Eksistensi Phapros Kuasai Pasar Farmasi - Inovasi dan Diversifikasi Produk

NERACA

Jakarta - Hadirnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia secara luas bahwa negara memberikan perlindungan dan jaminan kesehatan sesuai amanat Undang-Undang. Selain itu, terbentuknya BPJS juga menjadi kabar gembira bagi industri farmasi lantaran permintaan obat akan terus meningkat. Apalagi di dukung dengan meningkatnya penghasilan masyarakat, menjadi katalis positif bagi saham-saham farmasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Sementara sisi negatifnya, saham-saham sektor farmasi masih mewaspadai sentiment negate penguatan dollar AS terhadap nilai tukar rupiah. Hal ini menjadi keluhan, lantaran sebagian besar bahan baku farmasi masih impor. Sehingga, tak kalah rupiah melemah terhadap dollar AS memberikan imbas terkoreksinya penjualan emiten farmasi.

Haya saja, menurut analis riset First Asia Capital, David Sutyanto, nilai tukar dolar AS pada 2014 cenderung stabil sehingga dari sisi rugi kurs tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Jadi, dari sisi risiko kurs selama dolar AS stabil tak masalah. “Namun demikian, efek negatif dari penguatan dolar AS tahun 2013, belum sepenuhnya pulih,”ujarnya.

Maka menghadapi tantangan tersebut, industri farmasi di dalam negeri dituntut untuk lebih efisien guna meningkatkan daya saing usaha, inovatif dalam menghadirkan produk baru dan tentunya harga tetap kompetitif. Apalagi, industri farmasi saat ini dihadapkan juga pada persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Menyikapi berbagai tantangan dan daya saing global, PT Phapros Tbk anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang bergerak di sektor Farmasi menegaskan kesiapanya untuk bersaing di masa datang dengan memperkuat fondasi dan stabilisasi semua lini bisnis perusahaan farmasi.

Direktur Utama Phapros Iswanto menuturkan, pada tahun ini perseroan akan melakukan sejumlah langkah, seperti perluasan pasar serta penguatan standardisasi produk dan laboratorium berbasis ISO,”Setelah melewati masa penuh tantangan di 2013 yang merupakan masa transisi menuju SJSN dan kondisi makro ekonomi yang kurang menguntungkan, kami akan memperkuat langkah stabilisasi sehingga dapat menciptakan pertumbuhan yang positif tahun ini,”ujarnya.

Untuk siap berkompetisi, sambung Iswanto, Phapros berencana memperkuat pangsa pasar dengan mengakuisisi bisnis usaha lainnya dan memperluas pasar ekspor. Tak hanya itu, perseroan juga menargetkan akan meraih enterprise risk management berbasis ISO 31000 dan laboratorium berbasis ISO 17025 pada tahun ini. Saat ini, Phapros memiliki lima divisi bisnis. Pertama, over-the-counter (OTC) yang memasarkan obat jual bebas dengan spesifikasi 15 produk.

Kedua, Alpha yang berfungsi memasarkan obat dengan resep (ethical) dengan spesifikasi 52 produk. Ketiga, Delta yang memasarkan obat resep (ethical) yang sudah menjadi komoditas (mature) dengan 25 jenis produk. Keempat, Gamma yang memasarkan obat generik berlogo (OGB) untuk 145 produk. Terakhir, Toll In yang berfungsi menerima order produksi obat dari farmasi lain,”Secara total, Phapros memasarkan total 237 produk,” tuturnya.

Buka Pasar Ekspor

Sementara Direktur Keuangan PT Phapros Tbk, Budi Ruseno mengakui, fluktuasi rupiah menjadi kekhawatiran bagi pelaku industri farmasi karena bahan baku masih impor. Mensiasati hal tersebut, perseroan telah menyiapkan beberapa langkah agar tidak menekan kinerja keuangan. Pertama, perseroan pantau terus pergerakan rupiah sehingga bisa lakukan hedging. Kedua, efisiensi dalam proses produksi. Ketiga, buka pasar ekspor dalam rangka mengimbangi impor bahan baku yang tinggi,”Keempat, mengembangkan produk herbal dan bahan baku lokal," ungkap Budi Ruseno.

Kendati demikian, fluktuasi rupiah saat ini belum mendorong Phapros untuk menyesuaikan harga. Sebab, harga obat generik mengikut harga yang ditetapkan dalam e-catalog. Sementara produk lain, seperti OTC dan Ethical sejauh ini belum diputuskan perubahannya. "Kita masih evaluasi, mengkaji perkembangan kurs,” ujarnya.

Budi menambahkan, terkait perluasan pasar ekspor juga menjadi fokus Phapros. Pasalnya, market share Phapros saat ini baru menyentuh angka 1,5%. Menurutnya, pasar farmasi sangat besar karena tidak ada industri yang memonopoli pasar. Untuk pemain nomor satu saja market share-nya hanya 7%-8%.

Phapros yang sudah 60 tahun menyehatkan Indonesia tersebut, juga telah berhasil melakukan ekspor produk farmasi perdana ke Kamboja. Sementara untuk meningkatkan pasar ekspor, perseroan akan masuk ke pasar Vietnam dan Afganistan.

Budi Ruseno mengakui kompetisi di pasar farmasi sangat ketat, tetapi sangat regulated. Karena regulasi terus berubah. Dari 200 pemain di industri farmasi, hanya 30 pemain yang menguasai 70% pasar farmasi. "Yang berjuang itu posisi pemain 40 ke atas, rebutan pasar yang 30%,” jelasnya.

Kehadiran Phapros selama 60 tahun, dibuktikan dengan eksistensi dan terus ekspansi bisnis yang agresif dengan perluasan pabrik di Semarang, Jawa Tengah. Diharapkan, dengan pembangunan pabrik tersebut perseroan bisa merealisasikan target produksi obat tablet hingga 6 miliar per tahun. Tidak hanya itu, perseroan juga akan melakukan diversifikasi produk. Rencananya, dalam 5 tahun ke depan Phapros akan menjajaki mengembangkan produk implant, biosimilar, serta herbal. (bani)

Related posts