Hadapi Pasar Bebas, Pemerintah Punya Strategi

NERACA

Jakarta – Menghadapi pasar bebas, tentunya perlu strategi agar bisa menciptakan produk dan pelaku usaha berdaya saing. Hal itu perlu dilakukan agar memenangi persaingan usaha yang akan semakin ketat. Namun begitu, pemerintah dalam hal ini Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengaku mempunyai strategi khusus yang bisa dilakukan oleh para pelaku usaha agar mampu bersaing dalam perdagangan bebas. Salah satu strategi yang diungkapkan Bayu adalah diferensiasi. “Kuncinya, kita harus membangun strategi diferensiasi. Kita harus bisa membawa identitas Indonesia sebagai sebuah produk yang punya nilai tertentu,” ujar Bayu di Jakarta, Selasa (23/9).

Menurut Bayu, strategi diferensiasi tersebut bisa diaplikasikan untuk berbagai macam produk hasil buatan Indonesia. Hal itu perlu dilakukan agar negara-negara lain tidak bisa menyaingi produk asli dari Indonesia. “Seperti batik yang punya ya Indonesia. Kemudian furnitur, minyak goreng, produk karet, mobil dan elektronik jenis tertentu yang punya hanya Indonesia. Misalnya sama-sama sepatu, negara lain masuk ke sepatu lari, kita masuk ke sepatu sepakbola, seperti itu,” jelasnya.

Dia mengibaratkan persaingan Indonesia dengan China melalui perjanjian dagang antar kedua negara. Meski berat untuk bersaing dengan produk-produk China, namun dengan strategi diferensiasi ini produk Indonesia masih bisa menancapkan taringnya. “Kita harus bersaing dengan produk China, ini berat banget. Meski mereka sudah mengalami tekanan dengan naiknya upah buruh yang tadinya jadi keunggulan mereka. Jadi kalau kita bertempur pada efisiensi akan berat, belajar dari situ kita harus tekankan pada diferensiasi. Kalau kita bisa bersiang hingga masuk ke pasar China, itu berarti kita punya bersaing dengan manapun," tuturnya.

Dimata Menteri Perindustrian M.S Hidayat menyatakan agar daya saing lebih meningkat, para pelaku usaha dan industri harus terus berusaha meningkatkan kualitas produknya. Salah satu contoh upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing, tuturnya, yaitu mengundang konsultan Italia pada produk sepatu. Yaitu, terangnya, memberi saran berkenaan dengan desain dan kualitasnya. “Termasuk mengembangkan jaringan pasarnya,” sahut Hidayat.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian yaitu branding produk nasional. MS Hidayat menyarankan, para pelaku usaha dan industri di tanah air, sebaiknya, mengikuti program branding nasional untuk lebih memberi nilai tambah bagi produk-produk lokal. Upaya itu dilakukan Singapura. Menurutnya, branding merupakan hal penting dalam mendongkrak daya saing.

“Sebenarnya, banyak produk nasional, contohnya saja, produk garmen, yang berkualitas tinggi. Sayangnya, tidak punya brand. Produk-produk itu dipesan beberapa negara, termasuk Singapura. Nah, di Singapura, produk itu mendapat label atau merek. Kemudian, mereka memperjualbelikannya. Ironisnya, banyak masyarakat negara ini yang bangga karena berbelanja produk tersebut di Singapura. Padahal, produk itu buatan negara ini,” tutupnya.

Posisi Meningkat

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) mengumumkan posisi indeks daya saing global Indonesia untuk tahun 2014/2015 menempati posisi 34 dari 144 negara yang disurvei. Pencapaian ini membaik empat peringkat dibandingkan posisi tahun 2013/2014 di posisi 38 dan peringkat 50 pada tahun 2012/2013.

Sementara posisi puncak ditempati Swiss disusul Singapura dan Amerika Serikat (AS). Berikutnya di posisi 10 besar adalah Finlandia, dan Jerman. Di peringkat enam ditempati Jepang, selanjutnya Hong Kong, Belanda, Inggris dan di posisi 10 Swedia. Hal tersebut tertuang dalam laporan World Economic Forum bertajuk “The Global Competitiveness Report (CGI) 2013-2014. “Tingkat ekonomi global masih berisiko, meskipun sejumlah negara melancarkan kebijakan moneter yang cukup berani dalam rangka melaksanakan reformasi struktural untuk membantu pertumbuhan ekonomi,” tulis laporan tersebut.

Laporan tersebut menilai, faktor pendorong produktivitas dan kesejahteraan suatu negara adalah pelaksanaan reformasi struktural di daerah guna mempertahankan pertumbuhan global. Diperlukan inovasi dan sinergi yang lebih kompak antara sektor publik dan swasta sehingga bisa mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. “Situasi geopolitk global yang memanas, munculnya kesenjangan pendapatan, dan potensi pengetatan kondisi keuangan bisa membuat pemulihan global berisiko, termasuk reformasi struktural dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," kata pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab.

Dibandingkan di level Asia, posisi daya saing Indonesia sebenarnya tidak terlalu bagus mengingat tidak masuk dalam jajaran 10 besar Asia Pasifik. Indonesia kalah dari Malaysia yang menempati 20 dunia dan Thailand di posisi 31 global. Indonesia hanya lebih baik dari the Philipina (52) dan Vietnam (68).

Related posts