Kadin Sukses Panen Gandum Hasil Rekayasa Nuklir - Kurangi Impor

NERACA

Jakarta - Saat Indonesia ini masih ketergantungan terhadap gandum impor. Pasalnya, tanaman itu diyakini sulit bertahan pada iklim tropis yang adadi sebagian wilayah Indonesia. Celakanya, konsumsi pangan berbahan gandum oleh masyarakat kini berada di posisi kedua setelah beras.

Lihat saja data dari Kementerian Perdagangan yang menjabarkan bahwa impor bahan pangan tertinggi sepanjang 2013 adalah gandum, mencapai 6,3 juta ton senilai US$ 2,3 miliar. Australia jadi pemasok gandum terbesar buat Indonesia, mencapai 4,4 juta ton, disusul Kanada (930.600 ton), India (107.500 ton), dan Ukraina (30.500 ton).

Namun begitu, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Utama Kajo menciptakan terobosan baru. Ia telah sukses menghasilkan gandum berkualitas tidak kalah dari produk impor. Varietas gandum itu bisa bertahan di iklim Indonesia karena sebelumnya dimutasi dengan sinar gamma, hasil teknologi Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN).

Kajo mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan dengan menerapkan kemitraan bersama petani di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. "Tiga minggu lalu saya berhasil panen gandum Indonesia. Itu tujuh hektar hasil menanam selama tiga bulan. Ini gandum hasil mutasi dan sudah disesuaikan dengan iklim Indonesia," ujarnya di Jakarta, Jumat (19/9).

Kajo mengatakan, kendati sukses membuktikan bahwa Indonesia bisa menanam gandum sendiri, varietas hasil rekayasa nuklir itu belum mampu diproduksi massal. Tanpa sokongan pemerintah, perusahaan belum akan bersedia menyerap produksi gandum dalam negeri karena kebutuhan amat besar.

"Dari penelitian kita, lahan yang laik untuk gandum di Indonesia itu sebanyak 3.000 hektar. produksinya baru 12 ton. Itu mesin PT Bogasari sekali putar dalam sehari ya cuma ngotor-ngotori gigi rodanya," kata Kajo.

Menurut dia, temuan Kadin, bersama BATAN, Balai Besar Cerelia Maros, dan Biotrop Bogor, kalau pemerintah ingin mulai membudidayakan gandum, maka harus ada pembukaan lahan baru di luar Pulau Jawa. Ini juga sejalan dengan visi-misi Presiden Terpilih Joko Widodo. "Lahan untuk gandum baiknya di luar Jawa, tapi intinya kita mampu kok. Ini gandum Malino enggak kalah dari Australia. Bikin jalan tol aja sanggup," cetusnya.

Kajo memastikan gandum yang diujicoba di Malino aman dikonsumsi masyarakat. "Ini dimutasi bibitnya dengan radiasi gamma, tidak ada kaitannya dengan nuklir, jadi amanlah," ucapnya. Pada 1999, sudah ada upaya memperkenalkan varietas gandum tropis, bekerja sama dengan India. Uji coba dilakukan di Jawa Tengah, tepatnya di Tawangmangu dan Kopeng. Masalahnya tanaman itu rentan diserang ulat dan kutu daun, sehingga produktivitasnya tidak maksimal. Sementara industri butuh gandum cepat.

PT Indofood Sukses Makmur, produsen mi instan terbesar di Tanah Air misalnya, menyerap 300.000 ton gandum impor saban bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Perseroan beberapa kali mengatakan membuka lahan gandum sendiri kurang ekonomis dibanding membeli dari luar negeri.

Impor Meningkat

Volume impor gandum Indonesia diprediksi melompat lebih dari 10 juta ton per tahun dalam lima tahun ke depan. Ini seiring kenaikan pendapatan masyarakat Indonesia yang memicu kenaikan konsumsi mie dan kue.

Analis Rabobank International, Pawan Kumar dalam laporannya menjelaskan, prediksi ini berdasarkan pada realisasi volume pengiriman gandum ke Indonesia naik lebih dari tiga kali lipat selama dua dekade terakhir mencapai 7,1 juta metrik ton pada 2012-2013. "Impor bisa mencapai lebih dari 10 juta ton karena wilayah di Indonesia tidak bisa ditumbuhi gandum lokal karena terlalu panas dan lembab. Angka ini nantinya akan setara dengan importir gandum global terkemuka saat ini, Mesir," jelasnya.

Peningkatan pengiriman ini dikatakan akan menguntungkan eksportir gandum dunia termasuk Australia. Negara ini menjadi pemasok gandum terbesar keempat di dunia, beserta Amerika Serikat dan Kanada.

Indonesia juga disebut menjadi pembeli gula terbesar di dunia dan pengguna minyak sawit terbesar kedua. Konsumsi komoditas pertanian negara ini meningkat setelah ekonomi meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2007. "Impor gandum meningkat juga dapat membantu Indonesia untuk memenuhi tujuannya untuk mempertahankan swasembada beras," kata Kumar.

Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi dan kenyamanan membuat konsumsi produk olahan gandum meningkat di Indonesia. Masyarakat kini mulai banyak mengkonsumsi Muffin dan sandwich, serta roti. Indonesia akan menjadi pembeli gandum terbesar keempat dunia pada 2013-2014, dengan volume impor naik 0,8% menjadi 7,2 juta ton, menurut Departemen Pertanian AS. Mesir masih akan menjadi importir terbesar dengan volume 10,5 juta ton, kemudian diikuti China 8,5 juta ton dan Brasil 7,4 juta.

BERITA TERKAIT

Mengantisipasi Hasil Pertemuan IMF Bank Dunia di Bali

  Oleh: Prof Dr. Umar Basalim, Guru Besar Universitas Nasional Seperti pernah saya tulis di rubrik ini terkait dengan IMF/World…

BEI Tagih Penjelasan SOCI Soal Hasil PKPU

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menanti jawaban manajemen PT Soechi Lines Tbk (SOCI) terkait putusan Pengadilan…

Pemerintah Tetapkan Hasil Penjualan SBR004 Rp7,3 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sebesar Rp7,3 triliun dengan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…

Sepanjang 2018 - Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…