Terobosan PGN Untuk Energi Masa Depan - Menjawab Kebutuhan Masyarakat

NERACA

Jakarta – Tingginya tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada kendaraan saat ini, sudah tidak bisa terkendali seiring dengan cepatnya pertumbuhan kendaraan dalam negeri. Hal ini menjadi kabar positif, bila pertumbuhan ekonomi Indonesia terus positif seiring daya beli masyarakat yang meningkat. Namun disatu sisi, hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menjawab atas gap antara produksi minyak dan konsumsinya.

Oleh karena itu, pemerintah banyak melakukan cara untuk membatasi konsumsi BBM pada kendaraan publik, mulai dari pakai kartu khusus pada kendaraan, pemasangan konverterkit hingga upaya kenaikan harga BBM agar beban defisit negara tidak terus melebar. Kesemua cara tersebut sudah dilakukan pemerintah dan hasilnya plus dan minus dari kebijakan tersebut menuai pro dan kontra dari publik. Hanya saja, penggunaan BBM ke gas bumi yang menjadi sumber energi alternatif tengah digalakkan pemerintah. Alasannya, selain pasokan gas yang masih besar juga energi tersebut diyakini lebih irit atau efisien lagi ramah lingkungan.

Kebutuhan masyarakat menggunakan energi gas bumi belum semuanya mendapatkan akses yang mudah seiring keterbatasan infrastruktur, seperti minimnya stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Maka menjawab hal tersebut, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang sudah matang dalam bisnis distribusi gas dari hulu sampai hilir diamatkan pemerintah untuk mendukung ketahanan energi dengan mendorong peningkatan pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan infrastruktur gas bumi di berbagai segmen pasar.

Direktur Keuangan PGN M. Riza Pahlevi Tabrani menjelaskan, pembangunan infrastruktur gas bumi yang terus dilakukan PGN merupakan inisiatif perusahaan untuk mendorong gas bumi sebagai salah satu sumber energi utama dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM,”Sebagai BUMN, PGN akan berusaha menjadi solusi bagi pemerintah dan masyarakat dalam mendorong penguatan ekonomi nasional melalui pemanfaatan gas bumi. Dengan sinergi dan dukungan semua pihak, PGN optimis program konversi energi ke gas bumi dapat terwujud, sehingga masyarakat dapat menggunakan energi baik yang lebih efisien, aman dan ramah lingkungan,”ujarnya.

Asal tahu saja, sepanjang tahun ini untuk mendorong percepatan konversi dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi, PGN berinisiatif untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU) di Jakarta dan Jawa Barat. Saat ini, perseroan telah mengoperasikan 3 SPBG di wilayah Pondok Ungu Bekasi, Ketapang (Jakarta Barat) dan Bogor serta menyuplai gas bumi untuk 14 SPBG di DKI Jakarta.

Operasikan MRU

Untuk memudahkan akses konsumen, PGN juga telah membangun dan mengoperasikan MRU di kawasan Monas, Waduk Pluit dan Pool Trans Jakarta Cawang. MRU yang disediakan PGN ini mampu melayani 500 kendaraan roda empat per hari. Hingga akhir tahun ini PGN menargetkan menambah lagi 12 SPBG / MRU.

Di sektor industri, pada bulan Agustus 2014 PGN mulai melakukan commissioning PGN FSRU Lampung. Di Lampung, hingga akhir Agustus 2014, PGN juga sudah menyelesaikan pembangunan pipa distribusi sepanjang 90 kilometer dari 100 kilometer yang direncanakan.

Sementara itu pembangunan jaringan pipa Kalimantan Jawa I (Kalija I) sepanjang 207 kilometer terus berjalan secara positif dan ditargetkan selesai pada kuartal III 2015. Dengan adanya pipa Kalija I tersebut, PLTGU Tambak Lorok milik PLN di Semarang, Jawa Tengah akan mendapat suplai gas dari lapangan Kepodang dan mampu menghemat biaya bahan bakar hingga sekitar Rp 2 triliun per tahun jika dibandingkan dengan menggunakan BBM.

Di segmen rumah tangga, PGN juga memperluas jaringan penggunaan gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia seperti di Batam, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur. Di Jakarta, PGN telah bekerjasama dengan Kementerian ESDM dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan membangun dan mengalirkan jaringan gas ke rusun Marunda, di Jakarta Utara. Sampai tahun 2014, diharapkan jumlah pelanggan rumah tangga di Jakarta dapat bertambah sekitar 5.000 – 7.000 pelanggan. Sementara di Semarang, PGN juga telah melakukan terobosan dengan membangun cluster CNG di Tambak Aji untuk menjangkau pelanggan rumah tangga dan industri.

Selain melanjutkan pembangunan infrastruktur gas bumi, PGN juga memperkuat pasokan gas untuk domestik melalui akuisisi sejumlah blok migas. Pada awal Januari 2014 melalui anak perusahaan Saka Energi Indonesia (SEI), PGN telah mengakuisisi 75% hak partisipasi terhadap KKKS Blok Pangkah dengan nilai transaksi sebesar US$ 650 juta.

Dengan akuisisi tersebut, SEI saat ini memiliki 100 % blok Ujung Pangkah. PGN juga melakukan investasi senilai US$ 175 juta untuk pengembangan shale gas di blok Fasken Eagle Ford di Texas, Amerika Serikat.

Kata Riza Pahlevi, pembangunan infrastruktur gas dan investasi di blok-blok migas tersebut dibiayai secara mandiri oleh perusahaan. Di antaranya melalui penerbitan global bond senilai US$ 1,35 miliar dan pinjaman sindikasi dari sejumlah lembaga keuangan global sebesar US$ 650 juta.

Maka untuk mewujudkan konversi ke gas bumi tiga pilar utama yaitu ketersediaan pasokan gas, pembangunan infrastruktur dan daya serap pasar harus dikembangkan secara bersamaan. "PGN bersama pemerintah dan mitra usaha lainnya akan terus bersinergi, sehingga gas bumi dapat menjadi energi yang mampu membangun kemandirian dan memperkuat daya saing ekonomi nasional, terutama menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN yang akan mulai berlaku tahun 2015," jelas Riza Pahlevi. (bani)

Related posts