YDBA: UMKM Indonesia Harus Pede Hadapi Pasar Bebas - Berangkatkan 24 UMKM ke Jepang

NERACA

Jakarta - Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) akan memberangkatkan 24 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ke Jepang guna mengikuti pelatihan pengelolaan manajemen perusahaan pada 23 September-6 Oktober 2014. Dengan demikian, YDBA telah memberangkatkan sebanyak 72 UMKM sejak pertama kali diadakan pada 2013 lalu (batch pertama dengan 21 UMKM), kemudian Februari 2014 (batch kedua dengan 27 UMKM) dan sekarang (batch ketiga).

Ketua YDBA, FX Sri Martono menuturkan, untuk batch ketiga ini ada yang istimewa karena akan diadakan pertemuan bisnis antara UMKM dari Indonesia dengan UMKM Jepang. Keduanya, sambung dia, akan mempresentasikan sektor bisnisnya masing-masing.

“Jadi konsepnya business to business. Program ini terselenggara dengan menggunakan metode pembelajaran di kelas dan kunjungan ke perusahaan. Tujuannya agar peserta memahami karakteristik UMKM Jepang melalui pembelajaran filosofi manajemen dan proses pengembangan strategi manajemen,” kata Sri kepada wartawan di Jakarta, Jumat (19/9) pekan lalu.

Lebih jauh dia mengungkapkan, selain itu UMKM Indonesia diharapkan mampu menganalisa masalah-masalah yang terjadi di perusahaannya masing-masing serta dapat pula memformulasikan rencana penyelesaian masalah-masalah yang terjadi pada perusahaannya.

“Tujuan dari pemberangkatan ini adalah strategi kita supaya UMKM kita siap seutuhnya menghadapi tantangan menuju ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dan ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2020. Kita tidak ingin UMKM mengeluh, khususnya mengenai pendanaan,” tegas Sri Martono.

Tak hanya itu, dirinya juga mengharapkan UMKM Indonesia mendapatkan wawasan, pengetahuan dan kesempatan dalam meningkatkan daya asing di tingkat regional, yaitu Asia Tenggara sebagai basis produksi pasar dunia di mana hal ini sejalan (inline) dengan development framework YDBA menuju UMKM Mandiri.

“Tahun depan, kita berencana ingin memberangkatkan UMKM ke Jepang tapi untuk yang corporate management. Mudah-mudahan terealisasi,” tandasnya. Di bawah Sri Martono, YDBA semakin gencar memprioritaskan UMKM sebagai tulang punggung bagi perekonomian Indonesia. Pelaku UMKM yang ‘dididik’ YDBA ini antara lain bergerak di bidang manufaktur, perbengkelan, kerajinan, dan pertanian.

Program ini merupakan hasil kerja sama YDBA dengan The Overseas Human Resources and Industry Development Association (HIDA) serta Himpunan Alumni AOTS Indonesia (HAAI). HIDA adalah organisasi internasional di bawah Kementerian Ekonomi Bidang Industri dan Perdagangan (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI) Jepang yang bergerak di bidang pengembangan sumberdaya manusia (SDM) untuk mempromosikan kerja sama teknis melalui pelatihan, pengiriman pakar serta program pengembangan lainnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pengusaha Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

NERACA Jakarta – BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Barat mengajak pengusaha di daerah itu untuk menyiapkan diri dan…

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Dr Prasetyo Hadi mengatakan…

Kemudahan Bisnis Harus Dorong Perkembangan Wirausaha

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah harus fokus meningkatkan kemudahan berusaha sebagai upaya…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Presiden Minta PKH Tak Digunakan untuk Konsumtif

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengarahkan warga penerima…

DataOn Bentuk Perusahaan Baru GreatDay HR

      NERACA   Jakarta - DataOn (PT. Indodev Niaga Internet) meresmikan GreatDay HR sebagai brand baru untuk solusi…