Berikutnya, Indeks BEI Masih Dalam Tekanan

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 7,779 poin (0,15%) ke level 5.219,803. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,362 poin (0,04%) ke level 891,012. Aksi ambil untung investor menjadi penyebabnya dan kondisi ini tidak bisa lepas dari posisi IHSG memang menggiurkan setelah pekan lalu reli tiga hari.

Kata analis riset Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, melemahnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia menjadi salah satu pemicu indeks BEI terkoreksi pada awal pekan,”Kendatipun terkoreksi, saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 mampu menahan indeks BEI tertekan lebih dalam,”ujarnya di Jakarta, Senin (22/9).

Di sisi lain, transaksi investor asing yang masih mencatatkan beli bersih juga menahan koreksi IHSG BEI. Tercatat dalam data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan beli bersih (nett buy) sebesar Rp26,613 miliar.

Reza menambahkan, diharapkan kedepannya indeks BEI kembali berada di area positif unuk menjaga IHSG dalam tren kenaikan jangka pendek. Oleh karena itu, dirinya memperkirakan, IHSG Selasa masih berpeluang menguat walau kecil.

Pada perdagangan Senin kemarin, tiga sektor masih bisa menguat, yaitu konsumer, finansial, dan manufaktur. Tujuh sektor lainnya melemah. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 180.798 kali dengan volume 4,3 miliar lembar saham senilai Rp 4,5 triliun. Sebanyak 110 saham naik, 179 turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa regional kompak menutup perdagangan di teritori negatif pada perdagangan awal pekan. Bursa saham Hong Kong dan Tiongkok jatuh cukup dalam. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.000 ke Rp 56.500, Mayora (MYOR) naik Rp 600 ke Rp 29.600, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 400 ke Rp 27.500, dan Bank Danamon (BDMN) naik Rp 225 ke Rp 4.110.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bank of India (BSWD) turun Rp 1.125 ke Rp 3.875, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 750 ke Rp 6.000, Indocement (INTP) turun Rp 325 ke Rp 23.575, dan Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 16.200.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah tipis 7,650 poin (0,15%) ke level 5.219,932. Sementara Indeks LQ45 turun tipis 0,684 poin (0,08%) ke level 889,966. Indeks sempat naik ke zona hijau tapi hanya sampai ke level 5.228 setelah itu turun lagi. Aksi jual menyasar saham-saham unggulan.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 104.997 kali dengan volume 2,4 miliar lembar saham senilai Rp 2,3 triliun. Sebanyak 105 saham naik, 169 turun, dan 71 saham stagnan. Bursa-bursa regional kompak bergerak di zona merah pada sesi pertama. Investor mulai mengambil untuk atas penguatan pekan lalu.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.150 ke Rp 56.650, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 300 ke Rp 27.400, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 275 ke Rp 8.875, dan Mayora (MYOR) naik Rp 200 ke Rp 29.200. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bank of India (BSWD) turun Rp 1.150 ke Rp 3.850, Indocement (INTP) turun Rp 225 ke Rp 23.675, Waran Balitowerindo (BALI-W) turun Rp 190 ke Rp 1.685, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 175 ke Rp 20.975.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 8,25 poin atau 0,16% menjadi 5.219,32, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,06 poin (0,23%) ke level 888,58,”Melemahnya bursa saham Asia menjadi salah satu sentimen negatif bagi indeks BEI. Pasar kembali mencermati isu-isu yang berkembang selama ini," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa beberapa data ekonomi eksternal seperti harga rumah baru di Tiongkok pada Agustus 2014 yang turun dibandingkan pada bulan sebelumnya menjadi salah satu sentimen negatif. Di sisi lain, lanjut dia, estimasi kenaikan suku bunga AS (Fed rate) untuk akhir tahun 2015 naik sebesar 25 bps menjadi 1,375%.

Meski telah diindikasikan bahwa kenaikan Fed rate baru dilakukan pada tahun 2015, tetapi setiap kali isu itu muncul, pasar menjadi tertekan. Oleh sebab itu, kekhawatiran kenaikan Fed rate itu mendorong investor asing menarik dananya dari bursa saham Indonesia selama beberapa waktu terakhir.

Sentimen domestik, dia mengatakan bahwa terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dikabarkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan menaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp3000 per liter pada November 2014.

Menurut dia, ada untung dan rugi dari rencana tersebut. Keuntungannya adalah kenaikan sekali dalam nominal besar diharapkan memberikan dampak negatif sekali saja, dan selanjutnya terjadi keseimbangan. Dampak negatifnya adalah laju antara lain inflasi tinggi di tahun 2014.

Awal perdagangan, bursa regional di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 275,31 poin (0,75%) ke level 24.030,85, indeks Nikkei turun 96,31 poin (0,59%) ke level 16.225,07 dan Straits Times menguat 0,24 poin (0,01%) ke posisi 3.305,29. (bani)

Related posts