan bahan baku impor semua menggunakan mata uang dolar,” kata Eddy di Jakarta, Selasa (23/9).

Impor bahan baku alas kaki, menurut Eddy, meliputi kulit, karet sintetis, dan kain tekstil. Industri kecil menengah (IKM) sebagian besar membeli bahan baku impor untuk mengantisipasi mahalnya bahan baku di dalam negeri meskipun risiko yang harus dihadapi adalah nilai mata uang dolar yang terus menguat. “Importir bahan baku tidak mau menjual dengan sistem kredit, mereka menginginkan kontan. Tetapi apakah IKM punya kas yang memadai,” paparnya.

Bagi industri berskala besar, lanjut Eddy, fluktuasi nilai tukar akan mempengaruhi kinerja tetapi tidak sebesar IKM. Kondisi keuangan yang memadai dan kemudahaan akses ke perbankan menyebabkan beban nilai tukar rupiah tidak terlalu membebani. “Pelaku usaha IKM tidak bisa membeli bahan baku dengan volume besar dengan jangka waktu tertentu. Akibat terbatasnya dana, produsen alas kaki rumahan hanya mampu membeli bahan baku dengan terbatas,” tuturnya.

Salah satu bahan baku sepatu adalah kulit. Salah satu pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengrajin Alaskaki Indonesia (APAI) juga mengatakan hal yang sama. Ketua Umum APAI Taufiq Rahman mengatakan bahwa sebagian besar pengusaha alas kaki di antaranya sepatu dan sandal mengeluhkan bahan baku yang sulit terutama untuk kulit sapi. Karena kesulitan bahan baku itu, beberapa industri harus gulung tikar. “Apa yang bisa saya lakukan, bahan baku itu susah. 3 juta lembar kulit setiap tahun kekurangan. Untuk kebutuhan sepatu kulit. Itu dari mana, selama ini kan dari impor," kata Taufik.

Dia bilang, karena kekurangan bahan baku inilah, perusahaan yang masih tergolong kecil dan menengah ini kesulitan dan pada akhirnya menutup usahanya. Lebih dari 6.000 (total perusahaan) itu susah, sudah banyak yang gulung tikar, karena tidak ada bahan baku kulit. Itu di daerah Bandung, Sidoardjo. Bahan bakunya susah, kasihan mereka," katanya.

Dia tidak menyebut secara rinci berapa perusahaan yang gulung tikar karena ini. Tapi dia mengharapkan, ada terobosan dari pemerintah untuk memberikan jaminan pasokan bahan baku agar industri ini terus berkelanjutan. “Kalau nanti pemerintah mampu mendorong investor untuk membangun ini industri bahan baku,” katanya.

Hal tersebut dibenarkan Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah. Euis mengatakan, kebutuhan kulit untuk industri ini 5 juta lembar per tahun. Sedangkan pasokan dalam negeri hanya cukup sampai 2 juta lembar per tahun. “Jadi 3 juta impor. Sekarang sudah tidak boleh lagi sapi utuh untuk mengolah itu, sedangkan untuk impor kulit sapi tesandung penyakit kulit dan kuku. Mestinya sudah nggak jadi penyakit mulut dan kuku. Sekarang kalau tidak salah sudah ada surat menteri,” katanya.

Sekedar informasi, industri penghasil kulit untuk sepatu atau penyamak kulit dalam negeri hanya mampu memproduksi 5 juta lembar kulit sapi dan 20 juta lembar kulit kambing per tahun. Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi 20%-30% kebutuhan industri sepatu dalam negeri.

Related posts