Pengusaha RI Makin Pede Garap Pasar Tiongkok

NERACA

Jakarta - Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo mengatakan Indonesia mulai makin serius menggarap pasar Tiongkok, termasuk untuk komoditi non minyak dan gas. "Saya melihat pengusaha kita sudah mulai makin percaya diri untuk melirik dan memasuki pasar Tiongkok, meskipun belum maksimal," katanya seperti dikutip dari Antara, akhir pekan kemarin.

Sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, kini Tiongkok tercatat memiliki cadangan devisa dalam mata uang asing sekitar 3,5 triliun dolar AS. Namun dengan potensi yang dimiliki, investasi yang ditanamkan Tiongkok ke Indonesia hingga 2012 baru mencapai 2,02 miliar dolar AS, demikian data dari China-ASEAN Business Council.

Di sektor perdagangan total nilai yang dicapai Indonesia-Tiongkok pada 2012 tercatat 66,6 miliar dolar AS. "Diharapkan total nilai perdagangan kita dengan Tiongkok meningkat 80 miliar dolar AS pada 2015. Dan pada 2016 bisa meningkat menjadi 100 miliar dolar AS," kata Dubes Soegeng.

Terlebih lagi, tambah dia, saat ini ada pusat atau "rumah Indonesia" di beberapa wilayah di Tiongkok yang dapat dimanfaatkan para pengusaha, terutama kecil menengah dan mikro Indonesia untuk memperkenalkan serta memamerkan produk unggulannya.

Ia mengakui keberadaan galeri Indonesia seperti House of Indonesia di Nanning, East Java Excelent Center di Tianjin dan Made in Indonesia di Yiwu, belum dimanfaatkan maksimal oleh pengusaha kecil, menengah dan mikro Indonesia untuk memperkenalkan dan memamerkan potensi serta produk unggulan yang dimiliki. "Padahal itu merupakan salah satu cara untuk memasuki dan melakukan penetrasi terhadap pasar Tiongkok yang sangat besar potensinya," kata Soegeng.

Selain memasuki pasar Tiongkok, Indonesia juga dapat memasarkan produk unggulannya dengan menggunakan hub logistik yang dimiliki Tiongkok. Soegeng menuturkan, Tiongkok memiliki beberapa hub logitisk yang dapat digunakan pengusaha Indonesia untuk memasarkan produknya ke Asia Tengah dan Eropa.

"Jadi dengan makin mulai seriusnya pengusaha Indonesia memasuki asar Tiongkok, dapat pula memanfaatkan Tiongkok sebagai hub untuk memasarkan produk ke Asia Tengah dan Eropa. Tiongkok ini benar-benar memiliki pasar yang besar dan memiliki hub logistik yang potensial pula untuk lebih banyak memasarkan produk unggulan kita. Intinya, Indonesia harus lebih maksimal lagi memanfaatkan Tiongkok," ujarnya.

Pasar Muslim

Tiongkok yang jumlah penduduknya tertinggi di dunia dan luas wilayah yang besar, memiliki banyak kota dengan masing-masing karakteristik. Potensi pasar di Tiongkok bagian barat, yang mayoritas dihuni muslim belum, banyak dilirik pengusaha Indonesia.

Indonesia harus pintar menentukan strategi perdagangan. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Bayu Khrisnamurti, mengharapkan kejelian investor untuk menggali potensi pasar di daerah tersebut. "Pengusaha Indonesia harus lebih aktif mengenal pasar ini. Kalau mengenal Tiongkok, ini beda satu kota dengan kota lain. Ini harus kita manfaatkan," tuturnya.

Strategi ini, Bayu mengatakan, tidak hanya diharapkan bisa menjangkau satu pasar baru, tetapi juga ke kota-kota sekitarnya. Misalnya, ia melanjutkan, melakukan investasi di Provinsi Chongqing, Tiongkok barat, yang mayoritas adalah muslim.

Lewat provinsi ini, nantinya jalur perdagangan bisa berkembang ke Asia Tengah. Menurut Bayu, belum ada kerja sama perdagangan di Chongqing. Jika bisa dengan tepat menentukan arah investasi yang tepat, keuntungan akan diraih dengan mudah.

"Tahun depan akan jadi perhatian bagian utama. Kita harus lakukan langkah-langkah untuk itu. Kita sudah lihat peluang usaha di sana. Menariknya, ini akan memasuki wilayah masyarakat Tiongkok yang muslim. Selama ini belum cukup banyak keterkaitan kita dengan Tiongkok bagian itu. Ini merupakan strategi penting bagi kita ke depan," ujar Bayu.

Kerjasama TSL

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL). Kesepakatan tersebut dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman antara otoritas pengelola CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/ konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar) RI dengan otoritas pengelola CITES RRT di Jakarta, belum lama ini.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Sonny Partono selaku Otoritas Pengelola CITES RI, dan Kepala Badan Pengelola Ekspor-impor species Liar RRT Meng Xialing selaku Otoritas Pengelola CITES Tiongkok. Dalam acara tersebut delegasi RRT dipimpin Wakil Menteri Kehutanan Liu Dongsheng.

Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Sonny Partono menyatakan, dengan adanya kerja sama tersebut maka perdagangan tumbuhan dan satwa liar Indonesia ke RRT bisa dilakukan secara langsung, tanpa melalui negara ketiga. “Selama ini perdagangan TSL dari Indonesia harus melalui Singapura, Hong Kong ataupun Thailand,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, tambahnya, mengakibatkan keuntungan yang diperoleh Indonesia dari perdagangan TSL justru dinikmati negara-negara perantara. Beberapa komoditas TSL yang selama ini diperdagangkan ke Tiongkok, menurut Sonny antara lain gaharu, kura-kura air tawar, ikan arwana, ular, kulit reptil dan pakis. Menyinggung nilai perdagangan TSL Indonesia, dia menyatakan, secara keseluruhan mencapai Rp1 triliun yang mana ke Tiongkok sekitar 30 persen. Khusus untuk gaharu, lanjutnya, total ekspornya mencapai 700 ton per tahun yang mana 150 ton di antaranya untuk mengisi pasar Tiongkok.

Selain untuk memperkuat kerja sama perdagangan TSL kedua negara, maka melalui penandatanganan MoU tersebut juga dimungkinkan pertukaran komunikasi dan informasi pengenai perdagangan TSL dan konservasinya. Kemudian untuk memperkuat penegakan hukum guna melawan perdagangan TSL ilegal yang tidak dilaporkan dan tidak teratur termasuk penyitaan dan pemusnahan "specimen". Fasilitasi penerbitan izin dan sertifikat CITES, proses verifikasi dan transparansinya serta pelaksanaan CITES secara umum.

Sonny juga menegaskan, meskipun perdagangan TSL bilateral diharapkan meningkat namun komitmen terhadap perlindungan sumber daya alam, habitat TSL, khususnya jenis-jenis yang terancam kepunahan tetap menjadi perhatian kedua negara. "Dalam pengembangan program dan kegiatan kerja sama ini Indonesia maupun Tiongkok akan mementingkang perdagangna TSL dan produk-produknya dalam kerangka konvensi CITES," tuturnya.

Sejauh ini, lanjutnya, perdagangan TSL dari Indonesia ke RRT adalah jenis-jenis yang tidak dilindungai dan yang tidak termasuk Appendix II CITES non appendix.

Pada kesempatan sebelumnya, Sonny juga sempat menyatakan tingginya permintaan dari luar negeri dalam kurun waktu dua tahun terakhir telah memicu peningkatan perdagangan satwa dan tanaman liar di Tanah Air.

Related posts