RI Perkuat Kerjasama Dagang Dengan Tiongkok - Hadapi MEA 2015

NERACA

Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi melakukan serangkaian pertemuan dalam kunjungan kerjanya ke Tiongkok menghadiri CAExpo ke-11 di Nanning, China-ASEAN E-Commerce Summit, serta "China-ASEAN Industry and Commerce Forum". Wamendag selanjutnya melakukan perjalanan ke Shanghai menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, kata Pradnyawati, Direktur Pengembangan Promosi dan Citra, Kementerian Perdagangan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis. "Kementerian Perdagangan seolah tak pernah tidur. Sejumlah pertemuan dan kerja sama dibangun. Kali ini ke Tiongkok," ujarnya, dikutip dari Antara.

Dalam kunjungannya ke Tiongkok, Wamendag berkesempatan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan pelaku usaha sawit dan produk turunannya di RRT dalam rangkaian Business Meeting-Palm Oil dengan tema "Indonesian Green Palm Oil for Food and Energy".

Kegiatan ini dibangun atas kerja sama antara Kemendag, Konsulat Jenderal RI Shanghai, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kata Pradnyawati. Sekitar 30 peserta hadir dalam kegiatan tersebut dan dihadiri para pelaku usaha industri turunan kelapa sawit, asosiasi industri oleochemical, perwakilan pemerintah, dan badan promosi perdagangan setempat, tambah Pradnyawati.

Pada kesempatan ini, Wamendag bertemu dengan Chairman of China Cleaning Industry Association (CCIA), Zhen Wuhong, untuk membahas potensi kerja sama kelapa sawit, serta memperluas pemasaran kelapa sawit Indonesia untuk industri turunan sawit di RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Di Shanghai, Wamendag juga berkunjung ke pabrik Wilmar International.

Perluas Pasar Rangkaian kegiatan diakhiri dengan meresmikan House of Indonesia. Acara yang akan dibuka pada 19 September 2014 ini ingin menunjukkan pada konsumen RRT pentingnya produk furnitur berbahan baku legal dan bukan selundupan.

“House of Indonesia ini dicetuskan dengan tujuan memperluas pasar produk Indonesia ke RRT, khususnya produk bahan baku rotan yang memenuhi mutu dan persyaratan,” ujar Wamendag Bayu Krisnamurthi.

Sejumlah negara ASEAN terlibat dalam kampanye antipenyelundupan rotan ini, seperti Malaysia dan Thailand. Kedua negara ini juga sudah memiliki area promosi produk mereka di RRT. House of Indonesia, seluas 500 m2 berdiri dengan mengambil nuansa Bali dan terletak di Shanghai Red Star Macalline Furniture Mall Plaza. Ini adalah mall terbesar yang khusus mempromosikan produk furnitur di Shanghai.

RRT merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang ada di urutan pertama. Sementara bagi RRT, Indonesia merupakan negara pemasok yang berada pada urutan ke-15, setelah Korea, Jepang, Tiongkok Taipei, Amerika Serikat, Australia, Jerman, Malaysia, Swiss, Brasil, Arab Saudi, Afrika Selatan, Rusia, Thailand, dan Angola.

Hubungan perdagangan ASEAN-RRT pada periode 2009-2013 memiliki tren pertumbuhan 16,03 persen . RRT menjadi mitra dagang penting bagi ASEAN. Pada tahun 2013 total perdagangan ASEAN-RRT mencapai 199,4 miliar dolar AS atau meningkat 1,83 persen dibandingkan tahun 2012.

Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jendral Berbasis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Setio Hadi menyebutkan baru 30% dari seluruh sektor industri yang siap bersaing menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Sementara sisanya, mayoritas dari sektor industri nasional, belum sanggup menghadapi pelaksanaan pasar bebas regional tersebut. "Kami memperkirakan hanya 30% yang mampu bersaing di pasar bebas ASEAN, sisanya belum sanggup," kata dia di Jakarta, pekan lalu.

Ia mengatakan kinerja sektor industri melambat sebab sebagian besar bahan baku masih bergantung impor. Ketergantungan impor tersebut membuat kinerja ekonomi sulit dipacu, sehingga pemerintahan mendatang diharapkan meningkatkan pembangunan industri hulu di dalam negeri, katanya menjelaskan. "Seperti bahan baku besi baja untuk industri logam masih bergantung dari impor, begitu juga dengan bahan baku Petrokimia dan permesinan untuk tekstil," katanya.

Menurut dia impor bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah. Pemerintahan mendatang, menurutnya, harus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar. Ia mengatakan tren sumbangan industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terus menurun sejak 2004. Pada 2013 sektor industri menyumbang 23 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). "Tahun ini diharapkan tumbuh enam hingga delapan persen dengan meningkatkan kinerja industri," tambahnya.

Related posts