Biaya Perawatan Tol CMNP Naik 250% - Imbas Kendaraan Overload

NERACA

Jakarta – Masalah kendaraan melebihi muatan atau overload dijalan tol, masih menjadi masalah klasik yang selalu membebani kinerja dan layanan perusahaan operator jalan tol. Pasalnya, imbas dari kendaraan angkutan barang yang melebihi kapasitas menurunkan umur jalan dan peningkatan biaya perawatan.

Hal inilah yang dikeluhkan Direktur Operasi PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), Suarmin Tioniwar. Menurutnya, imbas dari kendaraan yang overload masuk ke ruas tol CMNP memaksa perseroan harus meningkatkan biaya perawatan, “Hingga saat ini, imbas dari kendaran overload membuat biaya perawatan jalan perseroan meningkat 250%,”ungkapnya.

Selain itu, imbas dari kendaraan yang melebihi muatan tersebut juga mengganggu keselamatan pengguna jalan tol dan yang paling parah adalah korban jiwa. Oleh karena itu, mengerem kecelakaan lalu lintas akibat kendaraan angkutan barang yang melebihi muatan, pihak perseroan terus melakukan sosialisasi, memberikan rambu, hingga sanksi tegas.

Kata Suarmin, berdasarkan sampel kendaraan yang dilakukan perseroan sejak empat bulan lalu tercatat hampir 78% kendaraan yang melintas melebihi muatan yang ditentukan peraturan jalan tol maksimal 10 ton. Oleh karena itu, lanjutnya, perseroan kedepan akan terus berkordinasi dengan aparat terkait untuk menerbitkan kendaraan yang melebihi muatan dan termasuk memasang jembatan timbang dengan teknologi canggih.

Sementara Direktur Teknik dan Operasi Marga Mandala Sakti, Sunarto Sastrowiyoto mengakui, dampak dari kendaraan yang melebihi muatan mengurangi biaya umur jalan tol Tangerang- Merak yang saat ini dikelola perseroan,”Sejak di operasikan tol Tangerang Merak tahun 1993, umur jalan tol adalah 20 tahun. Namun imbas kendaraan melebihi muatan, umur jalan tol tinggal 11 tahun,”tandasnya.

Selain itu, perseroan juga harus menguras dana yang lebih besar lagi untuk investasi rekonstruksi jalan dan termasuk tambal sulam senilai Rp 700 miliar. Tercatat berdasarkan pantauan perseroan melalui jembatan timbang atau TIM di Cilegon Barat, setidaknya ada 58% kendaraan yang melebih muatan.

Merespon hal tersebut, Ketua Asosiasi Jalan Tol Indonesia, Fatchur Rochman menegaskan, jalan tol dan non tol adalah asset public, asset negara dan tidak hanya asset perusahaan. Maka dari itu, perawatan dan pencegahannya bisa dilakukan secara bersama-sama, “Maka untuk mengalihkan kendaraan yang melebihi muatan dari jalan tol juga harus disiapkan jalan non tol,”ungkapnya. (bani)

Related posts