PTPP Bidik Pasar Properti Australia - Siapkan Dana Rp 1,6 Triliun

NERACA

Jakarta – Tidak mau disebut jago kandang, PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) mulai ekspansi bisnis properti di Australia. Melalui anak usahanya, perseroan mencoba peruntungan di pasar properti negara tersebut yang saat ini banyak di lirik investor asing.

Direktur Keuangan PTPP, Tumiyana mengatakan, perseroan baru-baru ini melakukan ekspansi anak usahanya di bisnis properti dengan menyasar pasar Australia. Untuk menunjang ekspnsi tersebut, perseroan menggelontorkan dana sekitar Rp1,6 triliun,”Di Australia yield-nya bagus. Properti di kota Perth punya return lebih tinggi. Marketnya setelah dilakukan kajian, lebih tinggi. Jadi kemungkinan besar bisa terjual," ujarnya di Jakarta, Kamis (18/9).

Dia menegaskan, alasan bidik pasar properti Australia karena negara tersebut memiliki pangsa pasar yang menggiurkan. Dijelaskan, desain hunian yang tinggi atau high risk telah dirancang dan akan selesai akhir tahun ini. Sehingga awal 2015 sudah siap dipasarkan.

Sementara, terkait dengan dana, sedang dilakukan pendekatan dengan bank lokal Australia untuk memperoleh pinjaman. Selain itu, pjnjaman juga diperoleh dari Bank Exim Indonesia dengan presentase 75:25%.

Asal tahu saja, guna memperkuat bisnis properti. PTPP berencana melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) PTPP Properti pada tahun 2015, setelah sukses melakukan spin off pada tahun 2013. Disebutkan, IPO PP Properti ditargetkan dapat menggalang dana segar dengan kisaran Rp1,2 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Rencananya, IPO tersebut akan dilakukan pada awal kuartal pertama 2015 dan akan melepas 30% saham. Perseroan berharap dengan go public, PTPP Properti bisa meningkatkan optimalisasi asset, meningkatkan kualitas pengembangan properti dan tentunya membuka struktur permodalan. Hingga Agustus 2014, PT Pembangunan Perumahan Tbk telah mengantongi nilai kontrak sebanyak Rp 31 triliun,”Sekarang Rp 31 triliun sampai Agustus 2014. Itu sama kontrak carry over," kata Tumiyana.

Dia mengatakan, nilai tersebut ditopang oleh total proyek yang berjalan yang mencapai 132 proyek. Dia menuturkan, satu proyek di Tanjung Priok mengambil porsi terbesar mencapai Rp 9 triliun. Disebutkan, proyek paling besar Tanjung Priok dengan nilai Rp 9 triliun dan progresnya sudah mencapai 28%.

Rencananya, proyek tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2016. Perseroan mengungkapkan target kontrak baru mencapai Rp 24 triliun pada 2014. Target akumulasi dengan kontrak berjalan mencapai Rp 46 triliun. Akan tetapi, diakuinya target kontrak baru masih minim. Hingga Agustus 2014, nilai kontrak baru perseroan mencapai Rp 10,95 triliun.

Tumiyana mengungkapkan, kontrak baru masih 45%. Menurutnya, circle bisnis kontruksi kuartal II dan kuartal III memang begitu dan dirinya menyakini target kontrak baru tersebut bakal tercapai. Tercatat pada semester pertama tahun ini, perseroan membukukan laba bersih sebanyak Rp 146,7 miliar. Angka ini naik sebanyak 2,25% dibanding periode yang sama sebesar Rp 143,4 miliar. Kemudian untuk pendapatan usaha mencapai Rp 4,6 triliun atau meningkatkan dibanding sebelumnya Rp 4,18 triliun. (bani)

Related posts