KKP-FAO Perkuat Kerjasama Pangan

NERACA

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Badan Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkuat kerja sama dan kemitraan dalam pembangunan kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Kerja sama tersebut merupakan salah satu prioritas kerja sama bilateral, dalam membahas tindak lanjut memorandum of understanding (MoU) yang ditanda tangani pada 27 Mei 2013 lalu di Jakarta.

“Penguatan kerja sama bilateral ini merupakan kemitraan penting dan strategis antara KKP dan FAO, guna mendukung ketahanan pangan dan gizi baik di tingkat nasional, regional maupun global. Mengingat, harga pangan dunia yang cenderung berfluktuasi, sebab itu berbagai kebijakan, program, dan investasi lebih banyak diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketahanan dan kemandirian pangan punsaat ini menjadi fokus perhatian kebijakan pemerintah Indonesia,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo pada sebuah pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal FAO Jose Graziano Da Silva di Roma, Italia, pekan lalu.

Dalam kunjungan ke Markas Besar FAO tersebut, Sharif berkesempatan untuk melakukan pertemuan dengan para ahli dan pakar dari FAO yang saat ini tengah mengerjakan berbagai program/project di Indonesia. Perlu diketahui, sejak tahun 2013 program kerja sama KKP-FAO telah dilaksanakan sebanyak 16 program. Sementara untuk tahun ini, telah dikembangkan sebanyak 13 program/proyek baru antara FAO dan Indonesia pada tahun 2014, dengan bantuan dana hibah mencapai US$ 13.3 Juta.

Tak luput, terkait konsep Blue Economy di Indonesia juga telah dilaksanakan sebanyak 9 implementasi program dan kegiatan seperti, Rural Development Program in Nusa Tenggara Timur, SEAFDEC Inland Fishery Resources Development and Management Department (IFRDMD) di Palembang, Kerja Sama Coral Triangle Initiative (CTI), Program Lahan Gambut di Kalimantan bekerja sama dengan Norwegian Redd+ dimana Pogram Pengembangan Budidaya Perikanan masuk di dalamnya, FAO Regional Rice Fish Initiative Project Fase II, Mangrove Project, INDESO (Infrastructure Development for Space Oceanography) Project, dan Program Peningkatan Kapasitas SDM melalui South-South Cooperation dan Triangular Cooperation.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut, Sharif menyatakan KKP bersama FAO terus melanjutkan kerja sama dalam memerangi kegiatan illegal fishing. Hasilnya, sebagai upaya penguatan kapasitas dan kapabilitas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan kerja sama bilateral ini akan dilanjutkan melalui Proyek Infrastructure Development for Space Oceanography (INDESO) yang saat ini tengah berjalan. INDESO sendiri memiliki nilai strategis untuk memantau kondisi perairan Indonesia serta upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia.

Selain itu, proyek INDESO merupakan upaya nyata pemerintah dalam memantau dan menjaga Perairan Indonesia, terutama di wilayah Coral Triangle (CT). Di sisi lain, dalam pertemuan tersebut Sharif secara resmi menyerahkan sebuah patung ukiran kayu berbentuk Ikan Purba Coelacanth (Latimeria Menadoensis) dengan skala 1 : 1 dan ukuran panjang 1.2 meter. Rencananya, patung tersebut akan dipajang di Ruang Indonesia, Gedung FAO Roma. Selain pemberian tersebut, Sharif turut pula menyumbangkan sejumlah buku untuk melengkapi koleksi perpustakaan FAO.

Sebagai informasi tambahan, sektor perikanan mampu menyediakan sumber penting bagi pemenuhan sumber makanan, pendapatan dan pekerjaan. Jutaan manusia bergantung kepada perikanan sebagai mata pencaharian, sehingga perlu keterlibatan semua stakeholder untuk mengelola perikanan guna menjamin kecukupan ikan untuk generasi mendatang. Seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk tentu akan diikuti dengan terus meningkatnya kebutuhan pangan. Menurut laporan FAO, hingga tahun 2020 permintaan dunia akan makanan laut meningkat hingga sebesar 1,5 persen.

Sementara produksi perikanan budidaya dunia, telah melampaui produksi daging sapi. Pada Tahun 2012 misalnya, produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, angka tersebut melebihi produksi daging sapi yang hanya mencapai 63 juta ton. Terkait hal itu, tak salah jika Indonesia dinilai memiliki posisi utama di sektor perikanan dunia. Diproyeksikan Indonesia akan mengambil keuntungan dengan memasok 70 persen pasokan ikan dunia. Indonesia tidak sendiri melainkan bersama dengan negara-negara Asia lainnya seperti Tiongkok, Jepang dan negara-negara kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara lainnya. Perlu diketahui, Indonesia merupakan satu dari 38 negara di dunia yang berhasil mengurangi jumlah penduduk kelaparan dan kekurangan gizi lebih dari 50 persen, yaitu dari 20 persen pada 1990 menjadi 8,6 persen pada 2012. Artinya Indonesia mampu mencapai Millenium Deve-lopment Goals (MDG) dengan sasaran nomor satu, yaitu mengurangi kelaparan dan kemiskinan. Capaian ini dua tahun lebih cepat dari target di tahun 2015.

Seiring dengan itu, Sharif menyampaikan apresiasinya, atas keberhasilan FAO karena telah berhasil mengesahkan Pedoman Internasional tentang Pengamanan Perikanan Skala Kecil Berkelanjutan (International Guidelines On Securing Sustainable Smallscale Fisheries) pada pertemuan COFI pada 31 Juni 2014 lalu. Sebagai informasi, sebelumnya pada tahun 2011 lalu, Komite FAO merekomendasikan pedoman pengembangan pedoman internasional tentang perikanan skala kecil.

Related posts